Ekstasi Hiper dalam Sastra Milenial

820 820 Dwi Alfian Bahri

Bicara tentang hiperealitas, paradigma kita langsung mengacu pada pemikir Perancis, Jean Baudrillard. Filsuf yang mengkritisi mode dan teknologi media tersebut menjelaskan bahwa setiap wacana media yang dibentuk selalu bersifat hiper. Makna wacana yang ada di dalamnya sudah berbaur, antara nyata-ilusi, benar-salah, asli-palsu, tiruan-mitasi, sudah menjadi satu-kabur. Makna dalam dunia hiper sudah mati. Yang hadir dalam dunia tersebut hanyalah citra dan efek. Citra dan efek itu terjadi akibat adanya keberlimpahan makna yang oleh Baudrillard disebut dengan ekstasi. Dalam hal ini, kumpulan cerpen Riwayat Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive karya Aris Rahman bisa dimasukkan ke dalam perspektif itu.

Dalam kumcer tersebut, pengarang yang masih aktif sebagai mahasiswa Antopologi Universitas Airlangga itu mengangkat konsep hiperealitas yang diusung Baudrillard. Dia mencoba memberi nyawa pada objek dan membaurkannya pada realitas. Salah satu judul yang paling mewakili itu semua ialah “Riwayat Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive.

Dalam cerpen itu dikisahkan benda mati (pistol) yang digunakan oleh beberapa tokoh digunakan untuk membunuh satu sama lain. Tokoh-tokoh tersebut terkait satu-sama lain dengan cepat dan padat. Pistol itu berpindah tangan dengan mudahnya dari tokoh satu ke tokoh lainnya.

Benda yang identik dengan kematian dan hukuman itu berjalan-berpindah-berfungsi dengan latar dan setting cerita yang begitu cepat. Semua berpindah dengan mudah dan cepat, persis sifat dari hiper itu sendiri. Hingga kita (pembaca) tidak mampu memastikan letak atau esensi pistol itu sendiri. Segalanya telah berbaur. Konsep semacam itu, secara menyeluruh hadir di hampir dua puluh empat judul yang ada.

Secara lebih luas, penulis berusaha menghadirkan makna yang plural. Akibatnya banyak ruang kosong yang terbentuk. Reza Nufa mengatakan, pembaca tidak akan menemukan ketenangan atau jarak yang cukup untuk menjadi penyimak yang khidmat. Pembaca akan dibuat kelonjotan oleh cerita-ceritanya. Keadaan seperti dalam kumcer tersebut, menyiratkan sifat dari kebudayaan pikir dewasa ini, atau biasa disebut era milennial. Bagaimana kehadiran lebih penting dari dampak itu sendiri.

Selain menyuguhkan konsep cerita yang berbeda pada umumnya, diksi dan frasa pada cerita-cerita Aris cukup menunjukkan identitas milenialnya.

Era milennial membuat segalanya berbaur, berpindah, beralih dengan sendirinya, tanpa pernah bisa disadari. Jalan cerita, konsep, ide, dan makna yang ada dalam kumcer ini mewakili itu semua.

Dalam cerpen berjudul “Riwayat Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive”, mulanya, pistol itu hadir secara tiba-tiba di suatu kafe, lalu berpindah tangan ke orang lain, lalu berpindah ke mahkluk lain (anjing), lalu berpindah ke anak kecil, lalu berpindah ke orang lain lagi, lalu berpindah ke seorang polisi, lalu berpindah ke sebuah keluarga, dan ternyata pistol itu di akhir kisah kembali ke tangan pertama.

Semua latar dan setting dalam membangun cerita itu berganti dengan cepat. Hal itu bisa dilihat dari deskripsi setiap bagian yang cukup padat, tidak berbelit, dan pendek. Pembaca benar-benar diberi suguhan yang begitu cepat-silih berganti. Pembaca akan kesulitan menyaring atau menemukan representasi pistol itu sendiri.

Saat hal semacam itu ditangkap sebagai suatu makna, yang tersisa adalah ekstasi. Lalu, ekstasi itu sendiri pada akhirnya akan menghasilkan citra dan efek. Yang dirayakan atas hal semacam itu bukanlah makna tetap, stabil, dan mapan, melainkan “pistol” itu sendiri yang mengalir dan membiak secara terus menerus dalam kecepatan tinggi. Itu adalah akhir dari ekstasi atau hiperealitas, dan penulis menghadirkan hal atau konsep semacam itu dalam alur ceritanya yang melingkar.

Pembaca kumcer Riwayat Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive akan disuguhi ekstasi komunikasi yang tinggi, sangat khas budaya pikir postmodern. Ketika komunikasi semacam itu terjadi, pembaca akan digiring ke dalam pendangkalan bahasa, banalitas, dan simulacrum, yaitu lebih diutamakannya efek-efek permukaan dan provokasi bahasa, ketimbang makna, tujuan dan kebenaran. Terlihat jelas bahwa penulis menempatkan pembaca sebagai orang ketiga.

Kita dapat melihatnya dalam peran “pistol” itu sendiri. Begitu mudahnya “pistol” itu berpindah dan beralih dan berfungsi, hingga anak kecil yang secara nalar realita tidak mungkin bisa menjangkaunya, dengan mudahnya menggunakan benda itu, apalagi seekor anjing (dalam cerita itu, anjing juga berperan dalam peralihan pistol). Itu salah satu bukti bahwa makna “pistol” itu sendiri sudah hilang dan berganti.

Selain itu, jalan cerita yang cepat membuat dan menciptakan ruang kosong yang berlimpah. Pada ruang kosong itulah pembaca akan masuk dan membuat kesimpulannya sendiri berdasarkan citra dan efek atas ekstasi yang diperolehnya.

Hingga pada akhirnya, dipungkiri atau tidak, saat membaca kumcer Aris Rahman  ini, kita akan masuk ke dalam kematian makna dan perjalanan waktu yang hiper. Ekstasi akan dikonsumsi secara telanjang oleh pembaca. Seperti yang ditulis Ribut Wiyoto dalam tulisannya di kanal beritajatim, bahwa segala yang berbau hiperealitas dan simulacra hanya akan berujung pada kematian. Kita diajak untuk mati, secara langsung ataupun tidak. Sebab, citra dan efek cerita kumcer ini adalah kematian.

Terlepas dari itu semua, lahirnya kumcer ini menciptakan khasanah literatur yang segar. Semua yang disajikan di dalamnya menjadi perwakilan tren belakangan para penulis-penulis milenial di Indonesia.[]

Data Buku
Judul buku: Riwayat Hidup Sebuah Pistol di Kawasan Mulholland Drive
Pengarang: Aris Rahman P. Putra
Penerbit: Basabasi
Tahun terbit: Cetakan pertama, Mei 2019
Harga buku: Rp58.000

Dwi Alfian Bahri

Dwi Alfian Bahri

Pengajar SMP Swasta di Surabaya. Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Lahir di Kota Pahlawan 29 April 1993. Sehari-hari dalam mengisi waktu luang, menjalani pameran dan workshop modern kaligrafi (lettering), serta aktif dalam kegiatan literasi dan seni di komunitas Surabaya. Telah menerbitkan antologi cerpen “Bau Badan yang Dilarang” (2018).

All stories by:Dwi Alfian Bahri
Leave a Reply

Dwi Alfian Bahri

Dwi Alfian Bahri

Pengajar SMP Swasta di Surabaya. Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Lahir di Kota Pahlawan 29 April 1993. Sehari-hari dalam mengisi waktu luang, menjalani pameran dan workshop modern kaligrafi (lettering), serta aktif dalam kegiatan literasi dan seni di komunitas Surabaya. Telah menerbitkan antologi cerpen “Bau Badan yang Dilarang” (2018).

All stories by:Dwi Alfian Bahri
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.