Kala Pegiat Literasi Berbagi Inspirasi Lewat Foto dan Video

820 820 Zulkifli Songyanan

Dalam rangka peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) 2020, Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Dit. PMPK Kemendikbud) menggelar Talkshow Pameran Foto dan Parade Video pada Selasa (1/9/2020).

Bekerjasama dengan Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM), kegiatan yang digelar secara virtual via Zoom tersebut mengambil tema “6 Kemampuan Literasi Dasar sebagai Kecakapan Abad 21”.

Berdasarkan rumusan World Economy Forum, yang tergolong ke dalam Kemampuan Literasi Dasar adalah Literasi Baca Tulis, Literasi Numerasi, Literasi Sains, Literasi Digital, Literasi Finansial, serta Literasi Budaya & Kewargaan.

“Selain 6 Kemampuan Literasi Dasar, sekarang kita juga perlu membekali diri dengan 4C, yakni Critical Thingking, Collaborative, Creative, dan Communicative,” terang Dr. Subi Sudarto, Koordinator Fungsi Kesetaraan Dit. PMPK Kemendikbud.

Selama dua jam, para peserta talkshow disuguhi empat foto dan satu video karya pegiat literasi se-Indonesia, yakni Nina Karina Ratudilak (Papua), I Putu Ari Irawan (Bali), Taman Baca Baraoi (Kalimantan Tengah), SKB Jepara (Jawa Tengah), serta PKBM As-Solahiyah Karawang (Jawa Barat).

Nina Karina menjelaskan, fotonya (tanpa judul) yang mengambil objek berupa suasana belajar di tengah hutan—dengan satu perempuan dewasa menyandang noken di kepala dan dua anak kecil, perempuan dan laki, memperhatikan papan tulis hitam—diambil secara tak sengaja saat ia dan anak didiknya memutuskan belajar di pinggir sungai.

“Dari sisi kebijakan Dit. PMPK, foto ini relevan dengan program keaksaraan untuk Komunitas Adat Terpencil (KAT),” kata Subi Sudarto.

Ia menjelaskan, pemerintah telah memetakan sejumlah wilayah yang tergolong wilayah buta aksara dan—mohon maaf—Papua termasuk salah satunya. “Sebab itulah foto ini menginspirasi sebab menggambarkan minat anak untuk membaca dunia lewat baca-tulis,” sambung Subi.

Selain semangat untuk belajar, lanjut Subi, foto tersebut juga mencerminkan adanya sinergi atau kolaborasi antara relawan—Nina berasal dari Sulawesi—dengan KAT dan program pemerintah. Subi berharap apa yang dilakukan Nina di Papua, di samping mengembangkan kecakapan keaksaraan dasar, juga dapat meningkatkan kecakapan keaksaraan lanjutan KAT melalui keaksaraan usaha mandiri dan multi-keaksaraan.

Sedangkan terkait foto “Motivasiku di Masa Pandemi” karya I Putu Ari Irawan—foto yang menggambarkan seorang anak tengah membaca sambil berbaring beralaskan karung—Subi menyebut pesan yang terkandung di dalamnya sangat dahsyat, yakni hasrat belajar dalam kondisi apa pun.

“Belajar tidak hanya di sekolah, tapi juga bisa dilakukan di kebun, di luar (kelas), termasuk di Zoom seperti sekarang. Melihat semangat dan motivasinya, foto ini sangat luar biasa. Maknanya: belajar tak mengenal ruang dan waktu, dapat dilakukan di mana pun, bersama siapa pun.”

Foto ketiga yang dipamerkan dalam kegiatan ini adalah “Kujagamu” kiriman Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Jepara. Perwakilan lembaga tersebut, Dian, menjelaskan bahwa foto yang ia unggah dimaksudkan untuk, salah satunya, mengenalkan literasi budaya yang dalam hal ini menyaran pada wayang rumput sebagai salah satu produk budaya Jawa.

“Foto diambil di wilayah Kampung Literasi, Jepara, saat sekelompok anak sedang memainkan wayang rumput. Wayang bermacam-macam jenisnya, ada yang dari kayu, kulit, dan dalam foto ini dari rumput,” kata Dian.

Ia menegaskan, judul “Menjagamu” pada foto tersebut dimaknai sebagai upaya menjaga budaya yang hampir punah di satu sisi, dan di sisi lainnya menunjukkan cara melatih anak-anak memahami alur cerita wayang.

“Foto tersebut menjadi motivasi bagi pendidik agar turut serta menjaga kebudayaan Indonesia,” komentar Tabran, perwakilan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Amalia Atthohir, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Terkait “Menjagamu”, Subi berpendapat, ada pesan transfer pengetahuan/kebudayaan dalam foto tersebut. Kehadiran sosok orang tua di antara anak-anak bisa dimaknai sebagai upaya mewariskan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebab itulah Subi berharap, selain wayang rumput, tradisi seni ukir yang menjadi ciri khas Kabupaten Jepara juga dapat diwariskan kepada anak-anak muda.

“Menjaga budaya bukan hanya tugas pendidik, tapi juga keluarga. Kita sebagai guru sekaligus orang tua dilibatkan untuk menjaga budaya agar tidak punah lewat literasi dan cara-cara lainnya,” komentar Theresia Salvator, seorang peserta.

Foto terakhir yang ditampilkan penyelenggara berjudul “Jari Matika”, kiriman Taman Baca Baraoi. Dengan objek berupa anak-anak dan seorang perempuan sedang belajar mengajar, foto tersebut menggambarkan peran pekerja sosial (social worker) dalam memperkenalkan literasi kepada masyarakat sekaligus menunjukkan semangat anak yang tidak berhenti bertanya ketika berhadapan dengan hal-hal yang tidak diketahuinya.

Talkshow Pameran Foto dan Parade Video HAI 2020 hari pertama diikuti 300 lebih peserta. Selain lewat Zoom, kegiatan tersebut juga disiarkan langsung via kanal YouTube Donasi Buku.

Adapun video yang diputar pada kegiatan tersebut adalah “Lawan Covid-19” karya PKBM Assolahiyah, Karawang. “Selain mengampanyekan 6 kompetensi dasar literasi, lewat video ini kami juga ingin menunjukkan bahwa daripada menunggu bantuan, teman-teman PKBM ini bergerak dengan membuat masker yang didistribusikan di Karawang,” terang Heru Saleh, perwakilan PKBM As-Solahiyah.

Terhadap video tersebut, Subi berpendapat bahwa mengembangkan kecakapan literasi adalah hal mutlak, apalagi dalam situasi seperti sekarang. “Bagaimana berkarya di tengah pandemi, mari kembangkan literasi kecakapan hidup/life skill sehingga PKMB kita mempunyai kekhasan, terutama dalam mengembangkan pemberdayaan (the empowerment) masyarakat,” katanya.

Gelaran Peringatan Hari Aksara Internasional 2020 dilangsungkan selama sepekan, terhitung sejak tanggal 1 hingga 7 September. Selain Talkshow Pameran Foto dan Parade Video, kegiatan lain yang dilaksanakan Dit. PMPK dan FTMB ini adalah lokalatih (workshop) pengelolaan TBM serta Seminar Daring Pendidikan/Pembelajaran.

Informasi lengkap dapat diakses di laman festivalliterasiindonesia.com.

Zulkifli Songyanan

Zulkifli Songyanan

Reporter buruan.co. Menulis puisi dan esai. Kumpulan puisi pertamanya "Kartu Pos dari Banda Neira" (Penerbit Gambang, 2017).

All stories by:Zulkifli Songyanan
Zulkifli Songyanan

Zulkifli Songyanan

Reporter buruan.co. Menulis puisi dan esai. Kumpulan puisi pertamanya "Kartu Pos dari Banda Neira" (Penerbit Gambang, 2017).

All stories by:Zulkifli Songyanan
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.