Jalan Menuju Weda

820 510 Yopi Setia Umbara

Saya tiba di Pelabuhan Sofifi pada hari Minggu (15/1/2017) sekira pukul 13.00 Waktu Indonesia Timur (WIT) setelah menyeberang dari Pelabuhan Bastiong di Ternate pada sekira pukul 11.30 WIT. Pelabuhan Sofifi terletak di Pulau Halmahera, sedangkan Pelabuhan Bastiong di Pulau Ternate. Kedua pulau tersebut merupakan bagian dari wilayah Provinsi Maluku Utara.

Sopir-sopir mobil pangkalan menyambut para penumpang yang turun dari KMP Port Link. Mayoritas dari sopir-sopir itu berbadan tegap, berkulit gelap, berambut keriting, dan bersuara lantang. Kesan pertama itu tentu membuat orang baru dari Jawa akan merasa sedikit seram.

Salah seorang dari mereka menghampiri dan menawarkan jasa antar ketika saya masih berjalan di dermaga, seperti penumpang-penumpang lainnya, “Tobelo, mas? Mari sama saya.”

Saya menggelengkan kepala, tanda bukan tujuan saya. Ia pun lantas pergi mencari penumpang lain. Ia tak terus-terusan mengejar saya seperti kebiasaan calo-calo di beberapa Terminal di Jawa.

Kebetulan saya sudah dipesankan mobil pangkalan oleh kenalan saya orang Weda, Halmahera Tengah, kota yang saya tuju. Saya menuju mobil yang sudah dipesan. Sopir memasukkan bagasi saya ke bagian belakang Toyota Avanza miliknya.

Saya menunggu di dekat mobil, di bawah teduh pohon. Teduh pohon di Sofifi siang itu merupakan kenikmatan tiada tara sebab terik matahari di sini bisa mencapai 34 derajat celcius. Saya menunggu, karena sebelum mobil pangkalan penuh penumpang, mobil tak akan berangkat.

Ketika menunggu, kembali ada sopir lain menawarkan jasa antarnya kepada saya. “Weda?” katanya kepada saya dengan suaranya yang agak serak berlogat khas orang timur Indonesia. Saya bilang saya sudah dapat mobil. Saya menunjuk Avanza Putih yang kap mesinnya dilapis stiker scotlight warna hitam, sambil menanyakan nama sopir mobil tersebut padanya. Ia menjawab, “Oh, Sion punya.” Lantas ia berlalu mencari penumpang lain.

Lima belas menit kurang lebih saya menunggu, Bang Sion datang dan mengajak saya berangkat. Saya duduk di jok depan, di samping Bang Sion. Di deret belakang ada tambahan dua penumpang. Dan satu lagi penumpang di deret paling belakang. Sebenarnya deret paling belakang bisa muat satu penumpang lagi kalau saja tidak dipakai jadi tempat bagasi.

Jalan menuju Weda berada di tepi selatan Pulau Halmahera bagian tengah. Dari atas mobil yang meluncur deras, saya dapat melihat jarak antara jalan dan laut barangkali hanya satu atau dua kilo. Bahkan di beberapa ruas, kurang dari satu 100 meter saja ke bibir pantai.

Di tengah perjalanan, di daerah Loleo yang masih termasuk wilayah Kabupaten Tidore, kita dapat melihat pemandangan Gunung Gamalama di Ternate dari seberang lautan dengan sangat sempurna. Sungguh pemandangan yang menakjubkan.

Selama perjalanan kami melintasi jalanan berkelok-kelok menembus perbukitan dan tebing-tebing tinggi. Meski kecil, jalan raya yang dilewati bisa dikatakan sangat mulus.Di sisi kiri dan kanan jalan berjejer pohon-pohon kelapa tinggi menjulang. Daun-daunnya yang tertiup angin mengingatkan pada lagu “Nyiur Melambai”.

Volume kendaraan yang melintas antara Sofifi dan Weda sangatlah jarang. Bahkan saya menduga, kendaraan yang melaju ke arah Weda atau sebaliknya didominasi oleh mobil pangkalan. Ketika kami melintas, ada dua truk tronton yang mengangkut beton. Saking sepinya, kendaraan besar pun diijinkan melintas.

Mobil yang digunakan menjadi mobil pangkalan kebanyakan adalah Toyota Avanza, Innova, dan Agya/Ayla. Ongkosnya rata-rata Rp 120.000-125.000. Orang Halmahera menyebut mobil dengan ‘otto’.

Di jalan raya Sofifi-Weda, selain kendaraan bermotor, banyak sapi dan kambing yang dibiarkan mencari pakan secara liar oleh pemiliknya. Sapi dan kambing tak jarang menyeberangi jalan tanpa menengok kanan-kiri. Tentu saja ini sangat berbahaya.

“Bang, pernah ada kejadian kambing tertabrak gak?” tanya saya kepada Bang Sion yang telaten mengemudi.

“Sering. Apalagi kalau malam. Kambingnya suka tidur-tidur di aspal.” Bang Sion menjelaskan.

Tooot! “Hei!” Tiba-tiba Bang Sion memencet klakson, membuka jendela, dan meneriaki pengendara motor yang mengendarai motornya terlalu ke tengah jalan.

“Di sini harus begitu. Kalau tidak hati-hati bisa mati!” Katanya, kesal dengan pengendara yang asal-asalan menumpangi sepeda motornya itu.

Saya melihat jam tangan, sudah menunjuk hampir pukul setengah tiga Waktu Indonesia Timur. Kami masih berada di Jalan Trans Halmahera yang sepi. Menembus pegunungan antara Kabupaten Tidore dan Halmahera Tengah.

“Masih jauh, Bang?”

Bang Sion menerka-nerka jarak dan waktu tempuh, “Lebih kurang 18-22 kilo lagi. Setengah jam lagi lah.”

Tepat sekali hitungan Bang Sion yang mengemudikan ottonya dengan kecepatan rata-rata 60-80 km/jam itu. Saat tiba di gerbang kota Weda, waktu menunjukkan sekira pukul tiga waktu setempat.[]

Yopi Setia Umbara

Yopi Setia Umbara

Pendiri Buruan.co. Menulis puisi, esai, dan naskah drama. Buku kumpulan puisi pertamanya "Mengukur Jalan, Mengulur Waktu" (2015).

All stories by:Yopi Setia Umbara
1 comment
Leave a Reply

Yopi Setia Umbara

Yopi Setia Umbara

Pendiri Buruan.co. Menulis puisi, esai, dan naskah drama. Buku kumpulan puisi pertamanya "Mengukur Jalan, Mengulur Waktu" (2015).

All stories by:Yopi Setia Umbara
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.