Hal yang Belum Selesai

820 820 Adhimas Prasetyo

Preambul

Jika Anda sering menulis puisi, Anda pasti pernah berpikir hingga kapan sebuah karya dikatakan selesai. Selesai atau tidaknya sebuah karya bukanlah suatu hal yang dapat diukur secara pasti, namun hal ini bersifat argumentatif. Sebagai penulis, sedikit-banyaknya kita membutuhkan pandangan orang lain untuk ‘menyelesaikan’ sebuah karya.

Menyunting sebuah karya bukanlah hal baru dalam dunia perpuisian. Sebut saja sajak-sajak Chairil Anwar, kita sering melihat beberapa versi dari satu sajaknya. Karena secara sadar Chairil belum merasa karya itu ‘selesai’. Jika ia masih hidup hingga seribu tahun ke depan, mungkin lebih banyak lagi karya yang ia sunting.

Begitu juga bagi dua penyair yang sajak-sajaknya tayang pada HU Pikiran Rakyat edisi 7 Oktober 2018. Saya merasa beberapa sajak belum selesai. Dua penyair tersebut adalah Rangga Kusumah Cokro Suyitno dan Nabilah Musyarofah Fatimah Quds.

***

Terdapat dua sajak Rangga yang tayang. Sajak-sajak itu berjudul “Negeri Tempatku Tinggal” dan “Sore Itu”. Mari kita baca terlebih dulu sajak berjudul “Negeri Tempatku Tinggal” berikut ini.

Negeri Tempatku Tinggal

Aku tinggal di sebuah negeri
Di mana ikan-ikan berenang bebas
Di dompet-dompet penguasa yang luas
Menjelma mobil dan rumah mewah 

Aku tinggal di sebuah negeri
Di mana nelayan mendorong perahu dan melempar jala
Menghadapi badai dari utara
Membawa pulang gelisah juga rasa kecewa 

Periuk nasi di rumah menganga
Perut hari ini disumpal mimpi
Juga paha ayam goreng dari televisi
Dengan sedikit paha presenter acara pagi 

Negeriku sungguh hebat
Ia dapat memindahkan lautan sewarna tanah ke tengah kota
Melubangi jalan raya dengan perkasa
Membuat rumah di bawah jembatan
Atau, sebut saja apa yang ada di pikiranmu, ia bisa beri 

Itulah negeriku
Tempatku tinggal
Di mana petani berkait besi memanen padi di aspal
Membawa pulang mimpi dalam karung yang kumal

Pertama saya tidak mempermasalahkan ideologi penyair. Saat saya membaca sajak yang bermuatan kritik sosial, saya teringat sajak Wiji Thukul yang sarat kritik kepada pemerintahan saat itu. Sebab menulis sajak merupakan gagasan personal yang mungkin tidak bisa dituliskan dalam bentuk lain. Meskipun sajak kritik biasanya didominasi dengan bahasa yang verbal, namun tetap saja dibutuhkan kecermatan dalam pembentukan bahasa.

Kritik yang dibangun dalam sajak ini tidak terpusat kepada satu masalah dan cenderung menggeneralisasi persoalan. Dalam satu sajak, dia membicarakan soal korupsi, ketidaksejahteraan nelayan, kemiskinan, pembangunan, dan beberapa hal lagi. Dari banyaknya hal yang diangkat, dapat mengaburkan gagasan dari penulis sendiri.

Pada bait pertama terdapat larik …ikan-ikan berenang bebas/di dompet penguasa yang luas. Jika dilihat dari konteks larik secara sekilas, ikan di sana barangkali diibaratkan sebagai uang. Namun diksi ikan sendiri merupakan suatu kata yang konkret, yaitu hewan yang hidup di air. Selain itu ikan memiliki medan makna tersendiri. Maka dalam sajak ini, diksi ikan saya rasa kurang tepat jika ingin diibaratkan sebagai uang. Sebab diksi konotatif harus juga mempertimbangkan makna denotatif pada keutuhan konteks kalimatnya. Ditambah lagi pada larik selanjutnya, ikan tersebut menjelma mobil dan rumah mewah. Imaji seperti apa yang coba dibangun dari larik ini?

Mari kita baca sajak Wiji Thukul di bawah ini,

nyanyian akar rumput

jalan raya dilebarkan
kami terusir
mendirikan kampung
digusur
kami pindah-pindah
menempel di tembok-tembok
dicabut
terbuang
kami rumput
butuh tanah
dengar!
ayo gabung ke kami
biar jadi mimpi buruk presiden!

juli 88

Hal yang dikritik jelas, karena ia mengerti permasalahan yang ia kritik dan mengalaminya. Wiji tetap menggunakan beberapa diksi konotatif. Misal dalam larik kami rumput/butuh tanah, koherensi dalam sajak ini terjaga. Sajak ini hadir bukan hanya sebagai kritik, namun juga menarik atensi dari elemen masyarakat lain.

Sajak kedua dari Rangga adalah “Sore Itu”, berikut ini sajaknya.

Kau duduk di kursi sambil menunggu makanan kesukaanmu
Melihat tangan bapak-bapak penjualnya dengan tak sabar
Bola matamu jadi bandul yang memantul-mantul
Alismu yang ulat bulu berkerut melulu 

Sabar nona
Lapar hanya ilusi lambung yang sepi

 Sajak ini berbicara tentang seorang perempuan yang menunggu makanan yang dipesannya selesai dibuat. Berbeda dari sajak sebelumnya, sajak ini mengangkat masalah jauh lebih remeh. Hal yang diangkat dalam sajak ini barangkali adalah hal yang dapat dilupakan dengan mudah, sebab tidak ada gagasan yang kuat. Bagi saya, sajak ini tidak membicarakan kemiskinan misalnya, meskipun terdapat larik yang lumayan apik Lapar hanya ilusi lambung yang sepi.

***

Penyair selanjutnya ialah Nabilah Musyarofah Fatimah Quds. Berikut sajak-sajak Nabilah.

Kamis Malam di Asia Afrika

Hujan turun dalam kota cerah
Rintiknya menyatu dalam bayang ini.

Aku berjinjit agar tak kena cipratan tuan
Tapi tetap saja, karena motor melaju
Mengkhianati para pesakitan.
Pejuang kemerdekaan.

Cosplay-cosplay tertawa,
Berjejer menjadi giwang jalanan
Aku terpana
Darah bisa berubah rias.
Apa aku bisa?
Untuk menutupi Kamis malam ini
Dengan seratus sembilan bendera
Bukti bahwa aku Asia Afrika.

Dalam Hujan Kota Moskwa

Adalah lentik baru memegang api
Menafikan sirna hari lalu,
Yang akut semakin perak
Di tengah bahagia sini
Menjahit jari demi jemari lalu genggam gali satu

Dalam hujan kota Moskwa
Melindung bulan asih mentari
Yang tak dinyana makin lari

Manusia Adalah Puisi

Manusia adalah puisi, biarkan iramaku berimaji
Menyulam bait demi bait secangkir kopi.
Yang setiap lentik dari kedipnya adalah daku
Adalah dibatasi yang tak mampu melampaui, kecuali dinya dan Nya
Walau tempo tak berjarak, ruang dan waktu tetap ada, bukan?

Persoalan dari ketiga sajak Nabilah adalah belum bisa membangun makna kalimat dengan jelas. Sebut saja dalam bait berikut, Adalah lentik baru memegang api/Menafikan sirna hari lalu/Yang akut semakin perak/Di tengah bahagia sini/Menjahit jari demi jemari lalu genggam gali satu. Saya tidak bisa membangun imajinasi tertentu dalam benak saya dari teks ini. Memang terkesan puitis dengan menggunakan diksi-diksi yang jarang digunakan sehari-hari, namun maksud dari penulis akhirnya menjadi tidak jelas.

Sebab sebagai penulis sajak, kita harus memikirkan pemilihan diksi sematang mungkin, agar tidak menjadi kesalahan logika. Misalnya dari larik Walau tempo tak berjarak, ruang dan waktu tetap ada, bukan?, apakah penulis telah memikirkan dengan matang diksi tempo dan waktu? Saya pikir tidak. Sekali lagi saya kesulitan untuk menerka gagasan penyair dalam bait ini.

Saya awalnya mengira dalam sajak “Manusia Adalah Puisi” pada larik Adalah dibatasi yang tak mampu melampaui, kecuali dinya dan Nya, diksi “dinya” berintertekstual dengan lagu yang dinyanyikan oleh Oma Mulyana. Namun saya harus menerima kenyataan bahwa keutuhan sajak tidak mengarah ke sana.

Baca juga:
Rindu dan Kelemahannya
Yang Muram dan Yang Riang

Meskipun begitu, kritik saya tersebut tidak mengurangi apresiasi saya kepada Nabilah, sebab dalam biodata yang tertera, Nabilah merupakan seorang pelajar SMA. Hanya saja ia harus lebih banyak membaca dan berproses dalam menulis sajak. Saya kutip penyataan keren dari film Wiplash (2014) khusus untuk Nabilah, There are no two words in the English Language more harmful than ‘good job’.

***

Dalam beberapa minggu ke belakang, HU Pikiran Rakyat menayangkan sajak-sajak yang ditulis oleh pelajar. Saya sangat mendukung jika HU Pikiran Rakyat menyediakan ruang khusus dalam rubrik Pertemuan Kecil untuk penulis SMA, namun juga harus disandingkan dengan ruang bagi penulis umum. Kolom sastra dalam media menjadi begitu penting karena kita dapat mengetahui perkembangan baik dari segi teknik atau gagasan dalam karya sastra.

Beberapa kritik saya terhadap sajak-sajak di atas, barangkali dapat menjadi pertimbangan bagi penyairnya agar ‘menyelesaikan’nya. Entah seperti apa karya yang dimaksud ‘selesai’, namun dengan kesadaran itu kita memiliki harapan untuk terus berkembang. Semoga kita masih dalam lindungan Tuhan dan tetap istikamah di jalan kesenian ini, amin.[]

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo, Redaktur Bukakoran Buruan.co. Penulis dan pembaca. Bergiat juga di ASAS dan Vespoets.

All stories by:Adhimas Prasetyo

Leave a Reply

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo

Adhimas Prasetyo, Redaktur Bukakoran Buruan.co. Penulis dan pembaca. Bergiat juga di ASAS dan Vespoets.

All stories by:Adhimas Prasetyo
error: