AARC-MKAA: Sejarah Lambang Garuda Pancasila

702 336 Pramukti Adhi Bhakti

Setelah mengkhatamkan buku The Bandung Connection karya Roeslan Abdulgani dan rehat sejenak selama satu pertemuan, kemarin (25/2) Asian-African Reading Club – Museum Konferensi Asia-Afrika (AARC-MKAA) kembali meneruskan tadarus Reboan. Buku yang dipilih untuk ditadaruskan adalah Perjalanan 60 Tahun Lambang Negara: Sejarah Elang Rajawali Garuda Pancasila. Buku ini diterbitkan oleh Sahabat MKAA bekerja sama dengan MKAA dan merupakan bunga rampai pameran dan seminar mengenai lambang negara Republik Indonesia.

Menyanyikan "Indonesia Raya" sebelum tadarus buku. (Foto: M. Ridha)

Menyanyikan “Indonesia Raya” sebelum tadarus buku. (Foto: M. Ridha)

Sebagai pengantar diskusi-diskusi mengenai sejarah lambang negara nantinya, Sekjen AARC Adew Habsta meminta Deni Rachman untuk membedah awal perjalanan pembuatan lambang negara Indonesia yang berjuluk Elang Rajawali Garuda Pancasila. Deni Rachman sendiri terlibat langsung dalam dapur penyusunan buku tersebut, mulai dari penyusunan setiap bab hingga penggantian cover buku.

Dalam sesi diskusi, Deni Rachman memaparkan awal sejarah pembuatan lambang negara Indonesia. Sebagai data pendukung, Deni membawa dokumen sezaman yang berkaitan dengan penyusunan buku Perjalanan 60 Tahun Lambang Negara. Di antara dokumen tersebut, Deni memperlihatkan salinan dokumen Pameran Sejarah Lambang Negara RI yang dilaksanakan pada tanggal 18 Desember 2010 sampai 18 April 2011 di Kalimantan Barat. Selain itu, Deni juga memperlihatkan beberapa buku terkait lainnya yang mendukung sejarah lambang garuda itu.

Buku "Perjalanan 60 Tahun Lambang Negara: Sejarah Elang Rajawali Garuda Pancasila". (Foto: Adew Habsta)

Buku “Perjalanan 60 Tahun Lambang Negara: Sejarah Elang Rajawali Garuda Pancasila”. (Foto: Adew Habsta)

Katanya, dalam setiap pidato Bung Karno, beliau selalu membawa dua prinsip penting yang menegaskan pentingnya lambang negara RI, yaitu Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Deni Rachman mencatat bahwa dalam film Ketika Bung di Ende, jelas terlihat bahwa Bung Karno membangun ke-Bhineka Tunggal Ika-an dalam setiap pergerakannya. Kedua prinsip ini merupakan benang merah pentingnya lambang negara mencakup kedua prinsip ini. Maka, dalam proses pembuatan lambang negara, kedua prinsip ini diusulkan dan disisipkan oleh Bung Karno ke dalam usulan lambang negara.

Dalam sejarahnya, kata “Bhineka” mewakili para panitia pembentuk lambang negara yang tergabung dalam kaum federalis, sedangkan kata “Ika” mewakili para panitia pembentuk lambang negara yang tergabung dalam kaum unitaris. Maka, kalimat “Bhineka Tunggal Ika” menyatukan kedua kaum ini ke dalam satu prinsip bersama demi persatuan Negara Republik Indonesia.

Bentuk garuda sendiri, diusulkan oleh panitia pembentuk lambang negara berdasarkan mitologi-mitologi yang telah ada di negara ini. Melihat dari banyaknya lambang negara lain yang berbentuk burung dan mengambil bentuk dasar burung garuda dari berbagai ukiran candi di Indonesia, revisi demi revisi melahirkan Elang Rajawali Garuda Pancasila. Berdasarkan UU No. 66 Tahun 1951, bentuk Elang Rajawali Garuda Pancasila disahkan oleh Presiden Soekarno sebagai bentuk paling akhir dari lambang negara ini. Hanya saja, pada UU No. 24 Tahun 2009, terjadi perubahan lambang negara menjadi sedikit berbeda. Perubahan ini banyak mempengaruhi makna prinsipil yang disusun oleh para pendiri bangsa ini terdahulu serta banyak digunakan di kantor-kantor pemerintahan dan sekolah-sekolah. Bentuk asli Elang Rajawali Garuda Pancasila berdasar UU Tahun 1951 yang masih bertahan hingga saat ini, masih bisa dilihat dalam mata uang kertas maupun logam.

Polemik kedua undang-undang inilah yang mendorong penyusunan buku Perjalanan 60 Tahun Lambang Negara untuk menggali kembali makna-makna prinsipil yang ada dalam proses pembentukan Elang Rajawali Garuda Indonesia. Selain itu, penggunaan lambang negara yang sembarangan saat ini, seperti dalam logo partai, dalam kaos-kaos distro dan olahraga, juga menjadi perhatian penting agar makna lambang negara ini tidak hilang dan hanya menjadi lelucon belaka. Semoga diskusi-diskusi AARC dalam minggu-minggu yang akan datang dapat memaparkan makna-makan tersirat dan tersurat Elang Rajawali Garuda Pancasila, seperti semangat yang terpancar dalam lagu “Garuda Pancasila” yang dinyanyikan sore hari itu.[] Bandung, 26 Februari 2015

Sumber foto. M. Ridha & Adew Habsta

Pramukti Adhi Bhakti

Pramukti Adhi Bhakti

Pegiat Asian African Reading Club-Museum Konferensi Asia Afrika dan menglola blog pribadi pramredesign.wordpress.com

All stories by:Pramukti Adhi Bhakti
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.