Buah Puting

1296 948 Yussak Anugrah

Pohon buah puting di Royal Family Village, Chiang Rai, Thailand

Pohon buah puting di Royal Family Village, Chiang Rai, Thailand. (Yussak Anugrah)

Jujur, saya baru pertama melihat buah dengan bentuk yang sangat unik di dunia. Buah ini saya lihat di Royal Family Village saat melakukan City Tour bersama rombongan International Student, Universitas Mae Fah Luang, ke beberapa tempat di Chiang Rai (27/9/2014).

Warna dan bentuknya benar-benar provokatif. Buah ini mampu mengalihkan perhatian saya dari keindahan pemandangan di tempat yang kami kunjungi untuk beberapa saat.

Karena penasaran kemudian saya berselancar mencari informasi tentang buah ini. Menurut Wikipedia, nama ilmiah buah itu adalah Solanum Mammosum. Tetapi nama populernya adalah Nipple Fruit, Titty Fruit, dan Cow’s Udder. Bahkan, ada sebutan yang lebih terasa tajam untuk buah ini, yaitu Apple of Sodom.

Masyarakat Cina menyebut buah ini dengan ‘terong berjari lima’. Sedangkan, di Jepang buah ini disebut ‘wajah rubah’. Setiap masyarakat dengan latar kebudayaan berbeda memang berhak untuk memberi nama sesuai dengan perspektif mereka. Bebas.

Buah yang aslinya berasal dari daerah Amerika Selatan ini masih sekerabat dengan tomat dan kentang. Dari segi pencitraan dan tampilan buah itu memang mengundang selera, sayangnya tidak untuk dimakan.

Di Trinidad, buah ini dijadikan obat tradisional, di antaranya untuk obat dalam merawat kaki para atlet. Tapi kadang-kadang buah ini juga bisa digunakan selayaknya deterjen.

Sedang di Cina, entah itu Cina Taipei; Cina Daratan; atau Hong Kong, buah ini dimanfaatkan sebagai dekorasi saat festival keagamaan dan saat perayaan Tahun Baru Cina.

Buah yang tidak bisa dikonsumsi karena cenderung beracun ini, jika berada di tangan manusia yang pandai mengeksplorasi dan mengeksploitasi, buah dengan banyak sebutan ini tetap akan memiliki manfaat yang luar biasa dan artistik pula.

Saya sendiri lebih senang menyebut buah ini dengan buah puting.[]

Sumber Foto: Yussak Anugrah

Yussak Anugrah

Yussak Anugrah

Pernah mengajar Bahasa Indonesia di Universitas Mae Fah Luang, Chiang Rai, Thailand. Saat ini dia sedang merintis sebuah ruang baca, seni, dan budaya bernama Rumah Baca Manyar di kampung Seuseupan, desa Sindangsari, Ciranjang-Cianjur.

All stories by:Yussak Anugrah
Yussak Anugrah

Yussak Anugrah

Pernah mengajar Bahasa Indonesia di Universitas Mae Fah Luang, Chiang Rai, Thailand. Saat ini dia sedang merintis sebuah ruang baca, seni, dan budaya bernama Rumah Baca Manyar di kampung Seuseupan, desa Sindangsari, Ciranjang-Cianjur.

All stories by:Yussak Anugrah
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.