Alam dan Eksistensi Muslim Club di Kampus Mae Fah Luang University

820 510 Yussak Anugrah

Alam A-Wae adalah ketua Muslim Club periode 2016 di Mae Fah Luang University (MFU), Chiang Rai. Saya menemuinya pada Kamis siang (16/6/2016) untuk mencari tahu tentang Muslim Club dan kegiatannya di kampus MFU.

Saat ini Alam A-Wae atau biasa dipanggil Alam tercatat sebagai mahasiswa tingkat tiga jurusan bahasa Inggris. Ia berasal dari Narathiwat—satu provinsi di selatan Thailand, punya minat dan hobi pada fotografi, serta fasih “bercakap” dalam bahasa Kampung—varian bahasa Melayu yang biasa digunakan penutur di Thailand Selatan.

Alam A-Wae

Alam A-Wae

Muslim Club adalah sebuah unit kegiatan mahasiswa tingkat universitas yang menyatukan para mahasiswa muslim dalam berkegiatan di bidang keagamaan atau kegiatan lainnya yang bermanfaat. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang apa itu Muslim Club dan apa saja kegiatan yang mereka lakukan, saya mengajak Teman Baik untuk menyimak wawancara saya dengan Alam.

Beberapa kalimat jawaban Alam saya sesuaikan ke dalam ejaan bahasa Indonesia tanpa menghilangkan esensinya.

Sebagai ketua Muslim Club, dapatkah Anda menjelaskan tentang maksud dan tujuan Muslim Club exist di MFU?

Muslim Club ini adalah satu kelompok mahasiswa untuk menghimpun mahasiswa Muslim di MFU agar mudah dalam activity dan perbuatan lain-lain dalam kegiatan agama.

Sudah berapa lama Muslim Club exist di kampus MFU dan berapa banyak jumlah anggota saat ini?

Muslim Club sudah exist selama 14 tahun di kampus MFU. Jumlah anggota Muslim Club saat ini lebih kurang ada 130 orang.

Apakah Muslim Club harus melaporkan setiap kegiatan ke pihak universitas?

Ya. Sebagai unit mahasiswa di Universitas Mae Fah Luang, kami harus membuat program dalam satu tahun dan memberitahukan program kami ke universitas. Ada tiga program besar yang kami buat dalam satu tahun, yaitu The Spark, Ramadan, dan Phi Mop Duay Rak Nong Tham Duay Chai.

Program pertama adalah The Spark. The Spark ini adalah camp yang diadakan Muslim Club Mae Fah Luang dengan mengundang mahasiswa Muslim dari luar (kampus lain) untuk join bersama kami.

Program kedua adalah Ramadan. Ramadan ini adalah activity yang memanggil orang luar, orang Muslim di sekitar Chiang Rai untuk berbuka puasa bersama dengan kami di (kantin) D1.

Program ketiga adalah kemping juga. Nama ini dalam bahasa Thai, Phi Mop Duay Rak Nong Tham Duay Chai. Activity ini adalah camp yang diikuti anggota Muslim Club Universitas Mae Fah Luang saja. 

Apa itu Phi Mop Duay Rak Nong Tham Duay Chai?

‘Phi’ adalah kakak, ‘mop duay rak’ maksudnya adalah memberikan kasih. Dan, ‘Nong’ adalah adik, ‘nong tham duay chai’ artinya buat dengan hati kepada adik. Camp ini adalah camp yang terakhir dalam satu tahun untuk adik berbuat activity untuk kakak yang habis belajar di sini, yang sudah graduate.

(Maksud Alam adalah acara kemping yang dibuat oleh para junior Muslim Club untuk senior mereka yang sudah lulus. Saat kemping ini pula para senior menunjukkan perhatian dan kepedulian mereka terhadap adik tingkat mereka untuk yang terakhir kalinya.)

Apakah universitas memberikan bantuan biaya untuk setiap kegiatan Muslim Club?

Ya. Sikit saja dari universitas, yang lain minta sedekah sesama anggota.

Apakah keanggotaan Muslim Club di MFU hanya untuk mahasiswa?

Keanggotaan Muslim Club?

Ya.

Bukan saja student. Ada juga teacher, ada guru, yang menjadi advisor. Ada empat, lima orang.

Tadi Alam katakan bahwa kegiatan Muslim Club selama Ramadan adalah buka bersama. Apakah setelah itu dilanjutkan dengan shalat Tarawih bersama?

Ya.

Apakah ada perbedaan raka’at antara shalat Tarawih di kampus, di kota, dengan di rumah Alam?

Beda. Di masjid kota Chiang Rai, jumlah raka’at untuk shalat Tarawih sebanyak dua puluh raka’at. Kalau di rumah delapan raka’at, dan di sini (kampus) juga delapan raka’at.

Untuk buka bersama di (kantin) D1, berapa lama Muslim Club akan mengadakan kegiatan buka bersama ini?

Apa tuh, untuk buka puasa?

Ya.

Buka puasa kalau di D1 ini semenjak tiga hari lalu, kemarin, sampai akhir Ramadan.

Apa makna Ramadan bagi Alam?

Makna Ramadan bagi saya adalah satu bulan yang penting, besar, untuk ibadah untuk Allah. Sebab dalam Al-Quran juga cakap, ya.  Seperti orang yang lain-lain, makna Ramadan ini juga ada dalam hadits.

Di sini, selama Ramadan banyak warung tetap buka. Orang-orang yang bukan Muslim juga banyak makan seperti biasa. Apakah Alam merasa terganggu dengan itu?

O, tidak. Rasanya orang lain tidak puasa, makan, itu biasa. Kalau melihat mereka makan atau minum, rasanya tak rasa apa-apa, biasa saja.

Apa harapan Alam di bulan Ramadan ini?

Harapan saya sebagai Muslim di bulan ini adalah untuk dapat Ma’sum. Ma’sum ini adalah kata Arabic, maknanya tiada dosa-dosa. Diampun dosa-dosa saat sudah selesai ibadah puasa.

Di Indonesia, ada tradisi yang disebut mudik. It means pulang. Jadi, semua orang Muslim yang ada di kota besar, misalnya di Jakarta kembali ke kampung halaman, ke tempat asal untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga besar. Apakah di Thailand juga mengenal tradisi seperti itu?

Di Thailand juga seperti itu, tapi susah atas orang yang kerja dalam company yang besar, yang ada orang yang tak faham dalam fitri.

Apa mungkin karena hari raya Idul Fitri tidak dijadikan hari libur nasional?

Ya.

Alam pulang tak Idul Fitri nanti?

Ya, pulang. Tiga hari sebelum Idul Fitri.

Terima kasih, Alam. Sudah mau diwawancara oleh Buruan.co.

Sama-sama.

Selamat menjalankan ibadah puasa.

Terima kasih.

Setelah itu kami berpisah. Saya kembali ke kantor, sedangkan dia menuju D1 untuk mengecek kesiapan makanan untuk berbuka saat magrib nanti di warung Bang Ucup, satu-satunya warung halal di kantin D1.[]

Yussak Anugrah

Yussak Anugrah

Pernah mengajar Bahasa Indonesia di Universitas Mae Fah Luang, Chiang Rai, Thailand. Saat ini dia sedang merintis sebuah ruang baca, seni, dan budaya bernama Rumah Baca Manyar di kampung Seuseupan, desa Sindangsari, Ciranjang-Cianjur.

All stories by:Yussak Anugrah
Yussak Anugrah

Yussak Anugrah

Pernah mengajar Bahasa Indonesia di Universitas Mae Fah Luang, Chiang Rai, Thailand. Saat ini dia sedang merintis sebuah ruang baca, seni, dan budaya bernama Rumah Baca Manyar di kampung Seuseupan, desa Sindangsari, Ciranjang-Cianjur.

All stories by:Yussak Anugrah
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.