“Dangdut Hijab” dan Maknanya

702 406 Moeslim

Beberapa Waktu yang lalu saya menghadiri undangan pernikahan teman saya di Garut. Di pesta tersebut ada hal yang menarik perhatian saya, yakni pergelaran organ tunggal atau bahasa Sundanya éléktun. Menariknya, kedua biduanita orkes dangdut itu menggunakan hijab.

Di pesta tersebut ada dua kelompok yang aktif berjoget. Kita bisa namakan kelompok itu dengan nama kelompok A dan B. Kelompok A adalah tamu dari luar Garut, sementara kelompok B adalah warga sekitar.

Kelompok A berjoget ke atas panggung. Mereka terlihat sopan sekali. Mereka berjoget dengan wajar. Sementara itu, pada momen yang berbeda kelompok B pun berjoget. Berbeda, mereka berjoget cukup ekstrem alias tidak sopan. Mereka menyentuh tubuh biduanita berhijab itu. Mereka menghimpit tubuh biduanita berhijab itu sembari nyawér. Seolah itu adalah hal yang biasa bagi biduanita itu. Apa yang sebenarnya terjadi?

Saya melihat kelompok A mampu membaca tanda-tanda yang ada dalam panggung. Sekurang-kurangnya ada dua tanda yang ada di dalam panggung; dangdut dan biduanita berhijab. Kelompok A melihat bahwa dangdut dan biduanita hijab itu adalah bahasa yang seolah-olah menyatakan “boleh goyang tapi yang sopan”. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi dengan kelompok B?

Dalam hal ini, seperti apa yang dikemukakan Umberto Eco bahwa pengirim dan penerima makna memiliki interpretasi dan ideologi yang berbeda. Hal ini memengaruhi proses pemaknaan. Kelompok A memiliki interpretasi dan ideologi yang berbeda dengan kelompok B dalam memandang dangdut dan biduanita berhijab itu.

Perbedaan ideologi itu membuat tindakan kedua kelompok itu berbeda pula. Kelompok A kiranya memiliki ideologi “biar goyang asal sopan”. Lain dari itu, kelompok B katakanlah memiliki ideologi “dangdut mesum”. Apapun bajunya, biduan harus dalam pelukan.

Namun, hal yang menggangu pikiran saya ialah mengapa kelompok B tidak membaca hijab sebagai tanda yang memberi makna? Sangat mungkin tanda ini diabaikan oleh kelompok B. Pertanyaan selanjutnya ialah bagaimana tanda itu bisa diabaikan sedangkan tanda itu merupakan suatu sistem (bahasa atau langue) yang tertanam di benak kita.

Apakah ada perbedaan sistem itu? Tentu saja itu tidak mungkin mengingat latar budaya kelompok A dan B cenderung sama. Apakah ideologi cukup untuk menjawab peristiwa ini? Saya sendiri masih ragu dan merasa tulisan ini masih sumir untuk menjawab peristiwa ini.

Bagaimana pun hal yang juga penting dalam peristiwa ini ialah bahwa hijab tidak menjamin pemaknaan tunggal. Fungsi hijab sangat bergantung pada yang-memakainya dan yang-melihatnya. Hijab pada momen tertentu mungkin tidak dimaknai lagi secara harfiah sebagai batas atau penghalang. Hijab bisa bermakna banyak (gaya hidup, fesyen, syari, dll), namun pada momen tertentu hijab bahkan bisa jadi tidak bermakna.[]

Sumber foto: Dokumentasi Opet

Moeslim

Moeslim

Penulis renungan Jumat.

All stories by:Moeslim
error: