8 Lagu Terbaik yang Terinspirasi Karya Sastra

702 336 Edi Sutardi

Ada guyonan, lagu berbahasa Inggris tanpa menggunakan kiasan pun sudah seperti larik-larik puisi. Belakangan ini saya sering menemukan obrolan para pemusik Bandung di media sosial, yang bersusah payah belajar menulis lirik lagunya dalam bahasa Indonesia. Beruntung, ada beberapa di antaranya yang cukup berhasil dengan usahanya tersebut.

Tapi, jangan berharap banyak dapat mendengarkan lirik lagu yang puitis dari pemusik yang sering nongkrong di televisi pagi-pagi. Soalnya bukan pada lagu yang puitis atau tidak. Namun, lagu yang dibuat oleh seorang pemusik, menunjukan sejauh mana wilayah jelajah membacanya. Mungkin ini juga ya.

Jika kita telusuri lewat mesin pencarian Google, ketik saja “Songs Inspired by Literature” atau “Band Inspired by Literature”, akan banyak sekali bertebaran grup musik atau solois dari nama yang sangat terkenal sampai yang namanya baru kita dengar. Bahkan, Wikipedia dengan baik hatinya mengurutkan judul lagu berdasarkan angka dan diikuti oleh abjad dari a-z. Tetapi, terlalu panjang juga jika harus ditulis satu persatu di sini.

Maka dari sekian banyak pencarian tersebut, saya memilih tautan yang disarankan Yopi Setia Umbara dengan judul “8 Best Songs Inspired By Literature”.

Ada pepatah mengatakan, “seni meniru kehidupan”, tapi untuk lagu-lagu ini, kiranya perlu diubah dulu, “seni meniru seni”. Delapan buah lagu tersebut akan saya ulas di bawah ini.

1. “All I Wanna Do”
Lagu ini dibawakan oleh Sheryl Suzanne Crow dengan tempo yang cukup cepat. Jika kita melongok videonya di Youtube kita akan menjumpai gambar yang cukup jadul dan entah saya merasa geli sendiri. Lagu “All I Wanna Do” terinspirasi dari puisi yang ditulis oleh Wyn Cooper dengan judul “Fun”. Sesuai dengan puisi yang menginspirasinya, lirik lagu yang didaraskan Sheryl pun terdengar ringan dan bernada bersenang-senang, bahkan nyaris tanpa mau peduli dengan apapun. Seperti akhir bait pusisi Cooper sendiri, “All we want is to have a little fun”. Masa sedikit, sih.

2. “Clocks”
Lagu “Clocks” dibuka dengan suara piano, lalu diikuti oleh tabuhan drum yang monoton. Tak lama, Chris Martin menimpali dengan suara khasnya. Lirik lagu “Clocks” ini terasa seperti gumaman keputusasaan. Terbukti, pada lirik akhir lagu ini, sang empunya lagu berharap ia dapat kembali pulang ke rumahnya. Lagu “Clocks” terinspirasi dari drama karya Friedrich Schiller yang berjudul William Tell. Naskah drama ini bercerita mengenai legenda Swiss, Marskman William Tell, yang merupakan salah satu pejuang yang gigih merebut kemerdekaan dari kekaisaran Habsburg pada awal abad ke 14. Menurut Ensiklopedia Britannica, salah satu adegan paling terkenal dan menegangkan dalam momen ini adalah ketika peraturan gubernur yang mengharuskan William Tell melesatkan busur panah dalam jarak 70 langkah untuk membidik apel yang disimpan tepat di atas kepala anaknya, Walter. Adegan ini pula yang menginspirasi Coldplay untuk menulis lirik “Clocks”.

3. “Don’t Stand So Close To Me”
Dari deret lagu The Police yang sering saya putar, salah satunya adalah lagu ini. “Don’t Stand So Close To Me” terinspirasi dari buku masyhur Vladimir Nabokov berjudul Lolita. Saya yakin, setiap dari kita pernah membaca buku ini, atau setidaknya pernah mendengar judulnya saja. Novel ini merupakan salah satu karya kontroversial yang menceritakan tentang Humbert, lelaki berusia 38 tahun yang terobsesi oleh tubuh perempuan berusia 12 tahun, Dolores Haze. Humbert terlibat persetubuhan dengan Lolita (Dolores Haze) ketika ia resmi menjadi ayah tirinya. Miris. Maka seperti reffrain lirik lagu The Police ini, “Don’t Stand So Close To Me” yang didaraskan berulang-ulang, kiranya itu sebagai artikulasi dari penolakan yang mencapai ambang muak.

4. “Animals”
Pink Floyd adalah contoh dari grup musik legenda. Lagunya diputar dari masa ke masa. Bahkan, hari ini banyak lahir grup musik yang tipikalnya meniru Pink Floyd. Pink Floyd hadir untuk masanya dan hari ini. Hebat bukan? Jadi ingat karya George Orwell, 1984, kanon yang ditulis jauh hari, namun masih relevan untuk hari ini. Tapi lagu ini tidak terinspirasi dari karya Orwell yang barusan saya sebutkan. Satu kanon lainnya yang sama-sama jadi andalan Orwell untuk karyanya. Animal Farm. Novel satiris yang menjungkirkan nalar ini, menjadi inspirasi dari album “Animals”, yang merupakan kritikan bagi konstelasi politik Inggris pada tahun tujuh puluhan.

5. “Golden Slumbers”
The Beatles ditakdirkan untuk dikenang orang sepanjang masa. Lagu-lagunya banyak menginspirasi banyak kalangan. Termasuk lagu “Norwegian Wood” yang menginspirasi Haruki Murakami membuat novel cukup tebal dengan judul yang sama. Tapi The Beatles juga tak luput dari persentuhan dengan bacaan karya orang lain. Seperti dalam lagunya “Golden Slumbers”, Beatles terinspirasi dari puisi Thomas Dekker yang berjudul “Cradle Song”. Lagu berirama tenang di awal dan meninggi pada bagian tengah hingga akhir ini, merupakan salah satu lagu yang terdengar sangat emosial yang dinyanyikan oleh Paul McCartney.

6.“All Along Watchtower”
Dylan punya pesona tiada tara. Penyanyi kurus dan mampu menyihir laki-laki sekalipun. Saya senang mendengar “Like A Rolling Stone”. Mendengar Dylan menyanyi seperti mendengar seorang pencerita ulung, nyaris liriknya sulit dikejar. Dylan pasti seorang pembaca. Dengar saja “All Along Watchtower” yang terinspirasi dari karya Mary Shelly, “Frankenstein”. Bagi pecinta balada, tentu tak akan melewatkan  lagu-lagu dari Dylan, termasuk lagu ini.

7. “The Catcher In The Rye”
Ingatan saya lebih dekat pada persitiwa penembakan Jhon Lenon ketimbang lagu ini. Dan saya punya bukunya yang sudah lusuh. Entah apa yang istimewa dari buku ciptaan J.D. Salinger ini. Yang pasti Gun’s N’ Roses menciptakan lagu dari buku yang menginspirasi seorang pembunuh ini.

8. “Bohemian Rhapsody”
Baru saja perayaan mengenang Camus lewat. Bukunya banyak diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Seorang eksistensialis. Rambutnya yang disisir rapi itu, lebih menyerupai tongkrongan anak-anak gaul kota. Tak salah, Camus sering nongkrong di dalam kaos. Queen tak mau kalah. Maka lahirlah “Bohemian Rhapsody’. Konon lagu ini terinspirasi dari buku Camus yang berjudul The Stranger. Sejujurnya, lagu ini sering diputar kakak saya di rumah, selain suara burung untuk meredakan tangis keponakan. Aneh gak, ya?[]

Sumber: Huftington Post
Sumber gambar: John Lennon (dari johnlennon.com),Axl Rose (liveforlivemusic.com), Pink Floyd  (plus.google.com), Sheryl Crowe (disney.wikia.com), Chris Martin (people.com), Bob Dylan (cutimagez.com), Sting (sting.com), dan Freddie Mercury (id.wikipedia.org)

Edi Sutardi

Edi Sutardi

Penulis lepas. Tertarik pada kajian musik, seni, dan perkotaan. Tinggal di Bandung.

All stories by:Edi Sutardi
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.