MENU
beauty-and-the-beast

5 April 2017 Film

Beauty and The Beast: Kisah Magis yang Romantis

Semua anak selalu diajarkan untuk bersikap memaafkan, mencintai dan berbuat baik terhadap sesama. Pepatah sepanjang masa melulu dihadirkan sebagai dongengan anak kecil yang usianya tidak pernah setua jalan ceritanya. Doa dan cinta adalah pemeran utama yang dijelmakan pada setiap tokohnya.

Begitulah sepenggal pemaknaan yang saya tangkap dari beberapa cerita yang ditampilkan oleh Disney, setelah cerita dari sebuah kesetiaan pada film Cinderella (2015), kini cerita romantis magis sejenis itu hadir kembali dalam film Beauty and The Beast (2017) dengan Bill Condon sebagai sutradaranya.

Saya pernah menonton film Beauty and The Beast dalam sajian animasi kartun beberapa tahun yang lalu, sesaat setelah menonton film itu saya berpikir keras untuk memaknai imajinasi yang dibangun dalam film kartun. Sementara kemagisan yang hadir dalam film Beauty and The Beast rupanya bisa sedikit dilogiskan dengan tanpa perlu berpikir berat. Barangkali karena sudut pandang penulis pada film Beauty and The Beast terbaru ini adalah peremajaan cerita yang lebih casual sehingga cerita akan mudah dicerna oleh para penonton terutama penonton anak-anak.

Visualisasi yang dihadirkan sutradara dalam film Beauty and The Beast memang tidak mengubah tokoh-tokoh yang sudah dihadirkan dalam film terdahulu. Kemiripan wujud kartun dengan tokoh realis yang baru membuat daya tarik tersendiri dari segi sinematik, namun kesetiaan cerita dengan versi aslinya nampak terjadi perubahan.

Secara alur film terbaru ini tidak begitu banyak menyajikan perubahan. Pada prolog, Pangeran muda (Adam Mitchell) digambarkan sebagai tokoh yang dimanjakan dengan kekuasan, hati nurani yang diaktualisasikan dalam kemewahan sehingga menutup kesan “baik”. Kehidupan sehari-harinya adalah hura-hura, berpesta mewah, dan memperbudak rakyat yang tidak menempati kelas aristokrat seperti dirinya.

Alkisah, seorang penyihir yang menjelmakan dirinya sebagai nenek tua renta dan meminta belas kasihan pada pangeran, tapi yang timbul adalah kekejaman dengan menghardik nenek tersebut. Kenistaan pangeran itu tidak selanggeng yang dipikirkannya. Si nenek mendidik pangeran dengan mengubahnya menjadi raksasa bertaring dan berbulu, wajah dengan perpaduan beberapa binatang. Saat itu ia dikenal sebagai si buruk rupa atau Beast (Dan Stevens).

Penceritaan beralih pada tokoh Belle (Emma Watson) yang terasing. Ia dianggap aneh oleh penduduk desa karena kecintaannya pada buku dan jarang bergaul. Dengan teknik penceritaan yang musikal, dengan beberapa kata dari bahasa Prancis, cerita terbangun dalam pemaknaan yang sama dengan film terdahulunya.

Ayah Belle, Maurice (Kevin Kline), adalah seorang pengrajin kotak musik. Ia pun meninggalkan Belle untuk pergi ke kota. Seperti biasa Belle selalu minta dibelikan mawar jika kelak ayahnya pulang. Namun celakanya, saat malam tiba, Maurice dan kuda putihnya, Phillipe, tersesat di hutan. Tiba-tiba, area sekitarnya menjadi bersalju, padahal, masih bulan Juli. Sekelompok serigala pun muncul dan mengejar Maurice. Sambil menunggangi Phillipe, ia melarikan diri hingga tiba di sebuah istana yang suram. Proses kemagisan cerita ini bermula dari kejadian tersebut.

Istana yang suram dan gelap serta sunyi dilengkapi dengan suara-suara yang mengisyaratkan suasana keramat menjadi tempat persinggahan Maurice. Kemagisan yang kentara terlihat dari benda-benda mati yang dapat bergerak, mereka adalah  Plumette (Gugu Mbatha-Raw), kemoceng sekaligus kekasih Lumière, Madame de Garderobe (Audra McDonald) si lemari, dan Maestro Cadenza (Stanley Tucci) si grand piano. Perabotan seperti Cogsworth (Ian McKellen) si jam antik, Lumière (Ewan McGregor) si tempat lilin, Mrs. Potts (Emma Thompson) si teko, dan Chip (Nathan Mack) si cangkir pun kembali ditampil. Terlihat klasik dan antik, mereka adalah 4 karakter penting dalam film ini.

Dalam perjalanan cerita di istana suram itu, Maurice menghadapi keadaan dengan selogis mungkin hingga akhirnya menyerah ketika berhadapan dengan benda-benda mati yang hidup. Sebelum hendak meninggalkan istana tersebut, Maurice mengambil beberapa tangkai bunga mawar, karena dia teringan akan pesan putrinya, Beast yang mendapati keadaan itu sedikit terusik dan akhirnya menangkap Maurice kemudian memeranjakan Maurice.

Beberapa benda mati yang dihidupkan itu berpikir bahwa Maurice adalah jalan yang dapat mengembalikan kutukan dari penyihir tersebut. Tapi rupanya pendapat itu dipatahkan oleh Beast, dia berpikir kutukan yang diterima hanya akan sirna oleh ketulusan hati seseorang yang mencintainya, bukan seseorang yang dengan sengaja melakukan perbuatan tercela seperti yang dilakukan Maurice, mencuri beberapa tangkai mawar dari halaman istana.  Begitulah sepenggal cerita, durasi film yang panjang membuat saya larut akan hal-hal romantis yang didasari magis dan kuat.

Nyanyian dan tarian pada film ini mempercantik visualisasi cerita tersebut. Film Beauty and the Best memang sudah lebih dulu terkenal dengan tema musikalnya. Begitu juga dengan film-film Disney Classics lainnya. Alan Menken yang menangani urusan musik di film animasi Beauty and The Beast kembali diturunkan untuk memperindah musik di film live action ini.

Hal yang paling saya tunggu adalah bagian akhir cerita, ketika ketulusan cinta dari Belle mampu menyirnakan kutukan-kutukan pada diri Beast dan sekitarnya. Namun penggalan cerita tersebut mengalami pembaruan pada film ini, Bila pada versi klasik, kutukan hilang saat Belle mengatakan, “I love you” dan air matanya menyentuh tubuh Beast sebelum kelopak mawar terakhir, pada film Beauty and The Beast terbaru ini, penyihir yang dulu mengutuk Beast adalah juga orang yang melepaskan kutukan. Penyihir tersebut tersentuh melihat langsung Belle mengatakan “I love you” dan menangis ketika Beast sekarat. Hal lain yang juga cukup krusial yaitu, pada film terbarunya, semua kejadian itu terjadi setelah kelopak mawar terakhir jatuh bukan sebelumnya.

Jika jeli, bagian ini menjadi sangat filosofi dan dalam. Betapa tidak? Kecintaan Belle pada Beast bukan terletak pada apa yang terlihat, melainkan kerja sama hati dan pikiran. Hal tersebut adalah bagian magis yang romantis. Cinta itu pada akhirnya menyembuhkan apapun. Saya mencoba memaknai cerita ini dengan hati, sebab jika dengan logika maka kekonyolan lah yang menjadi dominan dalam film ini. Frekuensi pertemuan yang cepat, serta keadaan tragis yang dihadirkan akan menuntut logika pesimis kita pada hal-hal yang mustahil.[]

Silakan BagikanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Silakan Berkomentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>