Bertemu Kura-Kura

820 820 Armin Bell

Kau lempar kemeja kotak-kotak itu ke sudut ranjang lalu mematut diri depan cermin. Masih merah bekas ciumannya di leher kirimu. Akan menghitam, pikirmu, lalu membuka lemari, memilih baju yang akan kau pakai esok. Berkerah tinggi, agar teman-temanmu tak melihat.

Kau pikirkan lagi namanya, seperti ketika dalam perjalanan tadi kau lakukan itu—sepeda motormu nyaris menabrak kura-kura. “Anjing! Kura-kura!” Kau ingat kau mengumpat sambil mengerem sekuatnya, kura-kura itu meneruskan perjalanannya ke laut. Dan kau semakin tak ingat namanya.

Musik di pesta itu kencang, orang-orang berdansa-dansi, tak peduli ada puluhan orang berkelahi, juga tak peduli bahwa di toilet kau sedang bercumbu dengannya. Hanya tersisa rok merah marun di badannya dan kau sedang sibuk melepas tali sepatumu agar celanamu lolos, ketika suara tembakan terdengar. Kau mengutuk dirimu yang ingin sempurna telanjang. Kenapa tidak setengah tiang saja tadi? Pikirmu, lalu menggeleng sendiri; tidak baik untuk pengalaman pertama. Padahal dia sudah memunggungimu dan roknya pendek sekali.

“Bubar! Bubar! Pesta ini ditutup!” Kau dengar jelas teriakan itu karena musik telah berhenti ketika tembakan pertama membuatmu batal melepas tali sepatu. Tergesa kau naikkan celanamu dan mengambil begitu saja baju yang tergeletak di lantai. Kini kau bayangkan dia pulang memakai bajumu. Semoga orang tuanya sudah tidur ketika dia tiba di rumah, harapmu sekarang. Dan masih tak mengingat namanya.

Kau pikirkan wajah teman-temanmu yang sedang asyik berdansa-dansi ketika senjata itu meletus. Apakah mereka tiarap mencium lantai pada tembakan kedua, ketiga, pertama? Semoga tidak ditangkap lagi.

Kau bertemu mereka di penjara, dan sama-sama bebas sebulan lalu. Menjadi akrab karena tak ada lagi yang mau jadi temanmu. Fad, Mud, Han, Ron, Man, serentak menjadi sekutu. Berenam membentuk kelompok. Sispek. Dari six-pack, kata Mud dalam sebuah perundingan tentang nama geng kalian. Semua setuju setelah Fad mengingatkan bahwa bunyi ‘sispek’ sangat dekat dengan bispak. Sudah lama mereka tak bercinta, dan bispak adalah hal yang mereka dambakan.

Kau tidak pernah berpikir bahwa itu nama yang seksi atau bahwa kau merindukan bispak—kau bahkan membutuhkan segiga paket data untuk mencari maksud kata itu di internet: bispak dari bisa pake, sebutan lain untuk perempuan yang dapat diajak bercinta kilat—tetapi tak punya pilihan lain. Mereka adalah teman yang kau punya sekarang.

Di penjara, kau tak benar-benar akrab dengan mereka. Beda kasus, kalian ada di sel yang berbeda. Menjadi teman ketika beberapa hari menjelang hari pembebasan, kalian akhirnya saling tahu akan bebas di hari yang sama.

Pesta pantai yang tadi begitu liar itu kau tahu dari Fad. Dia, yang dipenjara karena menjual obat-obat terlarang dan perempuan—kau selalu protes bahwa ada obat yang tidak boleh dijual bebas dan bahwa ada bisnis jual beli perempuan, adalah orang yang dapat dipercaya kemampuannya untuk itu. Ron jelas tidak tahu apa-apa. Han dan Man juga begitu. Kemampuan terbaik mereka adalah mencopet—dipenjara setelah babak belur dihajar massa pada satu hari paling sial dalam karir mereka; sasaran mengetahui aksi mereka dan berteriak keras: copeeeeet!

Kau tak terlampau berminat dengan pesta, tetapi ide tentang bispak membuatmu tertantang. Mud, yang kau anggap paling cerdas (dia dipenjara karena pencemaran nama baik) juga mengajakmu. Naskah novelmu membutuhkan satu bahan penting: kehidupan malam. Mud mengingatkan tentang risetmu yang terputus.

Kau ingat. Beberapa bulan lalu, seorang perempuan melaporkanmu ke polisi. Perempuan malam. Kau lebih akrab dengan istilah itu daripada bispak. Kau tak ingat nama perempuan malam itu dulu, tetapi mengenangnya sebagai perempuan yang kejam. Dia melaporkanku hanya karena aku membayar setengah harga? Toh, kami tidak bercinta. Aku hanya ingin wawancara saja. Kau pikirkan itu sekarang dan sadar betapa jauh kau dari cita-cita menjadi penulis. Dapatkah seseorang tanpa ingatan yang kuat menjadi penulis terkenal?

Kau baru saja hendak tidur ketika pintu kamarmu digedor. Seseorang memanggil. Kau tahu itu Ron. Dia tidak sendiri. Semua ada. Di kamarmu, Sispek berkumpul lagi.

Dengan penuh semangat, Fad bercerita tentang pengalamannya lolos dari maut. Bukan dari petugas bersenjata. Mereka segera pergi setelah penyelenggara pesta memberi amplop tebal, kata Han. Maut Fad adalah seorang laki-laki yang memakai baju perempuan yang hampir saja bercinta dengannya: cantik, memakai rok merah marun. “Hei, itu bajunya tadi,” seru Fad melihat kemeja kotak-kotak di sudut ranjang. Semua tertawa. Fad, Mud, Han, Ron, dan Man.

Kau ingat kura-kura yang hampir kau tabrak itu. Sebelum melanjutkan perjalanannya yang lamban ke pantai, dia sempat berhenti, menarik kepala dan kakinya ke dalam cangkangnya. Semoga dia baik-baik saja, pikirmu. Lalu memutuskan akan mulai menulis novel tentang kura-kura yang kau bayangkan berjanggut.

Selesai

Armin Bell

Armin Bell

Tinggal di Ruteng. Kumpulan cerpennya berjudul “Perjalanan Mencari Ayam” (Dusun Flobamora, 2018).

All stories by:Armin Bell
Leave a Reply

Armin Bell

Armin Bell

Tinggal di Ruteng. Kumpulan cerpennya berjudul “Perjalanan Mencari Ayam” (Dusun Flobamora, 2018).

All stories by:Armin Bell
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.