Idayu, Galeng, dan Habib Palsu

820 820 Heri Maja Kelana

“Ampuni sahaya, Tuan Sayid. Jangan dekati sahaya, dan jangan masuk rumah sahaya.”
Syahbandar itu tertawa senang maju selangkah.
“Apa lagi yang kau tunggu-tunggu, Permata?”
“Suami sahaya, Tuan Sayid. Tidak lain dari suami sahaya.”
“Apa yang kau harapkan dari suamimu?”
“Tiada sesuatu, kecuali kasih dan sayangnya.”
“Kasihan. Kasih-sayang saja dia tak mampu berikan pada tubuh yang semolek ini….”

Nusantara menjadi saksi bisu kehebatan penguasa arus selatan hingga mampu menerjang kerajaan utara. Majapahit menjadi kekuasaan terbesar pada tahun 1350 – 1389 M, menguasai hampir seluruh bagian negara Indonesia saat ini hingga Singapura, Malaysia, dan beberapa negara ASEAN. Namun itu hanya kisah dongeng bagi masyarakat desa pada saat itu.

Kerajaan Majapahit hancur dikarenakan perang saudara yang terus-menerus. Mahapatih sakti mandraguna Gajah Mada wafat, hal ini menjadi titik awal kehancuran Majapahit. Hingga kemudian hilang setelah Islam masuk ke tanah Jawa.

Arus berbalik, kerajaan-kerajaan yang pada mulanya menjadi kekuasaan Majapahit, membubarkan diri. Turunan-turunan bangsawan Majapahit lebih fokus pada wilayah kekuasaannya. Hal ini terlihat dari Adipati Tuban, Adipati Arya Teja Tumenggung Wilwatikta. “Perdamaian jauh lebih berarti untuk rakyat,” ucapan Adipati yang kemudian banyak dipertanyakan karena tidak seperti Majapahit yang memperluas kekuasaannya.

Tuban berubah drastis -bukan hanya kedatangan Portugis serta Demak- namun karena sosok Galeng, seorang pemuda desa yang berani serta tangkas. Terlebih Galeng sering mendengarkan ucapan Rama Cluring yang katanya pernah merasakan ketangguhan Majapahit.

Keberanian serta wawasan menjadi modal Galeng untuk masuk dalam politik Nusantara saat itu. Dimulai saat Galeng mengikuti kejuaraan di Tuban bersama kekasihnya Idayu. Kemenangan Galeng dalam kejuaraan itu, menjadi titik awal. Galeng diangkat menjadi bagian dari Tuban.

Munculnya konflik seperti pengkhianatan, kehidupan feodal, munculnya penjilat, menambah konflik dalam kerajaan Tuban.

Kedatangan Portugis menguasai kerajaan Malaka menjadi permulaan Galeng sebagai utusan Tuban yang dipimpin oleh Adipati Unus dari Demak. Pasukan Nusantara kalah, beberapa faktor yang menyebabkan kekalahan, di antaranya karena belum bersatunya kerajaan-kerajaan tersebut.

Idayu, Galeng, dan Awis Krambil
“Sahaya perempuan Tuban, Tuan Sayid, yang berbahagia menunggu suami pulang.”

Idayu, ya Idayu tokoh unik yang dibuat oleh Pramoedya Ananta Toer pada novel Arus Balik. Selain Idayu, ada tokoh imajiner lain yang terus-menerus menjejali ingatan saya, Galeng dan Sayid Habibullah Almasawa. Selain mereka, memang ada beberapa tokoh lain, namun tidak sekuat karakter dari ketiga tokoh yang disebutkan tadi. Mungkin ada satu lagi, Adipati Tuban.

Sebagai perempuan Desa Awis Krambil, juara tari dalam Pesta Lomba Seni dan Olahraga berturut-turut, Idayu menjadi terkenal. Ditambah Idayu memiliki tubuh molek, dengan payudara yang baik. Bahkan bukan hanya di Desa Awis Krambil sendiri. Pesona Idayu sampai pada Adipati Tuban. Di Awis Krambil sendiri, Idayu menjalin hubungan dengan Galeng.

Wiranggaleng atau sering disebut Galeng, pemuda desa tangkas dan pemberani. Galeng memiliki sifat patriot dalam jiwanya. Selama di Awis Krambil, Galeng sering mendengarkan cerita-cerita dari Rama Cluring mengenai kesaktian Gajah Mada serta kejayaan Majapahit.

Awis Krambil desa di perbatasan yang serba miskin dan kekurangan. Nama Awis Krambil sendiri adalah sebuah sindiran orang-orang kota karena di desa ini sudah tidak ada kelapa. Namun dari desa itu muncul dua tokoh penting. Galeng dan Idayu.

Hutan yang senyap itu berubah jadi hiruk. Suaranya melayang, mengambang dalam cahaya bulan mencapai desa perbatasan kadipaten Tuban: Awis Krambil. Menusuk lebih dalam ke tengah-tengah desa, memasuki balai-desa.

                “Dengar anjing-anjing membaung!” orang tua itu menuding ke arah atap. Alisnya yang putih terangkat. Badannya tetap tenang duduk di atas tikar menghadapi para pendengarnya.

                “Tak pernah anjing hutan membaung seperti itu.”

                Sunyi senyap di ruangan balai-desa. Semua memanjangkan leher mendengarkan baung ratusan anjing di tengah hutan. Ratusan sumbu darmasewu yang menyala di sepanjang dan seputar rumah umum itu bergoyang-goyang terkena angin silir.

                “Apakah gerangan yang akan terjadi, Rama?” kepala desa yang duduk agak belakang orang itu bertanya.

                “Bulan purnama begini. Semua indah. Hanya anjing-anjing pada menangis. Bulan itu takan menanggapi mereka. Sejak dulu pun tidak. Tapi bulan penuh, menua dan hilang. Bulan purnama sekarang, tapi bukan purnama untuk kalian. Untuk kita. Kita sedang tenggelam.”

                “Kita belum pernah tenggelam, Rama,” protes seorang gadis di tengah-tengah hadirin.

“Kau belum pernah tenggelam, gadis. Kau pun belum pernah terbit. Kita-kita pernah terbit, dan sekarang sedang tenggelam. Lihat, sebagai bayi aku dilahirkan di sini. Kalian semua belum lagi lahir. Hutan dan alang-alang masih berjabatan. Sawah belum ada. Hanya huma, gadis. Dulu desa ini dinamai Sumber Raja ….” Tiba-tiba suaranya terangkat naik, melengking. “Kalian biarkan desa ini dihina oleh orang kota, dan kalian sendiri setuju dengan nama Awis Krambil.” Ia tertawa sengit.  

“Bukan begitu Rama Guru,” bantah kepala desa gopoh-gapah dan menebarkan pandang minta sokongan hadirin. “Nama itu diberikan sebagai ucapan ikut prihatin terhadap sulitnya kelapa di sini. Lama-lama jadi sebutan resmi Tuban. Kami hanya mengikuti, Rama”

“Apa saja kalian kerjakan dalam tujuh tahun ini maka sebuah desa bisa kekurangan kelapa?” orang tua itu tidak menoleh pada kepala desa. “Apakah di mandala kalian sudah tak pernah diajarkan tentang kelapa dan tentang desa, bahwa kesejahteraan desa nampak dari puncak-puncak pohon kelapa?”

Habib Palsu
Tolib Sungkar Az-Zubaid atau Sayid Mahmud Al-Badaiwi yang kemudian mengaku menjadi Sayid Habibullah Almasawa, keturunan ke empat puluh dari Nabi Besar Muhammad ketika berhadapan dengan Adipati Tuban.

Sayid Mahmud Al-Badaiwi adalah Syahbandar Malaka yang diserang oleh Portugis. Melarikan diri ke Pasai kemudian berlabuh di Tuban.

Di Tuban, Sayid memberanikan diri untuk menghadap Adipati meski tidak membawa seserahan. Ia memberanikan diri dengan modal menguasai bahasa Arab, Melayu, dan bahasa Ispanya juga Peranggi. Bahasa-bahasa yang dikuasai oleh Sayid membuat Adipati kepincut. Kemudian ia menjadi tamu istimewa Tuban yang kemudian menjadi Syahbandar Tuban.

Bekas Syahbandar Malaka tercantum dalam daftar terakhir. Waktu sampai pada gilirannya ia berbicara dalam bahasa Melayu: “Patik datang dari malagasi, ya Gusti Adipati Tuban yang termasyhur pengasih sepanjang pantai Atas Angin. Orang memanggil patik Sayid Habibullah Al-masawa. Kata silsilah keluarga, patik adalah keturunan ke empat puluh dari Nabi Besar Muhammad s.a.w.”

Rangga Iskak mengernyitkan dahi. Giginya berkerut. Ia tak percaya. Prasangka mulai berbisik-bisik dalam hatinya: Itulah dia penipu yang kau tunggu-tunggu!

“Patik hanyalah saudagar rempah-rempah yang berlayar dari bandar ke bandar. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Tuhan belumlah memberkahi, ya Gusti Adipati Tuban. Sesampai di Malaka, Peranggi sedang menggagahi Bandar. Semua isi kapal patik dirampas dan kapal patik dibakar. Alhamdulillah Tuhan masih ingat pada hamba-Nya ini. Segala puji untuk Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”

Karakter Perempuan Desa
Membaca novel Arus Balik, seakan diajak pada kisah roman Galeng dan Idayu. Namun dibalik kisah mereka, terdapat kisah Nusantara dengan kemegahan maritimnya. Nusantara pernah berjaya hingga ke utara, hingga pada akhirnya arus berbalik. Selatan dikuasai oleh utara.

Pada wilayah ini, Pram sebenarnya ingin mengajak pembaca untuk memahami sejarah. Mulai dari pembaca awam hingga pembaca yang terpelajar. Riset Pram menjadi kekuatan tema, alur, bahkan pemilihan tokoh-tokoh pada novel Arus Balik ini.

Politik agama serta politik praktis, pragmatis, dan oportunis kerap muncul. Namun yang menjadi perhatian saya adalah Idayu. Perempuan Awis Krambil itu seakan tidak bisa berkutik ketika dihadapkan dengan kekuasaan. Ia manggut serta nurut ketika disuruh apa saja. Apakah itu yang kemudian disebut sifat patik? Atau sudah menjadi tipikal seorang perempuan desa selalu nerima ketika dihadapkan dengan kekuasaan? Idayu oh Idayu, apabila memang demikian, betapa malang nasib seorang perempuan desa.

Bukan saya membandingkan, namun ada kemiripan dengan realitas perempuan desa yang ditampilkan dalam prosa lirik Linus Suryadi AG, Pengakuan Pariyem. Bagaimana Pariyem diam dan pasrah ketika digagahi oleh Den Bagus Aryo. Idayu, selama Galeng mengemban amanah utusan Tuban untuk berperang, malah digagahi oleh Sayid Habibullah Almasawa. Serta setiap hari disuruh menari di hadapan Adipati Tuban. Idayu tidak dapat berontak. Ia terjebak dalam lingkaran kekuasaan. Meski Galeng mengetahuinya, ia juga tidak dapat berbuat apa-apa. Seperti yang sudah ditakdirkan bahwa mental seorang patik adalah nerima perlakuan dari yang kuasa.

Sayid Habibullah Almasawa mengaku sebagai Habib di hadapan Adipati Tuban supaya diangkat menjadi Syahbandar, tidak lain bahwa dia adalah seorang yang licik. Sayid merusak Idayu. Sayid juga merusak Tuban, mengadudombakan Tuban.

Realitas pada novel Arus Balik bagi saya masih terjadi hingga sekarang. Di mana agama menjadi politik kekuasaan, hingga penguasa memegang kendali penuh terhadap rakyatnya (menjadi tuhan kecil), anti kritik serta selalu menang.

Masih banyak kejutan-kejutan serta masalah yang diangkat pada novel Arus Balik. Namun saya sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Joesoef Isak bahwa “Arus raksasa menggelombang dari utara menghempas Nusantara mundur ke selatan –yang tertinggal hanya negara-kota kecil-kecil di pesisir utara Jawa, bahkan lebih jauh lagi mundur sampai ke pedalaman, ke desa-desa di kaki-kaki pegunungan. Mundur-mundur terus sampai ke pedalaman bukan hanya geografis, tetapi lebih-lebih mundur ke pedalaman diri sendiri, ke pedalaman nurani dan kenalurian yang mengganti nalar rasional. Merasuk dalam ke pedalaman diri yang paling aman, pedalaman yang tak akan mampu disentuh oleh siapa pun; pedalaman di mana bisa dibangun kekuasaan paling perkasa dan bisa berbuat segala-galanya.”

Heri Maja Kelana

Heri Maja Kelana

Sekretaris Redaksi buruan.co. Lahir di Majalengka 14 Januari 1986. Kumpulan puisinya yang telah terbit "Lambung Padi" (2013). Pengelola Rumah Baca Taman Sekar Bandung.

All stories by:Heri Maja Kelana
Heri Maja Kelana

Heri Maja Kelana

Sekretaris Redaksi buruan.co. Lahir di Majalengka 14 Januari 1986. Kumpulan puisinya yang telah terbit "Lambung Padi" (2013). Pengelola Rumah Baca Taman Sekar Bandung.

All stories by:Heri Maja Kelana
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.