Dari Hidden Agenda sampai This Town Needs, Kota Butuh Ruang Alternatif

820 820 Edi Sutardi

Di tengah kemelut dinamika politik Hongkong, kelompok muda Hongkong menemukan ruang kebebasan dan resistensi melalui Hidden Agenda—venue punk lokal pinggiran yang terancam punah. Di sisi tenggara distrik Kowloon Hongkong, pada sebuah gudang kecil di lantai dua bangunan yang bertingkat 25, Hidden Agenda berada, dan ditahbiskan sebagai venue legenda semacam CBGB, New York. 

Hidden Agenda terbentuk di sebuah studio kecil apertemen di distrik Kwun Tong, saat Cantopop sebagai musik arus utama Hongkong mendominasi hingga permulaan 2000-an. Aktivitas pertamanya menjadi tempat latihan band, dan adakalanya menjadi tuan rumah pertunjukan langsung informal dan membuntut pada tradisi BYOB (Brings Your Own Bottle/Booze).

Hidden Agenda sebagai ruang alternatif—yang cukup kontroversial di tengah masyarakat Hongkong yang masih dijejali nilai-nilai konservatisme Cina—membuka jalan bagi genre musik marjinal, seperti psychedelic rock, reggae, dan hardcore punk untuk menyuarakan suara kelompok mereka ke tengah gelanggang publik. Setiap venue tersebut berada di lingkungan kota industri berdebu, yang menarik minat para artis mencari sewa murah dan ruang fleksibel saat harga real estate menjulang selangit.

Pabrik kosong menjadi tempat pelarian terakhir untuk menggelar konser, karena cukup terisolasi untuk menghindari komplain dari penduduk setempat dan para pelaku bisnis. Aktivitas bawah tanah ini sering menghadapi masalah, terutama berkaitan dengan aturan penggunaan pabrik yang seharusnya diperuntukkan untuk kegiatan industrial. Orang-orang datang ke Hidden Agenda untuk merayakan semangat pemberontakan dan prinsip laissez-faire—suatu pemandangan kontras dari sebuah wilayah yang mendambakan kejayaan uang dan investasi real estate.

Karena kegiatan Hidden Agenda sering menerima penolakan lisensi legal untuk menggelar konser, para pengelolanya melakukan kerja kreatif agar kegiatan Hidden Agenda dapat tetap berlangsung. Salah satunya adalah dengan membuka warung makanan takeaway.  Namun cara ini tak selamanya berjalan mulus, karena sering berhadapan dengan departemen kesehatan  dan polisi yang mempermasalahkan mengenai pelanggaran sewa lahan hingga prosedur keselamatan kebakaran.

Musik sebagai pesan politik bukanlah barang baru dalam kehidupan perkotaan. Hal tersebut menjadi penting sebagai alat untuk mengekspresikan kecemasan generasi penentang sebagai sisa-sisa dari gerakan “Umbrella Revolution”. Salah satu puncak dari resistensi ini terjadi pada 2014, saat sekitar 100.000 orang bersatu melalui protes gerakan mahasiswa menentang keputusan Beijing untuk mengatur secara penuh hak pilih di Hongkong.

Beberapa musisi lokal menjadi lebih bersuara politis setelah peristiwa protes, yang mengilhami bentuk gerakan baru perlawanan dalam budaya protes terhadap Cina. Beberapa band berpengaruh seperti My Little Airport, Chochukmo dan King Ly Chee, yang sering menyemarakkan panggung Hidden Agenda dengan lirik-lirik provokatif dan gaya naratif personal untuk merespons iklim kegelapan politik Hongkong. Kelompok lain menyuarakan tentang pengekangan kebebasan akademis, kebrutalan polisi, dan hilangnya budaya lokal. 

Hidden Agenda telah mencatatkan sejarah dalam peta politik Hongkong sebagai bagian dalam menentang otoritarianisme Cina. Ia menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah generasi penentang yang membukakan pintu bagi bentuk-bentuk baru budaya protes terhadap Cina. Selama sembilan tahun terakhir, Hidden Agenda telah berpindah sebanyak empat kali, dan terus bergeriliya mencari venue baru. Namun Hidden Agenda telah berubah nama menjadi This Town Needs (TTN), sebuah nama yang terinspirasi dari band indie British, This Town Needs Gun.

Musik dalam Kekangan
Panorama gerakan musik bawah tanah Hongkong, mengembalikan ingatan pada dekade penting Uni Soviet pasca-Stalin dengan politik liberalisasi Gorbachev, Glasnost, pada dekade 60-an, yang memberikan jalan bagi revivalisme musik rock yang mulai keluar dari persembunyiannya‒mengisi siaran radio, televisi, dan ruang-ruang konser. Bermula dari musik itu sendiri, terdengar suara dari sebuah generasi yang menginginkan kebebasan yang disambut di mana-mana oleh golongan tua dan muda.

Generasi muda Soviet tidak canggung lagi memutar lagu Beatles dari piringan hitam yang banyak dibawa oleh orang tua mereka saat melancong ke Amerika Serikat, atau memainkan lagu-lagu milestone Led Zeppelin. Lebih jauh lagi, sebelum kemunculan genre rock, invasi musik jazz melalui siaran radio Voice of America telah diperdengarkan sejak tahun 1950-an, dan digadang-gadang sebagai senjata rahasia Amerika Serikat pada masa perang dingin untuk melawan ideologi Uni Soviet.

Tak sedikit para kawula muda Soviet bermimpi mendengar tiupan trompet Duke Ellington dalam Take the  A Train. Kerena keterbukaan ini sesungguhnya dipantik oleh  Stalin pasca Perang Dunia II, yang membuat Soviet menjadi kere akibat biaya perang yang besar. Uni Soviet memboyong sebanyak mungkin film-film Holywood tahun 1930-an  untuk diputar di negaranya demi meraup pundi-pundi. Meski film-film Holywood dapat diputar, tetap saja terdapat manipulasi seperti penggantian judul dan penyembunyian nama-nama aktor pada film tersebut. Tak ayal masyarakat Uni Soviet menjadi familiar dengan gaya kehidupan koboi ala Jhon Wayne.

Pada era Glasnost itu pula para pemuda sering berkumpul di pusat kebudayaan tandingan, kafe Saigon di Leningrad, sebuah kota yang terletak 700 km dari Moskow. Warung minum ini memilki sejarah panjang dan berliku. Kafe di “Restoran Moskow” itu resmi disebut Saigon oleh penghuni-penghuninya sebelum Revolusi Rusia meletus. Terletak di Nevsky Prospect‒jalan utama Leningrad, yang oleh anak-anak muda disebut Broadway-nya Rusia‒kafe itu menjadi tempat ajaib yang dijadikan tempat kongkow para rocker, hippies, dan para pedagang kota.

Keberagaman genre pada dekade itu, merentang dari jazz, rock hingga new wave. Dan salah satu band berpengaruh di Rusia saat itu, yakni Televizor, telah dua kali dilarang bermain di Leningrad berkat dua lagunya: Lepaslah dari Kendali, dengan lirik manifesto politik yang dinyanyikan lewat  mulut yang terbungkam; dan Kami Berbaris, nyanyian sedih yang memaki slogan-slogan Soviet secara terang-terangan.

Sebagaimana para penggiat komunitas bawah tanah di Hongkong, skena bawah tanah Uni Soviet berada di bawah kendali pengawasan intelejen dan sering dikritik sebagai tempat para pemusik kelas kambing, rekaman-rekaman butut yang tak memenuhi standar, hingga diinterogasi oleh polisi bagi anak-anak muda berjaket hitam dan pemberhentian pertunjukan.

Sebagai respons terhadap aktivitas gerakan musik bawah tanah tersebut, pemerintah Uni Soviet resmi menyatakan membebaskan rock. Namun yang terjadi adalah bentuk kontrol dengan membentuk lingkaran-lingkaran masyarakat rock, laboratorium-laboratorium rock yang merekam dan mensponsori pertunjukan. Hasilnya, musik rock yang yang dihasilkan tak begitu gemuruh, dengan lirik-lirik halus dan kaku yang bercerita tentang alam. Dan jenis rock jinak inilah yang diizinkan manggung di luar Soviet.

Sebagaimana Hongkong dan Uni Soviet, skena bawah tanah Bandung pernah mengalami masa gemilang pada dekade 1990-an dengan munculnya komunitas punk yang mengusung semangat Do It Yourself (DIY), yang bermula dari perkumpulan PI¹ dan Riotic dengan lingkaran-lingkaran kecil yang menenteng dan mendiskusikan buku-buku anarkisme. Komunitas punk ini tidak hanya bergerak dalam ranah musik, tapi turut terlibat dalam gerakan sosial yang dinamakan Front Anti-Fasis (FAF), terbentuk pada tahun 1998 di Bandung, yang turut dalam gerakan perlawanan terhadap Orde Baru.

Salah satu peristiwa bersejarah bagi gerakan FAF adalah demonstrasi yang diikuti oleh kurang lebih 150 orang dengan berjalan kaki sejauh 10 km dari Dago menuju Alun-alun Bandung. Demonstrasi ini berakhir dengan penangkapan terhadap 48 demonstran, karena dalam aksi massa tersebut, kelompok ini menghancurkan berbagai baligo dan papan iklan yang dianggap sebagai simbol kapitalisme. Peristiwa itu memantik reaksi keras aparat yang akan menembak di tempat para anak-anak punk yang terafiliasi dengan gerakan anarkis.

Pada masa itu, bermunculan lagu-lagu anti-pemerintah dan menjadi inseminasi dari kelahiran zine-zine yang menyebarkan isu-isu krusial sebagai kontra wacana dari rezim militer Orde Baru.  Pada dekade 90-an, lahir pula band-band hardcore, punk, dan alternatif legendaris seperti Full of Hate, Puppen, Runtah, Turtles Jr., Keparat, Savor of  Filth, Jeruji, The Bollocks, Balcony, Cherry Bombshell, dan lain-lain. Pada eranya, komunitas bawah tanah ini menghasilkan rilisan fisik kompilasi, setidaknya tiga yang mudah diingat, “Masaindahbangetsekalipisan” (40.1.24 Records/1997), “Injak balik! A Bandung Punk/HC Compilation” (Tia An Men 89 Records ), dan “Bandung’s  Burning!” Vol 1 (Riotic Records), yang rilis pada tahun yang sama, 1997.

Seperti geliat kaum muda di Soviet dan Hongkong, kelompok muda Bandung saat itu memiliki ruang alternatif yang menjadi titik simpul dari berbagai kelompok dan menjadi penanda era baru pasca-Saparua. Tahun 2003, kolektif  PI mengorganisasi acara punk pertama di Bouqiet Cafe, menggunakan nama Kolektif  Bintang Hitam atau Klub Racun².

Selain di Buqiet Cafe, pada rentang tahun 2003-2006, acara punk juga digelar di IF Venue, sebuah ruang alternatif yang didirikan tahun 2004 yang mengusung slogan, “Music, Art, and Literacy”. IF Venue banyak menggelar acara musik underground, pameran seni, diskusi politik, workshop, program residensi, pendidikan alternatif, dan literasi. Selain Buqiet dan IF Venue pada era itu, terdapat pula tempat-tempat alternatif lain di Bandung yang digunakan untuk menggelar acara, yaitu di studio-studio band seperti Grama Studio di jalan Cihampelas atau Studio Jawara di jalan Lengkong Besar.

IF Venue kemudian ditutup setelah dipicu penghentian kegiatan oleh polisi karena massa yang membeludak memenuhi jalan Mochamad Ramdan, mengakibatkan kemacetan lalu lintas. Puncak dari pukulan keras bagi kegiatan bawah tanah skena Bandung terjadi saat acara rilis album Beside di Gedung Pusat Kebudayaan Asia Afrika (Asia  Afrika Culture Center/AACC), pada Februari 2008, yang memakan korban tewas hingga sebelas orang dan memukul kegiatan skena bawah tanah  ke era kemandekan.

Hari ini, meskipun kegiatan musik skena bawah tanah mulai bergeliat kembali, tapi acara musik dengan skala besar banyak digelar di lapangan milik TNI, sebuah kenyataan yang menyedihkan dari ketiadaan atau kurangnya tempat yang representatif untuk menggelar konser.

Seperti mengulang kembali peristiwa besar “Umbrella Revolution” pada 2014 dengan bentuk yang baru,  Hongkong hari ini menghadapi situasi yang sangat sulit. Eskalasi politik dalam tujuh bulan terakhir semakin memanas, yang dimulai dengan pengajuan amandemen undang-undang ekstradisi pada bulan Februari 2019, dan berlanjut dengan protes besar-besaran pada bulan-bulan selanjutnya. Protes ini mendapatkan respons keras dari aparat sehingga meningkatkan jumlah kekerasan terhadap para demonstran.

Protes warga Hongkong tahun 2019 disebut-sebut memiliki corak yang sama dengan “Color Revolution”, yang pernah dilakukan oleh negara-negara bekas Soviet pada dekade 2000-an, yang mengusung protes anti-kekerasan untuk melawan otoritarianisme, dan mengupayakan kehidupan yang lebih demokratis. Bahkan protes warga Hongkong 2019, disebut sebagai pertarungan hidup-mati.

Hidden Agenda  yang telah berubah nama menjadi This Town Needs, telah mengalami perubahan yang cukup besar dan memilih 1F, Commercial Accomodation, Ocean One, 6 Shung Shun Street, 852 Yau Tong sebagai markas barunya. Dengan merebaknya protes di Hongkong hari ini, dan meningkatnya tekanan serta pengawasan terhadap kegiatan warga Hongkong, ruang alternatif seperti Hidden Agenda: This Town Needs, masih akan berjalan tertatih-tatih.

Idealnya, ruang alterantif harus terus dihidupkan karena nilai eksistensi sebuah venue menunjukkan kesehatan ekosistem kota dari suatu wilayah. Kabar buruknya, kesemrawutan situasi Hongkong hari ini menghambat pengembangan potensi warganya untuk berkarya. Nilai sebuah venue tidak hanya sebatas pada sebuah arena pertunjukan, tapi venue juga memberikan andil besar sebagai inkubator bakat dan pusat inovasi yang dapat mendukung ekosistem ekonomi suatu wilayah, karena melibatkan orang-orang dari berbagai profesi dan keahlian untuk terlibat dalam kerja kreatif dan menjadi ruang edukasi serta solidaritas antar komunitas.

 

________________________________

¹PI merujuk kepada istilah “Pasar Induk” yang diasosiasikan dengan kondisi Mall Bandung Indah Plaza yang sibuk dengan kegiatan orang berbelanja dan sebagainya yang mirip dengan suasana pasar induk. Dalam perkembangannya, istilah PI diplesetkan menjadi “Pondok Indah” mengacu pada Pondok Indah Mall, yang merupakan salah satu mall mewah di Jakarta. Kolektif PI merupakan kelompok skena bawah tanah Bandung yang suka kongkow dan bersenang-senang di belakang BIP pada dekade 90-an.

²Klub Racun merupakan ruang alternatif yang digagas untuk mewadahi gelaran konser musik skena bawah tanah (punk). Klub Racun/Rumah Pirata dikelola oleh Bandung Pyrate Punk yang merupakan promotor musik yang menyelenggarakan konser dengan konsep Do It Yourself (DIY) dan memiliki jaringan internasional seperti Amerika, Inggris, Kanada, Belanda, Malaysia, dan beberapa daerah lainnya di Indonesia. Salah satu kegiatan ekslusif kolektif ini adalah Libertad Fest, acara tahunan dengan konsep luar lapangan yang mempunyai reputasi internasional. Kolektif ini juga mengelola label rekaman Perompak Record. Terbaru, mereka menerbitkan buku “Come Under The Radar: The Photo Story of Rumah Pirata”.

 

Sumber tulisan:
Prasetyo, F.A.(2017). Punk and the city: A history of punk in Bandung. Punk & Post Punk. 6 (2), 189-211. doi:10.1386/punk.6.2.189_1

Chan, V. (2018). The fight to save Hong Kong’s underground music scene: A punk prayer. https://www.huckmag.com/perspectives/reportage-2/hong-kongs-underground-music-scene-political-ever/. Diakses 10 Agustus 2019.

“Rock Gaya Lenin, Konser Rock Setelah Era Keterbukaan Soviet”, diperoleh dari artikel rubrik Selingan Majalah Tempo terbitan 30 Mei 1987

Edi Sutardi

Edi Sutardi

Penulis lepas. Tertarik pada kajian musik, seni, dan perkotaan. Tinggal di Bandung.

All stories by:Edi Sutardi
Leave a Reply

Edi Sutardi

Edi Sutardi

Penulis lepas. Tertarik pada kajian musik, seni, dan perkotaan. Tinggal di Bandung.

All stories by:Edi Sutardi
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.