Erotisme dan Jalan Pencerahan: Perempuan dalam Puisi Nizar Qabbani

820 820 Muhammad Aswar

Puisi bagi negara-negara berbahasa Arab layaknya sepakbola bagi Inggris, balet bagi Rusia, dangdut bagi Indonesia. Lebih dari sekadar ekspresi artistik individual, puisi adalah medan kolektif yang mempertemukan segala suku, strata sosial, dan gender. Pembacaan puisi sama riuhnya dengan sorak penggemar sepakbola di dalam stadion, sama liarnya dengan pertunjukan dangdut.

Popularitas puisi tidak pernah luntur, namun tonggak-tonggak penopangnya mulai rapuh. Di era Mandat Prancis, ketika negara-negara bekas Kekaisaran Ottoman dibagi rata oleh pemenang Perang Dunia I, batas-batas sosiokultural tidak lagi dimiliki oleh bangsa Arab sendiri. Mereka memasuki suatu masa, ketika untuk pertama kalinya sejak empat belas abad, bangsa Arab tidak lagi bebas menentukan arah masa depan.

Orang-orang mengutuk imperialisme, namun menyerap modernitas Eropa lewat bangku-bangku sekolah. Sekolah-sekolah Barat didirikan, hak berbicara lebih terbuka, dan pergerakan manusia semakin cepat. Begitulah tradisi, puisi, dan agama mulai dipertanyakan oleh generasi muda, dihadap-hadapkan dengan laju teknologi dan modernitas bangsa penjajah sebagai ukuran kemajuan.

Dengan cepat modernitas meresap hingga ke wilayah paling personal: cara berpakaian dan pergaulan, dua hal yang bagi orang dengan tingkat pengetahuan paling rendah pun bisa membedakan antara Arab dan Eropa. Norma-norma sosial dan etika begitu ketat diatur baik oleh agama dan tradisi, berbeda jauh dengan Eropa yang didasarkan kepada pribadi masing-masing. Dan kebebasan inilah yang begitu didamba-dambakan oleh generasi muda, ketika cara mengada dalam kehidupan sosial sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Sampai jugalah mereka pada suatu kesadaran yang janggal: orang-orang Arab baru menyadari ketiadaan perempuan dalam kehidupan sosial. Arieh Loya dalam “Poetry as a Social Document” yang diterbitkan Journal of Middle East Study (1975), mengatakan kesadaran ini sama pentingnya dengan penemuan alat cetak yang melahirkan Revolusi Industri I, sama berharganya dengan buah apel yang menjatuhi kepala Newton, atau sama hebatnya dengan penemuan ponsel pintar. Sekali orang-orang Arab menyadari ini, tak ada lagi dunia yang sama.

Jauh di masa bangsa Arab hidup bersuku-suku di padang gurun, jauh sebelum Islam datang, kekaisaran dibangun dan diruntuhkan, batas-batas peta digeser, perempuan tak pernah mengada dalam kehidupan sosial. Mereka ditempatkan di sudut yang begitu tertutup, bahkan hidung dan mata pun ditutup. Jangkauan kaki mereka sebatas sekat-sekat rumah.

Bahkan ketika Arab mengenal modernisme Eropa, hak perempuan tetap tak berubah. Dinikahkan dalam usia yang masih sangat belia. Suatu perkara tabu jika perempuan belajar di universitas, apalagi mengangkat suara dalam komunitas sosial. Sekolah didirikan khusus untuk perempuan, menghindarkan mereka dari tatapan laki-laki. Fajira, demikian julukan kepada perempuan yang mencoba menembus sekat-sekat sosial itu.

Perempuan tetap berada dalam ketabuan, sama tabunya dengan membincangkan peristiwa seksual. Generasi muda Arab berhadap-hadapan langsung dengan dua tembok besar: tradisi yang menghendaki perempuan hanya perantara untuk melanggengkan nasab di satu sisi, dan prostitusi dengan segala labelnya (nikah mut’ah, poligami, dan semacamnya) di sisi lain.

Nizar Qabbani menerbitkan antologi pertama dalam situasi ini. Qalat li al-Samra’ (1944) dicetak hanya 300 eksemplar, dengan biaya sendiri (tren yang diperkenalkan Nizar, dan seterusnya dia menerbitkan seluruh antologi dengan biaya sendiri), dan meminjam kertas dari toko roti ayahnya untuk mengurangi biaya produksi.

Situs Syrianhistory.com masih menyimpan gambar sampul buku tersebut sebelum dicetak ulang dengan ilustrasi daun hijau-merah-hitam. Gambar hitam-putih yang menampakkan wajah dan sebagian tubuh perempuan muda yang rebah tak mengenakan pakaian. Kedua payudaranya mengeras, dengan wajah yang sedikit mendongak, mata tertutup dan mulut terbuka menampakkan gigi-giginya yang putih.  Satu tangannya terangkat, tangan yang lain menopang.

Pada tahun 1946 majalah Al-Risalah, sebuah majalah sastra di Mesir, menerbitkan tulisan Ali al-Tantawi yang menyerang Nizar dalam antologinya. “Telah terbit sebuah buku puisi di Damaskus. Sampulnya tak senonoh, ditulis oleh orang yang sering keluar masuk rumah bordil. Diikat dengan pita merah yang digunakan orang-orang Prancis melilit pinggang pelacur Syria. Di dalamnya tercetak kata-kata semacam puisi yang lancang, tak tahu malu, dan miskin imajinasi. Ditulis oleh seorang mahasiswa, secara terang-terangan mengubah buhur [metrum] dalam ilmu Arudl, menentang tata bahasa yang telah digunakan lebih dari tiga ribu tahun.”

Semua orang mengutuk Nizar (bahkan ayahnya menganggap cara dia menulis puisi menyesatkan dan akan tumbuh menjadi penyair yang tak berguna). Hanya karena ayahnya, selain memiliki toko roti, juga anggota Partai Baath, buku itu masih diizinkan untuk beredar dan dicetak berulang kali.

Dalam Bayang Feminisme dan Machoisme
Bait-bait ini, dalam pembacaan kita sekarang, tak mungkin ditulis dengan semangat feminisme.

Dua titik payudaramu yang kecokelatan
Kian berubah coklat dalam semesta mulutku
Payudaramu adalah dua mata air
Memancarkan air merah
Memerahi darahku

(“Nahdaki”)

Pertama, Nizar tidak pernah membicarakan intelektualitas perempuan, kondisi batin, bahkan bagaimana mereka mengada dalam sosial; tiga bahasan penting dalam feminisme. Kedua, Nizar justru menghadirkan perempuan sebagai objek kecantikan dan cinta, yang dalam doktrin feminis Kate Millett, “Cinta tak ubahnya opium bagi perempuan, sebagaimana agama bagi sosial. Dengan cinta, justru menjadikan perempuan hamba bagi laki-laki.”

Dalam puisi-puisinya, Nizar menghadirkan gambaran perempuan yang tak utuh, hanya bagian tubuh yang menjadi objek seksual: mata, rambut, bibir, payudara, paha, kaki. Dalam konteks kita sekarang, yang telah membaca Sastra Wangi atawa Gerakan Syahwat Merdeka, mungkin hanya menemukan erotisme yang berujung kepada peristiwa ranjang. Namun kita melewatkan keriuhan benak pemuda Damaskus di tahun 1944, seluruh pria dan wanita, ketika benturan antara hasrat modernitas dan belenggu tradisi tidak bisa lagi didamaikan.

Bangsa Arab membutuhkan suara yang jujur dan apa adanya. Bahwa mereka ditakdirkan lahir dengan hasrat seksual yang sangat tinggi (jika dibandingkan dengan laki-laki Indonesia tentunya). Dan Nizar, dengan menunjukkan machoisme lelaki Arab, terkhusus dirinya, di hadapan perempuan. Perempuan dan seksualitas dianggap tabu, namun justru mereka tak bisa menghindar dari itu:

Berbicara layaknya orang suci di siang hari
Mabuk di pusar perempuan malam hari

(“Aqra’u Jasadaki wa Atatsaqqaf”)

Tetapi layaknya Newton yang dijatuhi buah apel, begitulah Nizar menyingkap rahasia perempuan satu-persatu. Machoisme yang mengisi lima antologi puisinya yang ditulis dari 1944 sampai 1950, mulai bergeser ke pertanyaan-pertanyaan ontologis dalam puisi-puisi yang ditulis setelahnya. Ini terutama setelah untuk kedua kalinya bangsa Arab mengalami kekalahan dalam Perang Enam Hari (1967) melawan Israel. Bertambah lagi setelah Perang Sipil Libanon (1975-1990) yang justru terjadi di kota tempat dia menetap, Beirut.

Bagaimana jika bangsa Arab ditakdirkan sebagai bangsa matrilinial, tentu tak akan ada lagi penguburan anak perempuan hidup-hidup di zaman jahiliyah. Tak ada pula chauvinisme kesukuan yang melahirkan perang sesama bangsa Arab. Tak ada pertempuran senjata, tak ada kekacauan. Bagaimana jika seluruh dunia dipimpin oleh perempuan dan cinta. Akankah orang-orang Eropa mengirimkan misil dan tank ke Dunia Ketiga, akankah perseteruan umat manusia terjadi.

Dan begitulah Nizar mulai menciptakan dunianya sendiri: menciptakan bahasa baru yang sesuai dengan tubuh perempuan (Mi’ah Risalah Hubb), menciptakan kekaisaran yang dipimpin oleh perempuan, pertempuran dengan mata dan bulu mata (“Hikayat Inqilab”), bahkan cara menyembah kepada Tuhan (Mi’ah Risalah Hubb). Dalam konteks ini, Nizar tetap menghadirkan tubuh perempuan tidak utuh. Namun kali ini tidak lagi dihadapkan dengan hasrat seksual, tetapi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang peradaban.

Lebih dari dua dasawarsa berlalu sejak Nizar meninggal di London. Puisi bagi masyarakat Arab masih sama pentingnya dengan sepakbola bagi Inggris dan dangdut bagi Indonesia. Cara pandang agama dan tradisi telah memasukkan unsur-unsur yang menjangkau perempuan, meski keberadaan mereka di dalam sosial keseharian tetap tak banyak berubah. Namun kekalahan negara-negara Arab di masa Nizar hidup, justru menjadi awalan untuk kekalahan-kekalahan yang berlangsung hingga hari ini serta perang sipil yang tak henti-henti.

Nizar telah merangkum seluruh permasalahan Arab modern dalam puisi dan citraan perempuan. “Tetapi puisi kita hari ini sebatas dokumen sosial, rangkuman sejarah yang tak mengubah apa pun di masa depan. Sebab, di zaman kita, puisi bahkan tak lebih tajam dari sebilah pisau yang bisa menggorok leher seekor ayam.” Begitulah dia mengatakan dalam wawancara terakhirnya setahun sebelum wafat.

Muhammad Aswar

Muhammad Aswar

Lahir di Enrekang, Sulawesi Selatan. Alumni jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pengajar di STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta. Akan menerbitkan antologi terjemahan puisi Nizar Qabbani, Cinta Tak Berhenti di Lampu Merah.

All stories by:Muhammad Aswar
Muhammad Aswar

Muhammad Aswar

Lahir di Enrekang, Sulawesi Selatan. Alumni jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pengajar di STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta. Akan menerbitkan antologi terjemahan puisi Nizar Qabbani, Cinta Tak Berhenti di Lampu Merah.

All stories by:Muhammad Aswar
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.