Jilly

820 820 Nadia Efanali

Bukankah aneh rasanya bila seluruh warga di desamu terlihat biasa saja padahal salah satu di antara warganya ada yang baru saja meninggal dunia?

Ya, orang-orang di desaku begitu. Billy, kakakku baru saja meninggal dunia. Dan mereka terlihat biasa saja, bahkan tidak peduli. Tentu saja kedua orangtua kami juga seperti itu. Ketika kuberitahu kalau Billy meninggal, mereka hanya mengelus kepala sambil menatapku prihatin, tak lupa dengan mengucapkan mudah-mudahan Billy tenang bersama Tuhan atau kami turut berduka cita. Sudah, itu saja. Tidak ada satupun yang mau melayat jenazahnya.

Maka dari itu, sejak kematian Billy, tidak henti-hentinya aku melayangkan sebuah—bahkan beberapa—protes tentang ketidakpedulian mereka terhadap Billy. Billy yang malang. Ketika masih hidup dirinya dipuja-puji. Lain ceritanya saat dia sudah tiada. Orang-orang jadi lupa kalau Billy pernah ada. Apakah seiring berjalannya waktu, simpati dan empati orang-orang mulai menghilang? Gila memang kalau benar!

Harga yang kudapat dari apa yang kulakukan tersebut adalah dijauhi bahkan tidak dianggap ada oleh semua penduduk desa. Semua. Termasuk mama dan papa. Mama sudah tidak lagi membangunkanku untuk pergi sekolah. Bahkan tidak lagi ngedumel tiap kali aku mengejek masakannya. Sedangkan papa, dia hanya diam saja ketika aku mengganggunya. Biasanya dia akan pura-pura marah kalau aku begitu. Tapi sekarang, mereka berdua mengabaikanku.

Orang-orang di desa pun tidak lagi menyapa atau bahkan membalas sapaanku. Tiap kali aku lewat, pandangan mereka lurus ke depan, seolah-olah aku adalah makhluk yang tidak kasatmata. Padahal biasanya mereka tidak begitu.

Di sekolah pun juga sama saja. Tidak menganggapku ada. Teman-teman, guru, ibu-ibu tata usaha, mbak-mbak kantin, dan semua penghuni sekolah yang lain tidak menghiraukan keberadaanku. Pernah sekali waktu, saat kegiatan belajar mengajar tengah berlangsung, aku tiba-tiba pergi ke toilet tanpa izin terlebih dahulu. Biasanya aku ditegur, kemudian disoraki oleh semua teman sekelas. Kali ini, tidak demikian.

Hari demi hari berlalu, matahari terus terbit dan tenggelam sesuai jadwal. Hingga tidak terasa sebulan sudah berlalu, dan tidak ada yang berubah. Orang-orang sudah melupakan Billy dan mengabaikan keberadaanku. Tidak ada lagi menyapa bahkan membalas sapaanku. Pun tidak ada yang mau diajak ngobrol bersamaku. Meski sedih, tapi kupikir ada untungnya juga. Aku tidak usah repot-repot berbicara dengan mama dan papa, menyapa semua penduduk desa, bahkan tidak ada yang marah kalau aku bolos sekolah. Memang benar ya, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Tergantung seperti apa kita melihatnya.

Hari ini aku bolos sekolah lagi. Lengkap dengan seragam putih abu-abu, kuputuskan untuk pergi ke sungai kali ini. Bermain air sepuasnya.

Di tepi sungai, kulihat seorang lelaki berpakaian rapi; memakai kemeja putih dengan dasi kupu-kupu berwarna merah dan jas hitam. Rambutnya disisir rapi ke pinggir. Dan dia lumayan ganteng. Bibirnya merah, matanya besar dan hitam, hidungnya mancung. Kira-kira umurnya sama sepertiku, 18 tahun. Untuk pertama kalinya, aku merasa jatuh cinta. Pelan-pelan dia kudekati. Dan ketika sudah berada di sampingnya, kusapa langsung.

“Hai, aku Jilly!”

“Aku Willy!” Balasnya dengan senyum termanis yang pernah kulihat.

Dari perkenalan singkat tersebut, kami mulai membicarakan banyak hal. Tapi tetap, aku yang lebih banyak bicara. Membicarakan apa saja yang kualami selama ini. Ia mendengarkan, khidmat sekali.

Kami larut dalam perbincangan, sampai lupa kalau senja sudah tiba. Menemani matahari yang hampir tenggelam. Baru saja aku hendak pamit, Willy buka suara. “Mau menikah denganku?” Tanyanya.

Tentu aku senang sekali ditanya begitu. Lagi pula, kupikir menikah bukanlah ide yang buruk. Aku kesepian. Dan kami sudah kelas 3 SMA akhir. Hampir lulus. Tidak ada yang salah bukan kalau kami menikah?

Kemudian aku mengangguk sebagai jawaban dan mengajaknya pulang. Meminta restu orang tua. Tak peduli jika akhirnya aku tetap diabaikan. Setidaknya kali ini, aku punya Willy.

Di rumah, mama dan papa sudah pulang. Mereka berdua sedang duduk di sofa. Melepas penat setelah seharian bekerja. Tanpa ragu, aku dan Willy berdiri di hadapan mereka. “Kami ingin menikah,” kataku.

Mama tiba-tiba berdiri. Terlihat marah. Kalap, mama menampar pipiku keras sekali. Tak lama kemudian semua gelap. Hal terakhir yang kuingat sebelum benar-benar tak sadarkan diri adalah ucapan mama.

“Sadarlah Jilly! Pertama Billy, sekarang Willy?! Mereka itu hanyalah boneka!”

*

Bukankah aneh rasanya bila seluruh warga di desamu terlihat biasa saja padahal salah satu di antara warganya ada yang baru saja meninggal dunia?[]

Nadia Efanali

Nadia Efanali

@nadiaefnl, nama akun Instagram Nadia Efanali. Manusia bumi yang ingin menjadi penulis. Masih serumah bareng orangtua, di Bandung.

All stories by:Nadia Efanali
Leave a Reply

Nadia Efanali

Nadia Efanali

@nadiaefnl, nama akun Instagram Nadia Efanali. Manusia bumi yang ingin menjadi penulis. Masih serumah bareng orangtua, di Bandung.

All stories by:Nadia Efanali
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.