Diskusi Budaya Ngopi

820 820 Eka Rahmawati

Kehadiran kopi tidak tiba-tiba menjadi life style masyarakat hari ini. Perjalanan kopi hingga dicintai oleh banyak orang melalui proses yang panjang. Kualitas kopi terus dikembangkan mulai dari petani, roaster, dan prosesornya. Itulah yang dikatakan oleh Rio, manajer 372 Kopi, dalam diskusi “Kopi dan Transisi Budaya”, di 372 Kopi Dago, Bandung, pada hari Senin, 30 Juli 2018.

Diskusi yang dimulai pada malam hari dirasa sangat tepat. Sebab, malam merupakan waktu yang sering kali digunakan untuk minum kopi sambil nongkrong di kafe. Kebetulan sekali, kafe tersebut sedang dikunjungi banyak orang sehingga diskusi tersebut dapat didengarkan oleh banyak orang. Sayang sekali jika tidak mengikuti diskusi ini sebagai pecinta kopi.

Pembicaraan yang diangkat dalam diskusi tersebut yaitu lebih kepada sejarah kopi sampai ke kehadiran kopi yang sedang dicintai oleh masyarakat. Ada tiga orang pembicara dalam diskusi ini. Pertama, Robi, seorang vokalis band indie, Navicula, yang juga merupakan petani kopi asal Bali. Sejak SD, Robi sudah mengenal kopi melalui kebun kakeknya. Robi bercerita bahwa dulu ketika tidak punya uang dan ingin jajan, dia harus menjemur kopi dan hasilnya untuk uang jajannya. Begitulah awal Robi mengenal kopi sampai saat ini dia masih aktif dalam dunia kopi.

Pembicara kedua, Syarif Maulana, seorang dosen ITB yang membahas sejarah kopi itu sendiri. Dalam pembicaraannya, Syarif mengatakan bahwa kopi bukan sekadar minuman, melainkan waktu senggang. “Menurut Habernas, pikiran-pikiran besar dihasilkan dari waktu luang. Peradaban besar dimulai dari nongkrong”, ucap Syarif.

Rio, manajer Kopi 372, menjadi pembicara ketiga. Dia menceritakan secara singkat pengelolaan kafe tersebut. Bagaimana dia melihat potensi pasar hari ini bahwa masyarakat sering nongkrong-nongkrong sambil ngopi sosio petal space. Sehingga ini menjadi kesempatan untuk Rio dalam membuka usaha kopi.

Diskusi berlangsung dengan santai, sesekali Zulfa, moderator, memancing pembicara lain untuk tertawa dan membuat peserta diskusi terbawa suasana. Robi pun diberikan kesempatan menceritakan pengalamannya bersama kopi. Karena Robi sudah bersentuhan dengan kopi sejak kecil, Robi menciptakan lagu yang berjudul “Secangkir Kopi”. Lagunya pun dilirik oleh Glenn Fredly.

Baca juga
Tokoh-tokoh yang Ganjil
Lokalatih Bersama Lima Perupa Muda

Ada poin menarik dalam diskusi yang perlu diperhatikan oleh kita yaitu regenerasi petani. Ketimpangan produksi kopi yang semakin banyak tidak sebanding dengan jumlah petani yang ada. Anak-anak petani kopi tidak memiliki keinginan untuk meneruskan menjadi seorang petani. Saat ini jumlah anak-anak petani yang meneruskan menjadi petani kopi hanya 3% saja. Selain masalah regenerasi, juga ada masalah lain yaitu adanya pengepul sehingga petani belum bisa sejahtera sampai saat ini.

Masalah selanjutnya yaitu penggunaan pestisida untuk tanaman kopi. Penggunaan pestisida tersebut mengganggu ekosistem lain di sekitar tanaman kopi. Biji kopi akan terganggu dengan penggunaan pestisida tersebut.

Setelah diskusi selesai, kegiatan masih berlangsung. Robi mengajak Siska, seorang perempun cantik yang pandai memainkan kecapi dan harpa, berkolaborasi menyanyikan beberapa lagu. Dari beberapa lagu yang dibawakan, salah satunya lagu Navicula berjudul “Mafia Hukum”. Sebagai penutup acara ini, Siska memainkan harpa.[]

Eka Rahmawati

Eka Rahmawati

Bergiat di Unit Kegiatan Studi Kemasyarakatan UPI Bandung.

All stories by:Eka Rahmawati

Leave a Reply

Eka Rahmawati

Eka Rahmawati

Bergiat di Unit Kegiatan Studi Kemasyarakatan UPI Bandung.

All stories by:Eka Rahmawati
error: