MENU
Santos-Bandung-Film-Festival-2

22 Oktober 2017 Catatan

Butuh 20 Tahun untuk Bandung Jadi Kota Industri Film

“Titik sejarah yang bagus untuk Bandung”, ujar Alga The Panas Dalam saat membuka acara diskusi yang diadakan di Auditorium Balai Kota Bandung, Jumat (20/10/2017). Acara diskusi tersebut merupakan rangkaian pembukaan Santos Bandung Film Festival.

Bahasan diskusi sendiri sangat sedikit menyinggung tentang kegiatan festival. Para pembicara lebih memaparkan tentang kondisi perfilman secara umum.

Ada empat pembicara dalam acara diskusi tersebut. Tris mewakili Badan Ekonomi Kreatif berbicara tentang hubungan dan program pemerintah kota Bandung untuk perfilman. Ale dari Bandung Film Council sebagai penyelenggara Festival menceritakan tentang kondisi perfilman Bandung. Dany Java Jive yang juga mewakili Bandung Music Council berbicara singkat tentang semangat berkesenian. Sedangkan perwakilan dari Badan Perfilman Indonesia (BPI) Dimas Jayasrana berbicara tentang regulasi perfilman Indonesia.

Khusus untuk pemaparan Dimas, banyak menguak kondisi di balik perfilman Indonesia. Menurutnya kebijakan pemerintah belum sepenuhnya mewadahi perfilman Indonesia. Salah satunya adalah tidak adanya peraturan yang serius dalam menaungi perfilman Indonesia.

Selain itu, Dimas menuturkan Indonesia masih jauh tertinggal menyoal film. Salah satunya dari segi pemasaran film hanya berkutat di pulau Jawa.

“Dari 1.200 layar bioskop di Indonesia, 80% persennya ada di pulau Jawa. Bandingkan dengan Shanghai yang memiliki 1.000 layar bioskop. Indonesia jauh tertinggal,” ujar pria berambut gondrong ini dalam acara diskusi.

Ditambahkan Dimas, butuh sebuah skema terencana jika sebuah kota seperti Bandung ingin menjadi kota produksi film. Ia mengambil contoh New York sebagai kota yang berhasil menjadi industri film.

“Di New York jika ada lokasi yang dijadikan tempat syuting film, maka jalan tersebut akan steril,” terangnya.

Ia pun menjelaskan banyak kelebihan yang didapat warga New York sebagai kota industri film. Jika syuting dilakukan di New York, pemerintah kota memiliki peraturan agar kebutuhan produksi mesti dibeli dari New York. Baik itu sumber daya produksi seperti alat-alat atau makanan sampai sumber daya manusia.

Kebijakan tersebut telah memperluas kegiatan produksi film untuk membuka lapangan pekerjaan di New York. Bagi pemerintah kota sendiri mereka hanya mendapatkan keuntungan dari pajak. Dari 100.000.000 dollars biaya syuting di Kota New York, pemerintah hanya mendapat 300 dollars untuk pajak.

Ia pun menambahkan butuh 20 tahun bagi New York untuk bisa menjadi kota industri film seperti sekarang. Mencontoh New York, waktu 20 tahun juga bisa ditempuh Bandung jika ingin menjadi kota industri Film. Bisa lebih cepat atau lebih lambat. Tergantung langkah selanjutnya. [][]

Silakan BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Silakan Berkomentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>