Bandung Kota Atheis

820 820 Arif Abdurahman

Achdiat K. Mihardja tentunya tak bisa omong besar kayak James Joyce, dan Atheis memang dibikin tak seambisius Ulysses. Pasalnya penulis Irlandia itu pernah mengklaim bahwa jika Dublin dihancurkan oleh semacam bencana, kota itu dapat dibangun kembali, bata demi bata, menggunakan karyanya Ulysses sebagai acuan. Jika seandainya bom hydrogen atau meteor menabrak Bandung, novel Atheis tak sanggup menjalankan fungsi layaknya Ulysses.

Joyce boleh menyombongkan diri, tapi ia tak sedang membual. Dublin yang dicipta ulang Joyce adalah Dublin dari realitas fisik, yang ditransformasikan dengan susah payah untuk memperoleh perincian kota yang cermat. Untuk mencapai tingkat keakuratan tersebut, Joyce menggunakan Thom’s Directory of Ireland edisi 1904 — buku yang memuat daftar pemilik dan penyewa dari setiap properti di kota tersebut. Joyce juga membombardir teman-teman yang masih tinggal di sana dengan permintaan informasi dan klarifikasi.

Kesan yang begitu kuat ditinggalkan oleh pembaca karena Joyce memungkinkan kita untuk melihat berbagai sisi di Dublin. Bloomsday diadakan rutin tiap tahun. Joyce secara sangkil menegaskan substansi nyata Dublin melalui rincian topografi pantai-pantainya, kesibukan kota itu sendiri, pub, gereja, kantor surat kabar, pemakaman dan distrik pelacuran yang muncul dalam berbagai episode novel tersebut. Ulysses menonjol sebagai novel topografis paling teliti yang pernah ditulis, puji David Daiches dalam Literary Landscapes of the British Isles: A Narative Atlas.

Dublin adalah sebuah karakter dalam Ulysses, sama fiksi dan senyata Leopold Bloom atau Stephen Dedalus. Latar adalah elemen penting dalam narasi dan dalam beberapa karya latar memang jadi karakter itu sendiri. Latar ini merujuk pada lingkungan sosial di mana sebuah novel bekerja dan bahwa lingkungan sosial ini membentuk nilai-nilai tokoh-tokohnya. Sering, ketika saya memikirkan sebuah novel yang saya sukai, bukan plot atau karakter yang muncul di benak saya, tetapi latar.

Atheis memang dibikin tak seambisius Ulysses, ia lebih seperti A Portrait of the Artist as a Young Man. Namun cukup banyak rincian lanskap Bandung yang disebut-sebut dalam novel ini. Bagi saya, mungkin karena alasan primordial, Atheis terus hidup di benak saya. Misalnya, suatu kali ketika sedang menunggu pesanan Perkedel Bondon, saya mengamati gedung-gedung tua di sekitar Kebonjeruk, dan berkelakar pada teman saya kalau Anwar dan Kartini ngamar di salah satu bangunan itu, untuk kemudian saya terbawa perasaan cemburu yang diderita seorang Hasan.

Menelusuri Jejak Atheis di Bandung
Dalam paragraf terakhir tulisan “Mengunjungi Kampung Atheis”, Yopi Setia Umbara mengajak atau mungkin menantang untuk menelusuri rute novel Atheis di Bandung.

Warsa 2017, kami di Komunitas Aleut, sempat merancang tur sastrawi dari novel Atheis ini. Kegiatan ngaleut, atau berjalan kaki beriringan, yang rutin diadakan tiap Minggu ini memang menjadikan teks sebagai rujukan utama. Untuk ngaleut novel Atheis sendiri, laporan kegiatannya bahkan sudah ditulis Irfan Teguh Pribadi dalam artikel Bahasa Sunda berjudul “Nyungsi Patempatan Novel Atheis” di rubrik Kalam, Pikiran Rakyat (21/08/17). Selain ingin mengenalkan ulang karya sastra klasik, diangkatnya novel sebagai acuan bertujuan memperkaya perspektif sejarah Kota Bandung.

Atheis memang menyebutkan nama tempat yang mudah diidentifikasi: Hasan lahir di Panyeredan, Wanareja, Garut. Setelah menyelesaikan HIS (Hollandsch Inlandsche School) di Tasikmalaya, ia melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Bandung. Dan setelah tamat, ia diterima bekerja di Jawatan Air Kotapraja Bandung. Rumah bibinya Hasan beralamat di Jl. Sasakgantung 18, Kartini di Jl. Lengkong Besar 27, Rusli di Jl. Kebon Manggu 11 – Subagio Sastrowardojo bahkan telah menganalisis tiap kawasan hunian dengan watak tiap karakter ini. Hasan dan Kartini pernah nonton bareng di bioskop Empress. Anwar dikenalkan di satu restoran di sekitaran Alun-alun, dan obrolan ide-ide besar soal Marxisme dan anarkisme ala snob di sana. Banyak tempat lainnya, yang sebagian besar berfokus di kawasan pusat kota.

Penceritaan saat ngaleut Atheis di Parapatan Kompa. Foto: @yeaharip.

Mengidentifikasi latar dalam karya fiksi, apalagi yang berlokasi di Bandung, menjadi keasyikan tersendiri bagi saya. Dari Abdullah Harahap, pengarang lulusan UPI favorit saya, yang beberapa kali menggunakan Bandung sebagai latar kisahnya memberi saya wawasan soal pergaulan bebas era 80an, sampai novel pop kiwari semacam Dilan-nya Pidi Baiq pun punya data topografis yang bisa dikaji. Saya terkesan pada antropolog J. Noorduyn, yang dalam penelitiannya pada naskah Sunda kuno berjudul Bujangga Manik’s Journeys Through Java; Topographical Data from an Old Sundanese Source, menemukan sedikitnya 450 nama tempat, dan sebagian besar bersesuaian dengan topografi Pulau Jawa. Ia pun kemudian membuat peta topografi Pulau Jawa berdasarkan kisah picaresque tersebut, ia mengabsen nama-nama tempat, daerah, sungai, dan gunung yang terletak pada rute atau dekat rute yang disusuri. Kembali ke novel Atheis, jika dibanding penelitian Noorduyn, untuk mengurut latar di novel ini jelas perkara cetek.

Aku tunduk saja. Mengerti aku, bahwa orangtuaku itu takut kalau-kalau aku akan menjadi buaya atau akan tersesat ke jalan pelacuran. Maklumlah kota Bandung.

Atheis memilih sebuah latar yang menarik: Bandung, yang sejak paruh awal abad 20 merupakan melting pot orang dan pemikiran. Bandung menawarkan gemerlap kamar bola, pusat perbelanjaan, tempat pelesiran, berbagai bangunan Art-Deco, para lonte yang menyelinap di taman-taman kota, sekaligus di kota ini pula sisi lain dunia yang dihisap oleh kolonialisme tampak jelas, sesuatu yang justru harus didobrak, dibangunkan dan digerakkan. Tercatat beberapa tokoh pergerakan digodog di kota ini, dari Tirto Adhi Suryo, Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, Cipto Mangunkusumo, Abdul Muis, Dewi Sartika, Tan Malaka, Oto Iskandar di Nata, Natsir, Soekarno dan banyak lainnya. Bandung di masa itu menimbulkan efek samping, yang juga menimpa seorang udik bernama Hasan.

Bandung yang dipakai Atheis juga merupakan periode yang menarik, pada masa-masa akhir Hindia Belanda, soal bagaimana negara yang sudah ajek seratus tahun lebih ini bisa runtuh berkat deus ex machina bernama Nippon–Bandung pula, yang secara historis, menjadi titik akhirnya: H.J. van Mook sang gubernur jenderal kabur lewat landasan pacu darurat di Buahbatu. Bukan dari ide Marxisme yang digaungkan Rusli atau Bung Parta, melainkan invasi fasisme Sang Cahaya Asia, yang membanting plot sejarah sekaligus plot Atheis.

Orang-orang, mobil-mobil dan kendaraan-kendaraan lain bergerak-gerak, laksana ikan-ikan kecil yang bergerak-gerak di atas dasar segara cahaya. Kebaya merah, rok kuning, stelan gabardin, beriring-iring berpapasan, susul-menyusul di atas trotoar, depan toko-toko yang bermandi cahaya. Packard, Ford, Erskine. Willys mengkilap-kilap di atas aspal, menyiakkan Fongers, Raleigh, Humber dan “mobil-mobil cap kuda” ke pinggir.

Suasana yang digambarkan Achdiat di atas seakan menghidupkan foto-foto Bandung medio 1930-40an koleksi Tropenmuseum, yang mungkin sering Anda temukan di pencarian Google. Kawasan pusat kota banyak disorot. Braga misalnya, seperti yang disebut Rusli, digambarkan sebagai “urat nadi masyarakat burjuis di Bandung”.

Jalan Braga, 1938. Foto Koleksi Tropenmuseum.

Ahad kemarin (23/06/19), saya menjadi pemandu untuk ngaleut Atheis, ulangan dari 2017. Sebenarnya saya lebih suka dengan istilah Cicerone, ketimbang pemandu. “Docere, delectare, et movere,” tulis Cicero dalam Orator pada 46 SM. Bahwa seorang orator harus bisa untuk membuktikan tesisnya kepada pendengar, untuk menyenangkan pendengar, dan menggerakkan pendengar secara emosional. Selalu hadir kesulitan, bagi saya, untuk mengubah apa yang menumpuk di kepala jadi kalimat sederhana, yang bisa dipahami beragam kalangan. Dalam ngaleut tersebut, peserta yang hadir sekitar dua puluh orang, dan ketika ditanya sebagian besar peserta mengaku belum pernah membaca novel lawas ini. Beberapa peserta bahkan mengira ngaleut kali ini untuk menyusur sejarah ateisme di Bandung.

Sesi sharing setelah beres ngaleut novel Atheis di Circle-K depan Hotel Homann. Foto: @yeaharip.

Atheis, atau bahkan sastra secara keseluruhan, masih berjarak dengan kebanyakan orang, ini sebuah kenyataan. Saya malas jadi semacam pegiat literasi yang berdakwah bahwa novel Atheis ini wajib dibaca atau bahwa sastra bakal menuntun kita ke jalan kemuliaan. Masih jauh untuk menciptakan semacam Bloomsday di Bandung, tapi setidaknya dengan menyusur rute Atheis, kami mencoba menghidupkan novel yang telah berusia 70 tahun ini. Menegaskan kembali, bahwa Bandung ibukota Atheis.[]

 

Arif Abdurahman

Arif Abdurahman

Bergiat di Komunitas Aleut! dan bergerilya di Visceral Realist cabang Bandung. Blog: yeaharip.com.

All stories by:Arif Abdurahman
Leave a Reply

Arif Abdurahman

Arif Abdurahman

Bergiat di Komunitas Aleut! dan bergerilya di Visceral Realist cabang Bandung. Blog: yeaharip.com.

All stories by:Arif Abdurahman
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.