Hari Guru, Hari Ngakak Nasional

702 336 Panji Irfan

Pada peringatan Hari Guru nasional ada dua kebahagiaan yang dirasakan warga sekolah. Pertama adalah terpilihnya dua karya tulis ilmiah guru pada acara simposium nasional 2015. Acara simposium ini menyeleksi 200 karya tulis terbaik dari 3366 karya tulis yang terkumpul dari seluruh Indonesia, keduanya pun menjadi perwakilan tunggal dari Provinsi Kalimantan Tengah pada puncak acaranya yang telah dilaksanakan 25 November 2015 di Istora Senayan.

Hal kedua yang menjadi sumber senang adalah perayaan Hari Guru di SMP Tunas Agro Seruyan, Kalimantan Tengah. Kebiasaannya, suasana kegiatan haru; menyanyikan himne guru, pemberian cinderamata, hingga bermaafan. Sejujurnya saya sering bingung menentukan sikap pada acara dengan tema haru seperti ini. “Apakah harus menderaikan air mata? Atau bercekikik mencoba menenangkan keadaan?”

Jujur, kami merasa tak layak digita puja seperti yang tertulis pada surat testimoni anak-anak. Seringnya kamilah yang berguru pada anak-anak dengan berupa tantangan menuju sekolah; jarak rumah-sekolah puluhan kilometer, mayoritas orang tua yang tak tamat sekolah dasar, usia tua untuk sekolah, hingga ketiadaan akses pada buku-internet.

Salah satu peserta vokal grup guru. (Foto: Panji Irfan)

Salah satu peserta vokal grup guru. (Foto: Panji Irfan)

Peringatan Hari Guru di sekolah mendapat ide baru dari anak OSIS, tidak ada lagi acara berharu biru seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini seluruh guru wajib berpartisipasi dalam tiga lomba yang telah disusun; ranking 1, vokal grup, dan tebak gaya. Pertanyaan yang sudah disusun untuk ranking 1 lumayan sulit karena menanyakan sejarah organisasi-organisasi guru di Indonesia.

Setelah sedikit pemanasan dengan soal-soal, guru yang telah dikelompokkan secara acak oleh kepanitiaan OSIS wajib menyanyikan lagu daerah. Entah mengapa suasana menyanyi menjadi penuh sensasi dan kejutan dalam hal kostum dan cara menyanyi. Untuk lomba tebak gaya, tingkat kesulitan menggila karena kami wajib mendemonstrasikan kucing kejepit pintu, bebek goyang itik, singa mati melet, atau gorilla ngamuk, walhasil semua anak terbahak tak terkendali.

Barangkali tidak semua orang sepakat dengan konsep demikian, namun dengan cara berkolaborasi dalam kegiatan seperti ini kami menjadi akrab dengan anak-anak. Kami di sekolah sama-sama menyadari bahwa kita semua memiliki status yang sama. Kita adalah pembelajar sepanjang hayat.[]

Panji Irfan

Panji Irfan

Guru swasta. Kini tinggal dan mengajar di Seruyan, Kalimantan Tengah.

All stories by:Panji Irfan

Leave a Reply

Panji Irfan

Panji Irfan

Guru swasta. Kini tinggal dan mengajar di Seruyan, Kalimantan Tengah.

All stories by:Panji Irfan
error: