Apa Enaknya Menjadi Kepala Negara?

261 193 Zulkifli Songyanan

Selasa malam (17/9), seperti biasanya, sehabis browsing kau teringat pada Joko Widodo. Berita soal kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan, juga pengesahan RUU KPK yang dinilai melemahkan lembaga antirasuah itu, terus membuatmu bertanya, “Dalam kondisi begini, apa sih enaknya menjadi kepala negara?”

Lalu kau geram mendapat kabar sejumlah massa tak dikenal mengusik kegiatan “Renungan Pemakaman KPK” di depan gedung KPK. Kegeraman yang sama kerap muncul tiap kali kau melihat Denny Siregar berulah bak seorang messiah atau pengamat jempolan di media sosial.

“Selain asap tebal, Allah juga memberikan Moeldoko, Wiranto dan Denny Siregar kepada kita,” tulis Azhari Ayub, salah seorang pengarang favoritmu, di Facebook.

Kau terpingkal membaca pernyataan itu, lantas menepuk nyamuk dengan harapan suatu saat bisa menepuk isi kepala Denny Siregar. Tapi kau malah menyesal. Bukan. Bukan sebab harapan semacam itu muskil diwujudkan. Kau menyesal sebab percaya bahwa batok pendukung RUU KPK itu tak berisi apa-apa; karenanya, tiap kali geram kepadanya, kau sadar telah menghabiskan tenagamu—secuil apa pun itu—untuk sesuatu yang tak berguna.

Seekor nyamuk mendengung, selebihnya hampa.

Di Twitter, pukul 2 dini hari, kau mendapati tagar #BatalDilantikIndonesiaAman bersaing dengan #SemangatNovi dan #AriUntung. Kau tak berminat mencari tahu dua tagar yang terakhir sebab kadung lelah membaca yang pertama.

Sadar bahwa puisi kalah menggentarkan ketimbang sebuah tagar, rupanya kau malah gembira mendapati berbagai celotehan di linimasa—di sela perang komentar yang dipicu para buzzer atau akun bot.

“. Assalamualaikum, hallo KR dan yang lainya. Slmt siang smg semuanya sht dn dalam lindungan ALLAH.SWT .AamiinYRA. Enak nya nyicipin gorengen mnm nya csu +es batu +air soda. panas2 gini asupan nya mantaaap.Yu up..Dan Up lagi. #BatalDilantikIndonesiaAman #BatalDilantikIndonesiaAman,” cuit @syahrilmarsyah2, 12 jam sebelum kau membacanya.

Dua malam sebelumnya, Minggu (15/9), tepat saat Buruan.co merayakan usianya yang kelima, di depan Taman Ismail Marzuki kau bertemu Raymond Sihombing, doktor Hukum Luar Angkasa pertama dari Indonesia. Sepuluh tahun sudah Raymond tinggal di Moscow. Kau menerka: seperti halnya puisi di hadapan tagar, orang selevel Raymond sulit dapat tempat di negeri asalnya.

“Di sini, bukankah segala yang serba-maju, lebih-lebih yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, memang selalu kurang laku?” Pikirmu. Kau ingin mengenyahkan pikiran macam inlander begitu tetapi….

“Disertasiku tentang asuransi perjalanan wisata ke luar angkasa,” kata Raymond. Kau menggelengkan-gelengkan kepala dan teringat kuliah Brand Management 10 tahun silam. Lili Adi Wibowo, dosenmu, menjelaskan bahwa Virgin Island menawarkan paket pelesiran ke luar angkasa untuk membedakan sekaligus menunjukkan keunggulan produknya di hadapan kompetitor. Di tengah berbagai persoalan, kau tak perlu membandingkan paket wisata ke luar angkasa dengan berbagai paket wisata di negeri asalmu.

“Biayanya sekitar 50 juta dolar Amerika. Sebelum berangkat, orang-orang yang membeli paket itu mesti mengikuti serangkaian persiapan selama dua tahun di Amerika atau Rusia. Tak ada jaminan uang kembali jika setelah mengikuti proses persiapan calon wisatawan dinyatakan tidak lolos,” sambung Raymond.

Kau tak sanggup membayangkan uang 50 juta dolar Amerika, sebagaimana kau tak sanggup membayangkan uang yang harus dialokasikan negara untuk menyelesaikan kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan—atau untuk membungkam tuntutan referendum orang Papua.

Kau menatap langit, hitam, sehitam perasaanmu terhadap Masinton Pasaribu, Arsul Sani, Desmond Mahesa, dkk. saat bertempik sorak menyambut pengesahan RUU KPK. (Lalu kau bayangkan mereka pergi ke luar angkasa, dengan atau tanpa uang tanggungan dari negara. Ah, jangan. Bukan begitu. Sebaiknya mereka pergi tapi dinyatakan gagal berangkat setelah membayar uang muka).

Lepas dari pikiranmu, sekarang, setelah lima tahun Buruan berdiri, tak lama setelah B.J. Habibie pergi, tampaknya kau baru benar-benar menyadari bahwa negeri ini hanya punya seorang presiden—tapi punya banyak penguasa. Dalam kondisi begini, kau semakin ingin bertanya, “Apa sih enaknya menjadi kepala negara?”

Zulkifli Songyanan

Zulkifli Songyanan

Reporter buruan.co. Menulis puisi dan esai. Kumpulan puisi pertamanya "Kartu Pos dari Banda Neira" (Penerbit Gambang, 2017).

All stories by:Zulkifli Songyanan
Leave a Reply

Zulkifli Songyanan

Zulkifli Songyanan

Reporter buruan.co. Menulis puisi dan esai. Kumpulan puisi pertamanya "Kartu Pos dari Banda Neira" (Penerbit Gambang, 2017).

All stories by:Zulkifli Songyanan
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.