Hal Ihwal tentang Hidup

820 820 Dede Ilham Sugiarto

Dalam kesempatan kali ini, penulis mengulas buku yang ditulis oleh Syarif Maulana yang diterbitkan oleh Buruan & Co. Jujur saja, judul buku yang ditulis oleh Mas Syarif cukup panjang, seperti pada awal tulisan ini. Mungkin, penulis akan membuat judul buku ini, dengan judul Hal Ihwal tentang Hidup dengan Biasa Saja atau Cara Santuy untuk Hidup. Sebelum menjadi sebuah buku dan terbit, Mas Syarif melakukan eskperimen dengan membuat akun di media sosial—Facebook dan Instagram, tentu saja dengan nama Kumpulan Kalimat Demotivasi. Pada awal kemunculan akun tersebut, penulis melihatnya sebagai oasis di padang pasir. Karena, quotes dan kata-kata motivasi sudah begitu banyak bertebaran di media sosial. Sehingga, akun tersebut sangat segar dan berbeda. Terlebih lagi, setiap postingannya penuh dengan satir ataupun mempelintir makna dari kata-kata mutiara yang telah beredar. Bukan saja mempelintir, namun menelanjangi setiap jengkal kata dan makna yang tersembunyi dibalik kata-kata yang indah dan penuh semangat (motivasi). Satu hal yang penting, dalam buku ini Mas Syarif berkata jujur, bahwa motivasi dari menulis buku Kumpulan Kata Demotivasi, berasal dari maraknya buku motivasi atau self-improvement yang makin banyak dengan varian judul. Tentu saja, acara Golden Ways milik Mario Teguh tidak lepas dari perhatian Mas Syarif Maulana.

Maka, para pembaca yang budiman, penulis akan membocorkan beberapa kalimat Demotivasi yang menggelitik, satir, sarkas, ataupun sebuah renungan/kontemplasi. Para pembaca yang budiman, bagi yang ingin membaca buku ini, penulis hanya akan memperingatkan saja. Karena, para pembaca akan masuk dalam ruang kehampaan, kerinduan, bahkan gusar. Bahkan, para pembaca akan marah ataupun kesal kemudian menghujat nilai-nilai feodalisme atau nilai-nilai modernitas. Mungkin, para pembaca akan berpikir untuk bunuh diri. Maka, penulis menyarankan para pembaca untuk membaca Kumpulan Kalimat Demotivasi bersama guru spiritual atau dengan Merry Riana.

Di kota banyak sekali hiburan karena orang di kota, yang butuh banyak sekali hiburan.” Mengapa, demikian? Mas Syarif sangat jeli melihat dinamika sosial di perkotaan, di mana manusia-manusianya senantiasa bergerak cepat dengan sirkulasi uang yang berputar dengan cepat pula. Terlebih lagi, kondisi udara di kota penuh dengan polusi dan hiruk-pikuk masalah. Sehingga, banyak ruang-ruang untuk manusia kota berhenti sejenak, dari hiruk-pikuk dan polusi. Guna menyegarkan batin dan hasrat manusia perkotaan yang saban harinya terkuras habis. Sebut saja, karaoke atau mall-mall serta bioskop.

Pada poin tujuh, “kita sekolah agar kelihatan normal.” Kata yang begitu singkat, namun sangatlah tajam. Bagi beberapa orang, sekolah adalah sebuah aktivitas yang “normal” dan tidak perlu lagi diperdebatkan serta dipertanyakan tujuan dan maksudnya. “Normal” dalam hal ini adalah sesuatu yang take for granted. Sehingga, beberapa orang di sini serta masyarakat awam tidak pernah tahu asal-usul dari kata sekolah itu sendiri. Dalam buku sekolah itu candu, Roem Topatimasang menelusuri asal-usul sekolah atau kata sekolah. Roem menjelaskan bahwa sekolah dalam bahasa latin, yakni skhole, scola, scolae, atau schola, secara harfiah berarti ‘waktu luang’ atau ‘waktu senggang’. Lalu, apa kaitannya waktu senggang yang dimaksud dengan sekolah/aktivitas belajar yang kita jalani di sebuah gedung? Jawabannya, yakni berpikir dan berpendapat. Karena waktu luang ini, Sokrates dan Plato yang kita kenal, tidak melakukan aktivitas fisik. Sebab, Sokrates dan Plato memiliki budak untuk melakukan aktivitas fisik, seperti membersihkan rumah atau berkebun. Maka, Sokrates dan Plato memiliki waktu luang yang lebih banyak yang digunakan untuk berpikir dan berpendapat. Dalam konteks ini, Sokrates dan Plato nongkrong di sebuah kafe untuk mabar dan ngobrol santai.

Lalu, pada poin 60 tertulis bahwasanya “pendidikan hari ini hanya sebatas keterhubungan antara sekolah dengan dunia kerja. ada ketakutan dalam menjadikan pendidikan sebagai proses untuk memanusiakan kita. iya, karena kita tidak boleh menjadi manusia. Terlalu bahaya bagi sekolah maupun dunia kerja”. Kalimat ini adalah sebuah kritik Mas Syarif terhadap dunia pendidikan kita. Seperti, razia buku yang terus saja terjadi atau riuhnya dunia twitter atas press digital atau apalah itu, yang dikeluarkan oleh Universitas Indonesia atas penyelenggaran diskusi daring yang membahas isu sensitif, yakni Papua. Bagi pembaca yang penasaran, silahkan untuk berselancar di twitter. Karena, menuliskannya di sini terlampau panjang.

Di poin 21, sangat menarik untuk penulis karena menyangkut psikologis manusia-manusia modern saat ini, bahwa “bekerja membuat kita tidak sibuk memikirkan kematian.” Bagi kelas menengah ke bawah, alam pikirannya akan selalu direcoki dengan, makan apa hari ini? Akibat penghasilan yang tidak menentu. Al hasil, taktik yang mencekik menjadi solusi, yakni gali lubang tutup lubang. Beda dengan kelas menengah ke atas perkotaan yang sibuk memikirkan tempat untuk nongkrong ataupun berlibur. Terlebih lagi, dua perbedaan ini sangat nyata di tengah pandemi yang belum tahu kapan usainya.

“Kekosongan batin orang lain adalah sumber nafkah yang besar. Ingat! Berapa banyak dari kita yang hidup dari menjual harapan?” Kalimat ini, bagi penulis adalah kalimat yang cukup krusial dalam buku Mas Syarif yang bersahaja. Dari Mario Teguh hingga Marry Riana, dari Inspirator muda anak Hary Tanoe hingga influencer (figur publik, seperti Raffi Ahmad cs, selebgram dan Youtuber) yang kian marak di negeri ini. Dalam beberapa hari lalu, jagat twitter cukup ramai, bukan perihal Papua, melainkan privileged. Bermula dari cuitan mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Jepang, sebut saja Jerome, yang menyangkal dan masih tidak percaya ataupun mengerti tentang privileged dan pemiskinan (baik finansial maupun imajinasi) yang sistematis. Atas cuitan Mas Jerome tersebut, jagat twitter ramai dengan topik atau sebuah argumen sanggahan yang ditujukan pada Jerome, perihal privileged. Biasanya, mereka yang menyangkal ataupun tidak percaya tentang privileged, akan bertahan menggunakan kata “effort” atau sebuah usaha yang belum maksimal, biasanya. Lain lagi dengan Merry Riana yang menjadi pengganti dari absennya Mario Teguh di televisi. Merry Riana yang secara finansial telah bebas serta bukunya yang menjadi best seller dan bertebaran di mana-mana, membuatnya menjadi Ratu Motivator. Tim gugus covid pun menggandeng Merry Riana dalam suatu kesempatan sebagai Humas.

Namun, jangan lupakan kegiatan yang harus diikuti oleh mahasiswa baru ataupun para wisudawan dan wisudawati, yakni kegiatan ESQ. Dimana, kegiatan ESQ bertujuan untuk menanamkan nilai positif, berserah diri, dan wejang-wejangan lainnya. Biasanya, para peserta ESQ akan diberi sugesti-sugesti nan kontemplatif yang membuat para peserta menangis. Bagi penulis, kegiatan ini tak lebih sebagai bisinis air mata. Untuk menangis saja, kita harus membayar dengan mengikuti beberapa sesi, lalu menangis. Padahal, menangis itu gratis, seperti oksigen yang kita hirup secara cuma-cuma.

Sadar atau tidak sadar, beberapa aktivitas yang kita lakukan berasal dari hasrat. Entah itu hasrat untuk diakui atau hasrat atas sesuatu yang dihasrati untuk mencapai sebuah kenikmatan, kepuasaan batin. Dalam hal ini, hasrat kita terbentuk tidak hanya berasal dari dalam diri, namun di luar diri kita ada sebuah tuntutan yang berubah menjadi suatu hasrat untuk diakui. Akan tetapi, hasrat untuk diakui terkadang tidak menghasilkan suatu kepuasaan batin. Karena, hasrat tersebut datang dari luar diri kita. Seperti kata berikut, “kita sering bekerja keras untuk memenuhi ekspetasi orang banyak, tanpa merasakan dengan sungguh-sungguh apa yang kita sebenarnya inginkan”.

“Jika kita sebagai pekerja kemudian menganggap kerja adalah ibadah, orang yang paling bahagia adalah bos kita.” Lalu, “katanya, bekerjalah sesuai “passion”. Namun, apakah “passion” kita tetap semenarik semula, ketika itu sudah menjadi rutinitas bekerja? Kita punya “passion” bermain musik, tetapi gairahnya mungkin berkurang ketika kita bermain musik secara profesional setiap minggunya. Kita punya “passion” menulis, tetapi gairahnya mungkin tidak sama ketika kita dibayar dan kemudian dikejar tenggat waktu”. Mari, kita cermati dua kalimat yang berbeda ini, kata “ibadah” dan “passion” kita ubah menjadi kata loyalitas dalam ruang lingkup kerja. Mari kita renungkan aktivitas kerja yang kita lakukan selama ini.

Sebagai penutup, “dalam suatu kemalangan kita kerap mengatakan Tuhan tidak adil. Pada dasarnya, kita ingin Tuhan berbuat sesuai dengan keinginan kita, bukan ingin Tuhan menjadi adil”. Mungkinkah kita menggugat Tuhan? Apakah, ada pengadilan untuk mengadili Tuhan? Secara tersirat dari kalimat ini, Tuhan adalah seorang hakim yang tidak bijaksana dalam memberikan vonis (takdir). Sehingga, vonis (takdir) yang dibuat oleh Tuhan tidak sesuai dengan keinginan kita. Jika, Tuhan bukan suatu entitas absolut nun tunggal. Mungkin, kita sudah mengajukan banding kepada para Dewa Yunani di Olympus, atau dewa-dewa lainnya yang kita yakini.

Detail Buku
Penulis: Syarif Maulana
Judul Buku: Kumpulan Kalimat Demotivasi: Panduan Menjalani Hidup dengan Biasa-Biasa Saja
Penerbit: Buruan & Co.
Tebal Buku: xxvii+85 hlm.

Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.