MENU
deng

20 Maret 2017 Buku, Catatan

Déng dalam Bahasa yang Lain

Pengajian Sastra Majelis Sastra Bandung (MSB) ke-84 digelar dalam iringan hujan yang tak henti sepanjang kegiatan di luar Gedung Indonesia Menggugat (GIM). Kali ini mengaji novel Déng karya Godi Suwarna yang diterjemahkan oleh Deri Hudaya (18/3/2017). Novel yang menurut Pelukis Hanafi adalah akuarium yang terbakar.

Dian Hendrayana, pembicara pertama, mengangkat ciri khas Godi Suwarna dalam menulis puisi, prosa, maupun nonfiksi, yaitu bunyi dan irama yang diperhitungkan sangat matang oleh pengarang. Hal ini diakui pula oleh Godi yang menyampaikan beberapa pandangannya dalam menulis dan keterpengaruhan masa kecilnya melalui puisi yang dilagukan melalui radio, terkait bunyi dan irama.

Namun, ciri khas ini coplok pada terjemahan Déng dalam bahasa Indonesia. Tentu karena ada keterbatasan dari satu bahasa dalam menampung kode budaya dan bahasa, tutur Dian.

Terlepas dari gaya menulis Godi dalam bahasa Sunda, Dian menuturkan bahwa terjemahan Déng oleh Deri raoseun. Terbukti dengan adanya santri-santri yang menangis saat membaca terjemahan Déng dalam sebuah pengajian buku.

Adapula “kenakalan-kenakalan” Deri dalam menafsirkan idiom dan beberapa kata majemuk yang menjadi warna sendiri pada terjemahannya. Selain itu, Dian berpendapat bahwa perlunya penerjemahan karya sastra Sunda ke dalam bahasa lain untuk mengambil nilai-nilai dan pikiran Sunda yang mesti dibaca oleh khalayak.

Lain halnya dengan Dian, Zulfa Nasrulloh, pembicara kedua, lebih menyoroti persoalan penerjemahan dan realitas kehidupan tokoh kaitannya dengan Sangkuriang  dalam Déng.

Zulfa berpendapat bahwa menghadapi teks sebagai bahasa, sebagai entitas baru, tanpa peduli pada tirani pengarang (istilah Barthes) menjadi penting dilakukan. Sehingga dapat dikatakan makna sejati tentu milik pengarang, dan upaya tafsir terhadap karya dari siapapun.

Menurut Zulfa, karya Déng adalah tafsiran Deri terhadap karya Godi. Karena perbedaan bahasa, juga karena bahasa pilihan itu merupakan kesimpulan Deri menilai kerja estetika bahasa Godi.

Setelah pendiskusian, M Malik (moderator) mempersilakan Godi Suwarna untuk menyampaikan latar belakang dan pengalaman terkait proses penciptaan Déng. Godi pun mengungkapkan ketakjuban cerita Sangkuriang dan Oedipus mulai dari saat ia masih SMP, hubungan dengan ibu kandungnya dan kaitannya dengan Déng, serta kegelisahan Hanafi saat selesai membaca terjemahan Déng untuk menciptakan desain wajah buku.[]

Silakan BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Silakan Berkomentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>