MENU

9 Mei 2017 Catatan

F. Rahardi: Antara Dunia Sastra dan Tumbuhan

Ma'ruf Muhammad dan F. Rahardi.

Ma’ruf Muhammad dan F. Rahardi.

Kebun Baca Sararea menggelar kegiatan Sastra 2 Malam di Cianjur. Kegiatan tersebut menghadirkan beberapa pegiat literasi untuk berbagi pengalaman dengan warga setempat. Ada seorang peserta yang rambutnya mulai memutih. Tapi, celana pendek loreng, kaos hitam, dan kamera terkalung di lehernya menunjukkan bahwa ia masih sanggup bertualang.

Sosok tersebut adalah F. Rahardi, seorang sastrawan yang telah mencicipi asam garam dunia sastra. Selama ini F. Rahardi dikenal lewat karya-karya sastra yang ia tulis. Saya sendiri mengenal F. Rahardi saat dirinya berdebat lewat tulisan dengan Hamsad Rangkuti yang termuat di salah satu koran nasional.

Di balik kegiatan bersastra, F. Rahardi ternyata juga seorang peneliti tumbuhan. Ia seorang penasihat di Taman Buah Mekar Sari. Ia juga pernah menjadi pemred majalah Trubus.

Antara dunia sastra dan tumbuhan, F. Rahardi lebih dulu mengenal tumbuhan dari neneknya dulu.

“Kalau tumbuhan sejak kecil saya mengenalnya dari nenek saya. Tapi karena saya orang miskin, maka waktu itu tumbuhan yang saya ketahui hanya tanaman kampung, salah satunya gulma. Saya banyak belajar ilmu tumbuhan dari beberapa wartawan muda semasa saya menjadi pimpinan majalah Trubus. Kalau sastra tahun 50-an saya mengenal melalui majalah Basis, temen bapak saya langganan majalah Basis dan saya sering baca,” tuturnya.

Bagi F. Rahardi yang juga berprofresi sebagai kontributor rutin di majalah Kontan, pengetahuan tentang tumbuhan tidak selamanya mendukung dunia kepenulisan. “Beberapa ada. Puisi, novel yang bertemakan flora dan fauna pasti lebih diuntungkan. Tapi, tidak selamanya karya saya mempermasalahkan itu,” katanya.

Jika Chekhov menganggap dunia kedokteran sebagai istri, sedang sastra adalah kekasihnya yang lain. F. Rahardi pun punya perlakuan menarik terhadap dua dunia yang ia geluti tersebut.

“Saya tidak mengandalkan mencari nafkah di dunia sastra, tapi di dunia pertanian. Ketika saya stres saya baru bisa menulis sastra. Ketika dalam keadaan santai saya tidak bisa. Kalau menulis pertanian menyenangkan. Kelemahannya ketika saya stres kadang lari ke dunia pertanian,” ia menjelaskan.

Kehadiran F. Rahardi di kegiatan Sastra 2 Malam di Cianjur menunjukkan usia tidak menghalangi semangatnya dalam bergiat. Selama kegiatan, ia selalu berbagi pengetahuan dan pengalamannya kepada peserta lain yang lebih muda. Sesekali ia juga mengamati tumbuhan-tumbuhan dan mendokumentasikannya dengan kamera. Ketika kegiatan berakhir, ia membawa pulang satu tumbuhan yang tidak ia ketahui jenisnya.[]

Silakan BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Silakan Berkomentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>