MENU

3 Maret 2017 Catatan

Intomedia: Mengolah Jarak Manusia dan Teknologi

ADM

Di Galeri Soemardja, mulai Rabu (28/2/2017) sebuah pameran seni ekperimental bertajuk “Intomedia” digelar. Dalam pembukaannya, kurator Bob Edrian mengatakan, pameran ini adalah upaya memahami kembali apa itu seni media. Lebih jauh, saya sebagai manusia, melihat bagaimana posisi saya kemudian menyikapi seni media, atau kreasi teknologi yang menghasilkan karya seni tersebut. Bukankah seni kemudian lahir dari manusia dan untuk manusia semacam saya? Meskipun terkadang fungsinya bagi manusia bisa beragam.

Pertama memasuki galeri, kita akan mendengar sebuah dengung. Satu bentuk kebisingan yang konstan dan mendominasi ruangan. Bunyi itu entah berasal dari mana. Suara lain hadir dari sekumpulan proyektor analog yang menghasilkan satu bentuk seni visual, sungguh menyita perhatian. Selain aktaktif, karya tersebut menghasilkan cahaya dominan di tengah kondisi galeri yang diatur gelap. Galeri dikondisikan gelap. Semacam upaya menghadirkan titik pijak dari kehadiran karya di dalam pameran tersebut. Kita bisa menamainya sebagai ruang kosong. Namun jika kita sedikit jeli, keadaan gelap tersebut sebenarnya adalah titik pijak memahami potensi karya-karya di dalam pameran ini.

Karya yang paling mendominasi secara visual itu berjudul Another 6 Feet of 16mm Filmstrip on Loop. Yakni tiga tayangan proyektor ditembakkan ke dinding secara beririsan, menghadirkan satu bentuk visual abstrak. Visual tersebut adalah komposisi warna yang dihasilkan dari satu manipulasi rol film. Rol yang terus berputar di dalam tiga proyektor, menembakkan tiga visual yang dipadu-padankan dalam satu komposisi. Dari sini saya diajak melihat satu proses dan hasil estetis dari proses tersebut.

Di samping karya tersebut ada satu karya yang mirip berjudul Everything Else is Moving Way Too Fast. Menggunakan dua tayangan proyektor, karya ini menghadirkan satu bentuk visual foto yang dapat kita identifikasi sebagai lanskap jalan, pohon-pohon, dan satu orang di dalamnya. Tayangan itu dihasilkan dari polaroid dengan gambar yang sama dan direduplikasi berulang. Keberulangan ini ditandai dengan pergerakan noda, cacat, dari rol film di setiap scene-nya.

Kesamaan di antara kedua karya Aditya H. Martodiharjo tersebut terletak pada prosesnya. Sementara perbedaannya terletak pada bentuk seni visual yang dihadirkan. Karya pertama bernada visual abstrak atau non representasional, sementara karya kedua menghadirkan satu acuan visual yang bisa dikejar pemaknaannya. Pertanyaan kemudian, potensi gagasan apa yang hadir dari proses penghadiran karya tersebut?

Lukisan abstrak selalu menawarkan komposisi warna dan bentuk. Karya pertama Aditya menawarkan komposisi warna dan bentuk yang bergerak atau dinamis. Gerak di dalam komposisi estetis ini merupakan peran media (proyektor). Sehingga dihasilkan satu komposisi artisik pita seluloid hasil reduplikasi cahaya proyektor. Ada peran listrik, cahaya, gerak mesin, dan lain sebagainya. Dari sini, “proses” dalam intomedia menjadi satu bentuk estetika, bagian dari seni visual yang dihasilkan. Saya melihat satu gagasan tentang dinamis itu statis. Unstruktural adalah struktural. Bentuk dan warna yang terus bergerak dinamis akhirnya menjadi satu komposisi yang berulang dan statis.

Gagasan itu pun nampak pada karya keduanya. Seni visual berupa lanskap statis dari suatu gerak dinamis. Gambar bergerak menghadirkan keberulangan konstan dari satu lanskap yang sama. Lanskap dari gambar bergerak itu jadi tidak bergerak, sebuah paradoks yang disengaja. Yang kemudian memperlihatkan gerak lain, yakni cacat dan noda pada seluloid berisi lanskap tersebut. Satu seluloid dengan seluloid lain memiliki cacat dan noda yang berbeda, yang identik. Karya ini semakin memperkuat posisi proses kerja proyektor dan pita seluloid dalam membangun manifestasi artistik sebuah karya.

Dua karya Aditya tersebut membawa saya pada satu desain idelogis. Sebuah interupsi baru tentang apa itu seni media. Kehadiran media (teknologi) menjadi satu proyek manifestasi artistik, yang kemudian mesti digali peran, potensi, dan fungsinya. Sebab teknologi yang dipilih adalah teknologi generasi awal (analog), maka terdapat pula satu kesadaran sejarah tentang proses kodifikasi peristiwa dalam satu sel seluloid, foto, film, yang kemudian banyak diolah menjadi suatu seni visual.

RR

Seniman kedua adalah Riar Rizaldi, mempresentasikan tiga karya yang mengeksplorasi layar digital dan kamera handycam. Selain penggunaan generasi teknologi terkini, Riar pun seolah sadar kehadiran teknologi tersebut kini memang tidak hanya digunakan oleh profesional, tetapi juga oleh publik. Logis kiranya jika karyanya memiliki sifat interaktif, pelibatan audiens dalam karyanya seolah hendak meredefinisi habitat audiens terhadap teknologi keseharian mereka.

Semua karyanya diberi judul Signal #2 dengan kode karya tertentu. Melihat komponen teknologi yang digunakan pada semua karyanya, saya melihat satu bentuk eksplorasi yang akhirnya menciptakan banyak bentuk gagasan teknologi. Nampak pula mutasi estetik dari pendekatan bentuk yang berbeda hasil eksplorasinya, terutama yang melibatkan audiens dalam karyanya.

Misal pada karnyanya yang paling menyita aural audiens, yakni Signal #2: 00110010. Karya tersebut menghadirkan sebuah Layar LCD terlentang yang di atasnya terdapat handycam terhubung dan mengarah ke layar tersebut. Alat perekam itu diberi plastik mika merah pada lensanya, sehingga layar menampilkan satu rekaman dengan dominasi warna merah. Namun warna merah itu terkadang berubah, diberi distorsi  sehingga menghadirkan warna  lain. Sebuah speaker dengan kondisi bunyi gaduh ada di samping layar tersebut.

Menjadi menarik ketika audiens mengarahkan jarinya ke arah lensa kamera, serta merta rekaman jari audiens itu hadir di layar dengan posisi yang bernegasi, seperti bentuk anomali dalam hukum pencerminan. Suara sound system di sampingnya pun tetiba terganggu. Saya jadi teringat ungkapan Lacan, seorang filsuf psikologi, bahkan bayangan kita di hadapan cermin adalah hal di luar diri kita (the other) yang akhirnya memaknai diri kita. Mencoba berinteraksi dengan karya ini, saya merekam jemari saya pada layar LCD, sekaligus kehilangan sudut pandang (kendali posisi) pada posisi jemari saya. Saya jadi teringat foto-foto yang saya unggah di dunia internet yang tentu saja telah bukan lagi milik saya (konsumsi publik) bahkan telah lebih canggih memaknai diri saya (pikiran saya sendiri).

Pada karya lain dengan judul Signal #2: 00110001, layar dibuat terbalik. Hingga akhirnya kita mesti mengintip layar besar itu hanya dari pantulan cermin kecil yang disimpan di lantai. Kita dapat merekam tangan kita melalui kamera, tetapi kemudian kita terganggu oleh layar terbalik, yang tak langsung menghadirkan rekaman jari kita. Kita diberi intipan melalui cermin di bawahnya, seperti godaan atas iman rasional dan realitas kita. Audiens yang tak cukup kuat iman realitasnya akan nungging melihat layar dari bawah, sementara tanpa itu semua  ia tentu mampu melihat jemarinya secara langsung.

Terakhir adalah Signal #2: 00110100, bentuk karya serupa, hanya saja kehadiran manusia, atau interaksi audiens dalam karya dimatikan. Dalam karya ini peran handycam digantikan oleh kamera dengan pengaturan otomatis: memotret menggunakan blitz ke arah layar. Sementara layar itu sendiri menampilkan hasil foto kamera tersebut. Karya ini seperti menawar realitas. Realitas lampu blitz yang sebenarnya kita lihat, yang memantul pada layar LCD (sebagai kaca yang memantul cahaya), dihadirkan dalam layar LCD (sebagai piranti elektronik yang menghasilkan gambar). Kita jadi melihat peristiwa dan rekaman peristiwa yang saling menguatkan, menggugat, dan mengasingkan.

Saya jadi teringat cermin dan figur saya di dalamnya. Satu sisi cermin itu membantu saya melihat diri saya, tetapi juga saat itu ia menjadi hal yang membuat saya merasa perlu membenarkan rambut, memeriksa jerawat, dan memiliki kekecewaan. Dari sana saya merasa pemaknaan atas diri saya telah digugat oleh diri saya sendiri di dalam cermin. Atau ini cukup membuktikan, bayangan cermin kita itu sejatinya bukan kita lagi. Dampak kemudian adalah perasaan terasing, sehingga pada taraf tertentu, saya jadi berangkat ke  tukang cukur, tukang pembersih wajah, dan mandi.

Tiga karya Riar tersebut mengolah jarak di dalam entitas realitas yang tercipta kemudian karena teknologi. Kita selalu menganggap teknologi mampu menghapus jarak ruang, waktu, dan menciptakan makna baru. Tetapi teknologi yang dibuat untuk mengkonkretkan pikiran manusia itu, akhirnya juga memiliki batas. Entah itu batas ruang, waktu, dan fungsinya.  Makna yang kemudian dilahirkan meskipun meniru realitas, tetap bukan realitas. Meskipun menghadirkan dinamika, tetaplah statis. Meskipun menawar pemaknaan, tetaplah pikiran manusia/otak manusia yang kemudian menghasilkan pemaknaan.

Tetapi pameran ini menegaskan teknologi melalui presentasi fungsi spesifik teknologi itu sendiri. Menunjukan secara banal, bahwa banyak dari kita yang telah terlalu percaya pada teknologi dan lupa pada pikiran kita.  Menunjukan secara banal, bahwa banyak dari diri kita yang hanyut menjadi teknologi, data, menjadi bayangan di dalam cermin, dan berlari, ke tukang cukur, ke toko, ke Mall, ke dunia maya.

Intomedia
Aditya H. Martodiharjo
Riar Rizaldi
Kurator: Bob Edrian
Penulis: Anis Annisa Maryam
Tempat Galeri Soemardja ITB
Pembukaan 28 Februari 2017
Screening & Performance 1 Maret 2017
Artist Talk 2 Maret 2017
Penutupan 3 Maret 2017

Silakan BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Silakan Berkomentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>