MENU

17 Mei 2017 Catatan

Ineu Rahmawati: Kisah Pendidik Anak-anak Buruh Migran

ineu

Di rumahnya hanya ada tempe untuk teman makan, tapi yang membuatnya lapar bukan soal isi perut, melainkan lapar akan ilmu-ilmu dan pendidikan yang menurutnya harus diperjuangkan. Meski dalam kondisi yang kurang mapan, Ineu Rahmawati tetap mampu menamatkan gelar sarjana dari Politeknik Negeri Jakarta, dan baru saja meraih gelar magister dari Universitas Pertahanan.

Sang Ibu, Suryani, menjadi inspirasi. Ineu menyebutnya Kartini yang masih hidup dan tabah membimbingnya dengan memberi banyak pelajaran pada hidup yang berdegup. “Selain karena beliau melahirkan aku, sejak jaman aku SMP Ayah sudah tidak bekerja lagi, Ibu jadi tulang punggung keluarga sampe sekarang. Meskipun demikian, ia sangat ngajeujeuhkeun anaknya untuk menempuh pendidikan.”

Tak berhenti pada diri sendiri, pemahaman akan pentingnya pendidikan ia tularkan dengan semangat bergerak dalam berbagai kegiatan sosial. Ineu merupakan salah satu pendiri dan pembina Yayasan Volunteerism Teaching Indonesian Children (VITC). Sebuah Yayasan yang bergerak pada pendidikan anak-anak, khususnya anak Buruh Migran Indonesia (BMI).

Inspirasi bergerak dalam dunia pendidikan juga didapatkan dari Ibunya yang merupakan seorang guru sebuah Sekolah Dasar di Bogor. Ia menyebut sangat bahagia melihat ibunya tidak hanya bermanfaat bagi anak-anaknya, tetapi bermanfaat juga bagi anak-anak lain. Karena itulah, sejak kuliah, Ineu mulai “mewakafkan” diri pada dunia pendidikan. “Jadi aku udah jatuh cinta sama dunia pendidikan, bahkan pas jaman-jaman sekolah (kuliah di UNJ) itu aku ngajar, dan aku suka di dunia pendidikan itu walaupun basic-nya aku bukan kuliah di jurusan pendidikan.”

Lambat laun, mimpinya akan kemajuan Indonesia menggerakkan kakinya jauh ke Serawak, Malaysia, pada awal tahun 2012. Kunjungannya waktu itu banyak mengubah pikirannya terhadap dirinya sendiri.

“Sempet aku merasa kenapa aku kurang beruntung, kenapa lahir dari keluarga kurang mampu, jadi kenapa aku harus sekolah dengan beasiswa. Nah pas aku datang ke Malaysia, ternyata aku sadar setidak-beruntungnya aku ada yang lebih kurang beruntung dibandingkan aku, akses pendidikan yang sangat terbatas, jadi aku merasa mereka tuh harus mendapatkan pendidikan, karena mereka itu warga negara yang layak mendapatkan pendidikan di mana pun mereka berada.”

Tekadnya itulah yang menggerakan hatinya untuk mengabdi lewat VTIC bersama kawan-kawan lainnya. Hingga kini, melalui program VTIC Cycle yang telah berlansung hingga kali kelima, VTIC telah memberangkatkan sekitar 200 mahasiswa Indonesia untuk menjadi relawan pengajar anak-anak BMI selama satu bulan.

Sebagai perempuan, Ineu pun melihat kartini-kartini muda di Serawak dalam keadaan yang kurang menguntungkan. Nasib sebagai anak BMI yang dibawa orangtuanya merantau, anak perempuan di sana tak memiliki akses perempuan seluas dan setinggi seperti di Indonesia. “Setelah lulus sekolah (SD) biasanya mereka langsung dinikahin sama orangtua mereka karena posisi mereka tuh, pertama, sudah tidak ada pendidikan lagi setelah lulus SD, nah mau tidak mau mereka berada di rumah. Daripada di rumah kan mending dinikahin, gitu pikiran mereka, belum ada yang berpikiran untuk sekolah, misalnya memulangkan anaknya ke Indonesia,” cerita Ineu dengan sedih.

ineu-2

Ia tak diam melihat perempuan muda cemerlang di sana mendapatkan nasib sedemikian buruk. Ia memikirkan solusinya, salah satunya dengan mengadakan pendidikan bagi orang tua di sana. Ia sempat mengundang psikolog lulusan UI bernama Rini untuk memberika konseling dan pencerahan terhadap bahaya nikah muda dan pentingnya pendidikan bagi anak perempuan.

Ineu merasa dilahirkan sebagai perempuan pun sudah bersyukur, salah satunya karena percaya memiliki kepekaan hati yang tinggi sehingga mampu lebih peduli pada sesama.

Suatu hari, ia harus memulangkan anak-anak BMI dari Serawak lewat Kalimantan Utara. Karena anak itu illegal (visa dan passpornya sudah habis), maka ia pun harus memberanikan diri untuk menempuh perjalanan yang membahayakan secara administrasi internasional.

Tak hanya kisah mengharukan, ia pun terkadan mendapat sikap menyedihkan, merasa seperti dicela. Celaan itu seringkali ia dapatkan terkait program yang dikerjakan. Ia seringkali mendapatkan pertanyaan, kenapa perempuan harus susah-payah berjuang untuk orang lain, kenapa pendidikan  yang diperhatikan pendidikan anak BMI, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang menghujam.

“Wakil Rektor di sebuah kampus pernah bilang bahwa perjuangan saya ini payah, karena di tempat BMI itu masih banyak yang harus diperjuangkan. Saya jawab bahwa saya membantu apa yang saya lihat, daripada ngawang-ngawang,keluhnya.

“Meskipun demikian, ya aku akhirnya merasa bahwa hidup aku tuh beruntung banget bisa menempuh pendidikan tinggi tapi kenapa tidak aku berikan pada sesame, tidak seperti mereka yang ngedumel saja,” pungkas Ineu menyindir.

Di Indonesia, perempuan memang seringkali masih dibatasi kemajuannya dalam membantu menuntaskan permasalahan sosial hanya karena kerangka pikir yang terlalu kaku pada warisan primordial dan patrialistik. Padahal, Ineu salah satu perempuan milenial yang telah menunjukkan bahwa perempuan dapat banyak berkontribusi.

Meskipun demikian, Ineu tetap menganggap kodrat perempuan memang untuk patuh pada orangtua dan suaminya kelak. “Jadi gak ada tuh perempuan jadi pemimpin rumah tangga. Cuman dalam sekarang emansipasi wanita, dalam organisasi dan kepemimpinan bisa, namun dalam kehidupan pribadi saya rasa tidak. Jadi kesetaraan gender tergantung dari sisi mana yang kita lihat.”

Pada perempuan lain di Indoensia, Ineu berharap tiga hal. “Pertama, harus mendapatkan pendidikan dan memperjuangkan pendidikan mereka, karena sehebat-hebatnya perempuan adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya.

Kedua, perempuan itu harus memiliki wawasan yang open minded, tidak hanya mengkerucut pada satu fokus, karena menurut aku dengan begitu, dengan berawawasan luas, ketika anak-anaknya bertanya tentang ini tentang itu dia bisa menjawab. Selain itu, bisa beradaptasi dengan lingkungan dan membanggakan dan berguna untuk lingkungannya.

Ketiga, Perempuan harus memiliki keberanian untuk bergerak sendiri. walaupun kita tidak bisa terlepas dari orang lain, tapi kembali lagi, untuk menggapai mimpi yang kita mau kita harus tetap berani pada diri sendiri. Jadi, perempuan harus berani.”[]

Silakan BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Silakan Berkomentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>