MENU
dunkirk

2 Agustus 2017 Film

Dunkirk: Perang yang Ambigu

26 Mei 1940, sekitar 400.000 tentara sekutu terkepung dan didesak mundur oleh tentara Nazi sampai ke pesisir pantai utara Perancis. Di kota kecil pelabuhan itu Tentara Sekutu (Inggris, Perancis, dan Belgia) harus bekerja sama menjaga perimeter pertahanan, agar Nazi tidak sampai membawa tank-tank bajanya menyusuri pantai yang landai dan terbuka. Dunkirk, sebuah kota pelabuhan kecil di pesisir utara pantai Perancis, menjadi saksi awal pertempuran Perang Dunia II.

Perlawanan Tentara Sekutu yang sudah berada pada titik nadirnya, membuat Inggris harus memutar otak guna menyelamatkan negaranya sendiri dari invasi Jerman, yang beberapa waktu sebelumnya telah menguasai Polandia, Belgia, Luksemburg, Belanda, dan sebentar lagi Perancis. Operasi Dynamo adalah langkah Inggris dalam menyelamatkan Tentara Sekutu, khususnya tentara Inggris dari kesia-siaannya memerangi Hitler di Perancis dan membawa pulang mereka untuk mempertahankan negaranya sendiri dari musuh yang sudah berada di ambang pintu.

Kemustahilan Operasi Dynamo dan kisah nyata dari keputus-asaan evakuasi Dunkirk tersebut diceritakan kembali oleh Christopher Nolan ke dalam suatu film perang yang khas, tidak konvensional, kompleks namun begitu sederhana. Tidak seperti kisah heroik film-film perang sebelumnya, Dunkirk adalah lambang perlawanan dari kepungan pemusnahan–melawan takdir.

Dunkrik menampilkan gambaran perang yang ambigu, dimana kemenangan tidak diindentifikasi dari tuntas atau tidaknya sebuah misi, berapa banyak musuh yang mati dari kepala yang ditembus peluru atau dari sebarapa banyak korban terluka yang bisa diselamatkan seorang diri. Melainkan dari seberapa teguh, suatu kepercayaan bisa dipegang dan diwujudkan di tengah keadaan yang mustahil dinafikan, serta dari seberapa kuat, manusia dapat melawan rasa keputus-asaannya dalam bertahan hidup. Dunkirk adalah teror, kekuatan abstrak yang mengancam untuk menelan kehidupan orang biasa.

Ratusan ribu tentara meringkuk bersama di sepanjang garis pantai kota pelabuhan Dunkirk, berlindung dari gempuran bom-bom yang dijatuhkan oleh pesawat musuh. Tubuh-tubuh mengapung liar mengikuti gelombang air laut untuk bersatu dengan luberan minyak yang bocor dari kapal-kapal penyelamat yang hancur dan tenggelam oleh torpedo musuh. Sedangkan di udara, pesawat tempur Inggris menjerit melintasi langit, berharap bahan bakarnya cukup untuk menembak jatuh semua pesawat musuh yang mencoba menghancurkan kapal-kapal penyelamat.

Adalah Tommy (Fionn Whitehead), seorang tentara Inggris yang berhasil selamat dari gempuran peluru keputus-asaan tentara sekutu, yang mengira ia adalah musuh bersamaan dengan lima orang temannya yang menjadi pembuka film ini. Bertahan hidup dari serangan keputus-asaan sekutu tadi hanya membawanya untuk melihat, ribuan massa yang berbaris rapi di sepanjang pantai, menunggu kapal yang mengantar mereka pulang. Dia dan Gibson (Aneurin Barnard) membawa prajurit yang terluka agar dapat menaiki kapal penyelamat yang akan segera berangkat itu dengan mudah, tanpa harus mengantri lama. Rencana tidak berjalan mulus, mereka diusir dari kapal. Tak lama berselang kapal penyelamat tadi karam oleh bom yang dijatuhkan oleh pesawat musuh, disana mereka bertemu Alex (Harry Styles) serta beberapa orang lainnya yang berhasil keluar dari kapal penyelamat.

Di subplot lain, Dawson (Mark Rylance) adalah satu dari sekian banyak pelaut sipil yang kapalnya ditugaskan untuk membawa pulang tentara Inggris. Alih-alih membiarkan kapalnya dinahkodai oleh Angkatan Laut Inggris, mereka lebih memilih berangkat sendiri. Dalam perjalanan ke Dunkirk, Ia dengan anaknya Peter (Tom Glynn-Carney) dan temannya George (Barry Keoghan), menyelamatkan seorang tentara Inggris (Cillian Murphy) yang terombang-ambing kedinginan di atas kapal penyelamat yang sudah tenggelam. Setelah selamat dari gempuran torpedo kapal selam musuh, membuatnya ingin segera pulang dan tak ingin lagi kembali ke Dunkirk. Traumatik tentara tadi membawa perdebatan hebat diatas perahu Dawson.

Dan di atas keributan itu, kita menyaksikan keidahan langit biru terusan Inggris melalui manuver mengesankan ala dogfights yang dilakukan oleh dua pilot RAF Spitfire, Farrier (Tom Hardy) dan Collins (Jack Lowden). Mereka adalah pilot-pilot yang dikirim untuk mendukung kesuksesan Operasi Dynamo dari angkasa.  Menjelajahi udara dan bertempur melawan pesawat musuh dengan tangki bahan bakar yang cepat habis.

Christopher Nolan (sutradara dan penulis naskah) mencoba mengambarkan kengerian dari permulaan Perang Dunia II ini dengan menghindari gambaran peristiwa (perang) yang lebih luas (seperti; strategi perang, alasan Inggris ikut berperang di tanah Perancis, kekuatan militer yang kurang, dst) dan lebih memfokuskan informasi Dunkirk kepada peristiwa (keadaan) evakuasi -tempat di mana harapan hancur dalam sekejap, keintiman emosi serta usaha para prajurit yang sama-sama berjuang bertahan hidup, melawan keputus-asaan. Maka tidak heran jika perintah langsung dari Perdana Menteri Inggris (Winston Churchill) tentang Operasi Dynamo yang menjadi akar peristiwa Dunkirk hanya dikomunikasikan sepintas lalu saja, melalui percakapan biasa, tanpa visual.

Keputusan Dunkirk untuk fokus pada peristiwa evakuasi para tentara yang sudah dikepung musuh dari segala penjuru (darat, laut dan udara) tersebut dimanifetasikan dengan baik melalui pilihan Dunkirk untuk mengurangi kualitas informasi film melalui dialog para aktor (yang minim dan terkesan seperlunya itu), dan lebih mengeksplorasi atmosfer perang melalui musik serta tindakan-tindakan kecil para aktor dalam melihat dan memanfaatkan peluang-peluang untuk menyelamatkan diri, melumpuhkan musuh dan membantu menyelamatkan para tentara.

Penonton dibawa masuk ke jantung keputus-asaan Dunkirk melalui tiga setting penceritaan yang terbentang pada waktu yang berbeda. Peristiwa satu minggu di daratan, satu hari di laut dan satu jam diudara, ditambah dengan minimnya dialog dan pengembangan karakter tokoh membuat Dunkirk hadir tanpa sosok heroik namun sukses menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan ditengah teror keputus-asaan yang biasanya diemban oleh satu atau dua tokoh saja. Visi perang yang khas serta kompleks tersebut membuat kita menyadari kesederhanaan mereka sebagai manusia biasa, yang bergerak karena hasrat untuk menyelamatkan diri sendiri dan/atau orang lain. Mereka semua adalah para tentara dan masyarakat sipil yang hadir untuk alasan manusiawi. Apakah itu untuk melindungi para tentara dari serangan pesawat musuh, menyelamatkan manusia-manusia yang tengah bertahan dari kepungan teror keputus-asaan atau untuk menyelamatkan diri sendiri dari pemusnahan. Tidak ada yang spesial dalam upaya bertahan hidup. Tidak ada manusia yang lebih unggul dari manusia lainnya.

Berada didalam kapal penyelamat bukan suatu jaminan akan sebuah keselamatan. Apalagi jika dibandingkan dengan mereka yang masih berada di pesisir pantai, menunggu antrian (yang begitu panjangnya) untuk menaiki kapal, sambil berharap cemas musuh tidak menghampiri mereka di tanah luas tersebut. Tentara-tentara berangkat dengan kapal penyelamat hanya untuk dilemparkan kembali ke atas pasir dalam tubuh-tubuh yang mengapung. Berkali-kali harapan mereka dihancurkan dari langit dan ditelan oleh laut.

Kita tidak akan menemukan kehangatan rasa persaudaraan antar prajurit yang saling menghibur teman sebayanya dengan cerita-cerita tentang rumah, kekasih atau nilai moral dan makna dari suatu perperangan bagi satu individu melalui pidato yang terukur dan sempurna karena Dunkirk, mewujudkan dirinya sebagai suatu keterasing didalam keramian. Tidak ada solidaritas dalam upaya bertahan hidup, semua individu berdiri sendiri-sendiri bahkan untuk alasan manusiawi sekalipun. Semua orang mengingukti instingnya untuk dapat bertahan hidup.

Sedikit yang bisa dikatakan namun begitu banyak yang tersampaikan. Begitulah perang versi Dunkirk yang penuh teror itu. Dengan komposisi dialog yang minim serta aransement musik yang begitu tajamnya dari Hans Zimmer, membuat Dunkirk berhasil menginformasikan keputus-asaan, ketakutan serta teror yang tiada henti-hentinya mencoba menghancurkan harapan mereka. “Supermarine” dan berbagai aransemen musik Hans lainnya, begitu instens membawa atmosfer Dunkirk yang menegangkan, mencekam sekaligus khidmat dalam mengambarkan kenyataan bahwa, hidup seseorang bisa berakhir kapan saja dan dimana saja. Kerentanan mental yang luar biasa dari suatu individu atas harapan rapuh yang akan mereka bangun sendiri adalah pengingat bahwa bahaya tidak akan berhenti tanpa perlawanan.

Selama 106 menit, dengan sinis Dunkrik memanipulasi emosi dan karakter manusia dalam upayanya untuk bertahan hidup. Sekitar 400.000 laki-laki membutuhkan pertolongan dari gempuran musuh yang tidak pernah diinformasikan dengan lugas, yang tampil hanya dari kejauhan baling-baling Spitfire. Pesawat-pesawat menyerbu pantai, menjatuhkan bom dan para pasukan yang berlindung, kemudian berbaris kembali saat bahaya telah berlalu. Musuh adalah kekuatan alam itu sendiri, kekuatan pemusnah yang datang dari segala penjuru arah, termasuk dari dalam diri kita sendiri.

Siapa yang akan hidup dan siapa yang akan mati ketika peluru-peluru melayang, bom-bom berjatuhan dan air laut naik ke lambung kapal? Ada hal lain yang mesti dilakukan selain menunggu dan berharap.[]

Silakan BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Silakan Berkomentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>