Jeda untuk Berpikir

820 821 Rizka Laily Mualifa

Dea lebih dulu dikenal sebagai penulis fiksi. Buku pertamanya (sebenarnya buku kedua) yang berjumpa khalayak ialah kumpulan puisi Misa Arwah (Indie Book Corner, 2015). Setahun kemudian menyusul kumpulan cerpennya berjudul Bakat Menggonggong yang diterbitkan Buku Mojok.

Soal karya Dea dalam sastra, banyak yang memuji. Ronny Agustinus—penerjemah  sekaligus dedengkot Marjin Kiri—sekali-dua ucap menyebut Dea Anugrah sebagai salah satu penulis pilih tanding. Kata Ronny di Balai Soedjatmoko, Solo, pada 2018 silam, ia berkawan baik dengan Dea dan selalu menyukai tulisan-tulisannya. Fahri Salam, rekan kerjanya di Tirto.id mengatakan hal serupa. Tulisan-tulisan Dea ialah satu contoh spesimen supaya kita tak gusar soal masa depan sastra Indonesia.

Awal 2019 Dea memberi kejutan. Buku non-fiksi pertamanya, Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya diterbitkan oleh Buku Mojok. Sabda Armandio (Dio) menodong Dea dengan “ancaman separuh ledekan” sebab tak lekas menyelesaikan novel yang telah bertahun-tahun mangkrak di laptopnya. Lalu bagaimana dengan kualitas Dea dalam buku non-fiksi?

Dalam buku non-fiksinya, Dea mirip sutradara Clint Eastwood yang seperti ia kutip dari Sam B. Girgus (2013). Saat sekian penulis sibuk menyodori pembaca dengan pelbagai nilai, tentang hidup, cinta, kompleksitas pengalaman, dan masyarakat. Dea ialah antitesis yang istimewa. Dua puluh tulisan yang terpacak dalam bukunya hampir-hampir tak pernah sibuk tampil sebagai penceramah yang merasa wajib menyodorkan nilai-nilai pada pembaca. Terbebas dari kerangkeng sempit itu, Dea ialah penulis yang gemar mengajak kau berpikir.

Di lain hal, Dea juga jadi mirip Rumpf alias Rumphius, pakar botani VOC yang meneliti dan menulis buku-buku penting tentang spesies tumbuh-tumbuhan di Kepulauan Maluku. Soal Rumpf sebagai seorang yang tak arogan sebab menyertakan mitos-mitos rakyat tentang pelbagai spesies tumbuhan yang diteliti dalam kegiatannya menyusun buku (hlm. 69). Seperti Rumpf, Dea pun memberi tempat kepada hal-hal di luar alam pikir dan pengetahuannya. Hal-hal di luar itu misalnya ingatan dan kenangan-kenangan tampak biasa tapi kerap kali sungguh berarti.

Dalam tulisan pembuka, Terbenam dalam Waktu yang Hilang, Dea mengisahkan keadaan terumbu karang di Pulau Biawak yang alami dan terjaga dengan mengisahkan kesusahan yang ia dan Arlian alami saat hendak berenang di laut. Ia menulis, di pantai-pantai di tempat asalmu, Kau hanya perlu berjalan sepuluh meter dari garis ombak buat menemukan perairan yang cukup dalam untuk berenang, sedangkan di Pulau Biawak cara itu berisiko merusak karang dan membuat kakimu lecet-lecet (hlm. 5). Lalu saat berada di ketinggian mercusuar dan ingin mengencingi pulau di bawahnya, dua puluh tahun sebelum kejadian itu ia punya pikiran serupa tapi tak sampai hati mengatakannya kepada Ibu yang menggandeng tanganmu (hlm. 7).

Komentarnya soal permintaan maaf pihak Gereja atas hukuman dan kekerasan yang pernah ditimpakan kepada Galileo Galilei dan Giordano Bruno sekalipun masuk akal, pastinya akan membuat kaum beriman dari pelbagai agama menimbang-nimbang seandainya hendak memutuskan menyetujui kebenaran sikap Dea. Umat agama mana –kecuali yang digolongkan sebagai abangan dan/atau yang tetap mendayafungsikan akalnya dalam kehidupan beragama–yang tak berang mendapati, …bahwa keyakinan, yang rambu-rambunya ditetapkan para wakil Tuhan di dunia, bisa salah. Dan setiap yang bisa salah semestinya tidak menghukum orang dengan cara merampas darinya hal-hal yang tak terkembalikan (hlm. 101).

Dalam Efek Proust, Dea lebih terampil lagi. Kau bakal demikian kesusahan memperkirakan sejatinya bagaimana sikap Dea berhadapan dengan sikap Nurul Hanafi yang lebih suka ia sebut sebagai Hartoyo. Terutama selepas Hartoyo membaca karya Marcel Proust yang disebut-sebut sebagai tantangan angker pembaca sastra di segala lipatan dunia, In Search of Lost Time. Hartoyo kehilangan kenikmatan terhadap prosa sebab novel itu. Kesenangan yang dengan mudah berbalik arus jadi frustasi. Dea menutup tulisannya dengan sebuah paragraf yang perlu kau kutip lurus.

“Aku merasa kebanyakan cerpen Indonesia, terutama yang dimuat koran-koran Minggu, lebih mirip ringkasan ketimbang cerita. Ada banyak adegan atau peristiwa yang menarik seandainya diuraikan lebih jauh. Secara analitis, begitu. Proust itu analitis sekali, mungkin tidak ada satu penulis pun di dunia ini yang mengalahkan dia dalam hal itu. ”

Haryoto melamun setelah berkata demikian. Wajahnya dihadapkan, mungkin tanpa sadar, ke arah pintu yang terbuka. Saya menyalakan rokok dan tidak ikut-ikutan melihat ke arah tersebut. Di luar cuma ada gelap (hlm. 11).

Judul buku yang diambil dari salah satu judul tulisan menjadi representasi yang sungguh kuat bagi keseluruhan tulisan yang terpacak. Dea tampaknya menyukai kenahasan-kenahasan yang menimpa hidup sekian manusia, yang mereka jalani dengan lema hidup “bertahan meskipun tahu akhirnya akan sia-sia”. Hemingway, Salvador yang tak pernah dicintai ayah dan ibunya, Rumpf orang buta yang berpandangan jauh, Abah Rosidi, orang-orang Istanbul pengidap melankolia kolektif, buruh-buruh perkebunan pisang dunia yang malang, anak-anak di daerah perang, dan kemudian dirinya sendiri. Sekian kenahasan memang berhasil menghancurkan manusia-manusia itu, tapi gagal mengalahkannya. Tsah![]

Keterangan Buku
Judul:  Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya
Penulis: Dea Anugrah
Tahun: 2019
Penerbit: Buku Mojok
Tebal: vi + 181 halaman
ISBN: 978-602-1318-81-2

 

Rizka Laily Mualifa

Rizka Laily Mualifa

Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu "Menghidupi Kematian" (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Solopos, Kedaulatan Rakyat, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lainnya.

All stories by:Rizka Laily Mualifa
Leave a Reply

Rizka Laily Mualifa

Rizka Laily Mualifa

Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu "Menghidupi Kematian" (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Solopos, Kedaulatan Rakyat, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lainnya.

All stories by:Rizka Laily Mualifa
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.