Humor sebagai Superior Ironi atas Situasi yang Tak Menyenangkan

820 468 Dedi Sahara

Seorang Lelaki tomboy tengah berjuang mati-matian untuk mendapatkan kembali kejantananannya, setelah berpacaran dengan perempuan bernama si Mancung. Sang kekasih, si Mancung, membantu. Kemudian meminta Lelaki tomboy untuk datang ke rumah, bertemu ayahnya. Lelaki tomboy itu terkesima saat pertama kali bertatap muka dengan sang ayah:

Ia memakai kaos oblong berwarna putih agak kekuningan bertuliskan “NKRI HARGA MATI’ lengkap dengan logo garuda berwarna merah. Perut buncitnya membuat teks “NKRI HARGA MATI’ menjadi agak menggembung sedemikian rupa (Salah Satu Cara Membangkitkan Kejantanan, 2018:31).

Ada gerakan lucu dari perutnya. Gambar garuda kembang kempis. Beberapa saat melebar, lalu menciut, dan adegan itu disimak secara teliti oleh Lelaki “tomboy’:

”Kamu lihat apa?”

“NKRI Pak!”

Refleks latah kemayunya keluar (Salah Satu Cara Membangkitkan Kejantanan, 2018: 32).

Inilah humor yang penulis temukan dalam antologi cerpen Situasi Yang Tak Menyenangkan (Kentja Press, 2018) karya R. Abdul Azis. Cerita yang berjudul “Salah Satu Cara Membangkitkan Kejantanan” itu menjungkirbalikan dua tatanan moral sekaligus: kejantanan laki-laki dan kesakralan NKRI. Humor dan lelucon digunakan sebagai instrumen untuk melucuti tananan simbolik yang mengarah pada makna tunggal tersebut.

Baca juga:
Bourdieu dan Liburan di Minggu Awal Mei
Barasuara: Makna Mana yang Kita Bela?

Humor telah menjadi karakteristik dari literatur kontemporer. Schopenhauer, dalam The World as Will and Idea (1883), berbicara tentang keganjilan sebagai pijakan bagi humor. Humor muncul tiba-tiba sebagai persepsi perihal keganjilan (perception of the incongruity) antara konsep dan objek nyata yang telah kita pikirkan melalui beberapa relasi, dan tawa itu sendiri merupakan ekspresi dari keganjilan ini.1

Ide cerita Lelaki tomboy menemukan relevansinya dalam situasi akhir-akhir ini. Menjelang Pilpres dan Cawapres, kita lagi-lagi dihadapkan dengan situasi yang tak menyenangkan, di mana politik identitas digaungkan secara dangkal.

Pada mulanya, humor muncul kepermukaan sebagai persepsi dari keganjilan, kemudian bermain di tataran bahasa untuk mendekonstruksi makna yang telah dibangun secara ‘mapan’. Di sini, humor masuk sebagai seni yang mencemooh apa yang “diagungkan”, seperti “NKRI HARGA MATI!”

Dengan demikian, ada sikap main-main yang selalu mengelak dari konsep yang dikukuhkan, dari ideologi yang dominan. Bahkan Morreall, salah satu peneliti humor, mengatakan bahwa kita dapat menikmati keganjilan adalah prestasi yang cukup bagi homo ludens, bahkan ketika itu membangkitkan rasa jijik atau ambigu, yang menunjukan betapa estetiknya sepesies kita ini.2 R. Abdul Azis, memanfaatkan ini dengan cukup baik.

Sebelas cerpen yang disajikan dalam antologi cerpen perdananya itu pun sarat nuansa tak lazim, sesuatu yang ganjil yang muncul secara tiba-tiba dalam keseharian kita. Seperti halnya cerpen-cerpen Etgar Keret, ada penyimpangan normalisasi dan penciptaan sesuatu yang baru, yang selama ini dikenal sebagai banalitas. Penulis seakan-akan digiring untuk mencemooh segala sesuatu yang telah dianggap mapan, dan seketika menjadi banal. Olok-olokan itu menyentak sistem logika kita yang mengarah pada ‘makna tunggal’. Segalanya diterjang, mulai dari sistem agama, sosial, hingga ideologi-politik.

Humor muncul sebagai salah satu cara menjungkirbalikan ironi yang mengedepankan homogenitas sebagai seni tentang yang prinsipil (art of principle). Namun di saat bersamaan, humor juga bisa hadir sebagai superior ironi. Deleuze menyebut humor sebagai superior ironi, yang berfokus pada penampakan, bentuk, partikularitas dan kebisingan yang memecah sistem yang kukuh, sementara ironi mencari apa yang ada di balik penampakan tersebut.

Superior ironi ini muncul, dan cukup dominan, dalam sebagian cerpen R. Abdul Aziz, seperti dalam cerita Suatu Teknik Mempecundangi.

Alkisah, pada suatu malam, Soca Kenca ditemui seorang aulia yang memberinya dawuh untuk memindahkan sebuah beduk kebanggaan warga kampung agar terhindar dari mala. Kesaksian itu, kemudian diceritakan pada karibnya, Jocong, hingga membuahkan debat kusir. Meski pada akhirnya, beduk itu berhasil disembunyikan dan membuat warga sekampung gusar. Soca Kenca pun mendapatkan amukan warga dan kemarahan ustaz yang disegani di kampung tersebut. Konyolnya, Soca Kenca malah cengengesan saat diinterogeasi warga sekampung.

Beduk kebanggaan adalah beduk yang membanggakan dan tak mungkin tergantikan. Kalau ada pertanyaan bagaimana datangnya kebanggaan itu? Tak seorang pun yang mampu menjawab. Kebanggaan itu datang begitu saja…. Bagi mereka, beduk kebanggaan adalah satu-satunya kebanggaan. Tidak ada yang lebih membanggakan dari beduk kebanggaan. Bahkan bisa dibilangm selain NKRI, beduk kebanggaan adalah harga mati (Suatu Teknik Mempecundangi, 2018: 39).

Seorang lain angkat bicara kalau hal itu bukan hal sepele, itu masalah jati diri… Adu mulut di antara satu dan lainnya tak terhindarkan. Soca Kenca sendiri cengengesan mengingat perdebatannya dengan si Jocong malam tadi. Ia belum juga mengatakan kepada warga kalau si Jocong lah yang sedang menyembunyikan beduk kebanggaan di suatu tempat atas petunjuk sang aulia (Suatu Teknik Mempecundangi, 2018: 41).

Dalam satu tarikan napas, beduk disejajarkan dengan NKRI sebagai simbol jati diri, sebagai mitos identitas yang bukan melahirkan sikap toleransi dan solidaritas pada kaum minoritas tertindas. Namun, cenderung menimbulkan sikap intoleran pada kelompok tertentu. Kondisi seperti inilah yang kemudian digugat melalui tokoh Soca Kenca.

Dalam humor, kita diajak untuk lebih luwes dalam menghadapi sesuatu, untuk bermain-main dengan konsep atau makna yang sebelumnya dikukuhkan. Subjek tak perlu berpretensi mengenai dirinya atau menyangkal eksistensi kediriannya.

Seperti halnya Gus Dur, melalui tokoh Soca Kenca yang masih saja cengengesan saat dirundung amarah warga, subjek muncul dengan keunikannya, sekaligus ‘militansi’-nya. Bagi Deleuze, cara yang efektif untuk menganulir aturan yang dianggap mapan (sistem negara, politik dan budaya konservatisme, dst.) adalah melalui superior ironi.3

“Memang kalau kamu jadi presiden, kamu mau apa?”

Sambil mengompres bonyoknya, Soca Kenca bilang kalau dirinya bakal meruntuhkan pola pikir terdahulu, dan bakal membangun pola pikir baru. Soca Kenca menambahkan kalau dirinya bakal merombak semua tatanan sosial, juga menutup semua parbik vape. Mendengar ceramah panjang Soca Kenca, si pemiliki warung malah terbahak lagi. Ia benar-benar yakin kalau otak pemuda itu rusak parah…

“Kamu ngga terpikir buat jadi ustaz di tivi saja? Saya kira, kamu punya bakat ceramah yang bagus.”

“Badut culun jual ayat? Tidak! Lagian saya bukan lagi ceramah!…. (Ketololan yang Sukses Dilakuakan Soca Kenca, 2018: 95).

Di sini humor kembali hadir dalam rupa persepsi subjek terhadap sense yang kemudian terbentuk dalam ungkapan spesifik hingga menciptakan suatu dunia dalam bahasa. Subjek yang tak dapat lepas dari sejarah dalam mempresepsi sense, dilanjutkan hingga menuju nonsense. Tak ada yang dapat lagi diwakili atau ditandai oleh sense, selain ungkapannya (proposisi) sendiri. Di saat Soca Kenca membayangkan menjadi presiden, kemudian ditertawakan oleh pemilik warung.

Lelucon apa yang terbaik tentang (omongan) Soca Kenca ketimbang dengan politik yang dihadapi Soca Kenca sendiri? Inilah superior ironi Deleuze par excellence. Suatu ironi terhadap ironi.

Dengan demikian, dalam beberapa hal, cerpen-cerpen R. Abdul Azis ini berhasil menghadirkan humor sebagai antitesa terhadap segala wacana ‘universalitas’ yang dangkal dan menindas, yang tak mengakui partikularitas tertentu, seperti dalam bentuk politik identitas hari ini melalui kesaharian kita. Kita seperti diajak untuk merenungi dan menemukan diri kita sendiri dalam kekinian, kekhasan dari keseharian kita, perilaku, cara, dan setiap adat istiadat, yang mungkin pada awalnya kita anggap remeh, tapi justru menjadi penting.

Namun—bahwa apresiasi terbaik terhadap suatu buku merupakan kritik yang tepat—dalam beberapa hal, R. Abdul Azis cenderung terjebak pada dimensi seni ironi level pertama, yang mengandaikan substansi tetap dari penampakan, seperti cerpennya yang menghadirkan sosok transgender, misalnya.

Baca juga:
– Rekonstruksi Mitologi Langit Ketujuh
Antara Mitos yang Lentur dan Sejarah yang Terpenggal

Humor, dalam hal ini, bisa jadi sangat berbahaya saat dipaksa harus membicarakan segalanya, terutama dalam hal politik dan budaya. Cerita akan nampak dangkal dan memberi kesan bagi pembaca bahwa tak ada yang berbobot selain hanya lelucon belaka. Karena itu, kita tidak dapat mereduksi kompleksitas mental, psikologis, budaya, dan politik dari setiap humor dan lelucon yang dihadirkan. Hal inilah yang mungkin luput dari R. Abdul Azis, hingga terkesan menggemakan kembali aturan yang mapan atau ideologi dominan yang hendak ia tolak.

Meski begitu, humor, yang mungkin bagi R. Abdul Azis semacam pengalaman estetik, mampu diolah dengan cukup baik untuk melucuti realitas kontemporer yang makin banal. Sebagai penutup, menyitir perkataan Etgar Keret, “Humor is always the weapon of the weak. If you can change your reality you’ll change. If you can’t the best way to protest and keep your dignity is to make a joke about it.”[]

 

Catatan Kaki:

  1. Arthur Schopenhauer menjelaskan, “The cause of laughter in very case i simply the sudden perception of the incongruity between a concept and the real objects which have been thought throught it in some relation, and laughter itself it is just the expression of this incongruity…” dalam The World as Will and Idea, Vol. 1 (London: Routledge, 1883). 66-67. Pernyataannya ini kemudian dijadikan pijakan dalam teori humor, dan dikenal sebagai Teori Keganjilan (Incongruity theory).
  2. Morreal, John. 1987. Funny Ha-Ha, Funny Strange and Other Reactions to Incongruity. New York: University of New York Press. 205.
  3. Deleuze menjelaskan “The first of overturning the law is ironic, where irony appears as an art of principle, of ascent towards the principles and of overturning principles. The second is humour, which is an art consequences and descent, of suspensions and falls. 1994. Difference and Reptition. New York: Columbia Universitu Press. hal. 5.

Refrensi:

Abdul. R. Azis. 2018. Situasi yang Tak Menyenangkan. Kentja Press: Ciamis Jawa Barat.

Deleuze, Gilles. .1994. Difference and Reptition. New York: Columbia University Press.

Morreal, John. 1987. Funny Ha-Ha, Funny Strange and Other Reactions to Incongruity. New York: University of New York Press.

Schopenhauer, Arthur. 1883. The World as Will and Idea. Trans. R. B. Haldane and J. Kemp. London: Routledge.

Dedi Sahara

Dedi Sahara

Redaktur Apresiasi Buruan.co. Giat belajar di Lingkar Studi Filsafat (LSF) Nahdliyyin.

All stories by:Dedi Sahara
Leave a Reply

Dedi Sahara

Dedi Sahara

Redaktur Apresiasi Buruan.co. Giat belajar di Lingkar Studi Filsafat (LSF) Nahdliyyin.

All stories by:Dedi Sahara
error: