31 Tahun Perjalanan Konser Musik Cinta Mukti-Mukti

820 820 Edi Sutardi

Mata perempuan itu basah sejak lagu pertama dimainkan, kepalanya sesekali menunduk dan tatapannya terlihat kosong. Perasaan bancuh itu tiba dengan cepat seperti serangan vertigo yang keras dan telak.Sore itu, menurutnya, adalah salah satu sore paling mengharukan baginya. Setiap Mukti melagu, dirinya terkenang kembali ingatan purba dari tempat persembunyiannya yang gelap dan bersesakan.

Ada Pentagon yang nyala setelah terbakar (dibakar?), coretan-coretan di dinding himpunan yang lebih absurd dari guratan Basquiat, kenangan menenteng poster-poster protes dan tentang cinta yang tak sampai. Lagu Mukti-Mukti lekat dengan dunia aktivisme kampus dan sering, Mukti hadir di acara-acara kampus untuk memperdengarkan lagu-lagunya ditingkahi dengan gayanya yang nyeleneh. Terkadang, tingkahnya menjadi jenaka, namun seketika mengeras ketika melantangkan lagu seperti “Menitip Mati”.

Konser Musik Cinta Mukti-Mukti telah menginjak usia 31 tahun sejak pertama kali digelar pada tahun 1988. Perjalanan bermusik Mukti-Mukti menjadi bukti konsistensinya dalam mengeksplorasi musik dan imajinasi dalam syair-syairnya. Meskipun mengusung nama Konser Musik Cinta Mukti-Mukti dari tahun ke tahun, namun pada setiap konsernya, Mukti selalu menjamah pengalaman baru baik dari segi instrumen yang digunakan, lirik, komposisi pemusik, dan suasana yang dihadirkan yang menjadi sajian yang menarik bagi penonton.

Seperti konsernya pada 6 Oktober 2019 lalu di Ampitheater Selasar Sunaryo, Mukti mengangkat tema “Titik Renung”, yang berisi 14 komposisi lagu-lagu baru dan lama. Paling saya ingat, lagu “Aku Simpan Air Mata” dan “Aku Hanya Ingin” yang terasa sublim dengan suasana sore Ciburial yang tenang ditingkahi embusan angin sejuk.

Tidak hanya diiringi oleh para musisi seperti Mufid Sururi, Donny Dombis, Ginanjar Satyanagara, Mentari Alpha, Lasma Natalia, Hari Pochang, Joel Tampeng, Trisno Yuwono, Ensemble Tikoro, Re-voice, Mukti juga menghadirkan kelompok vokal SMPN 34 Bandung yang menyanyikan lagu “Langit Tentangmu” yang syairnya dibuat dari hasil workshop Mukti dengan anak-anak SMPN 12 Bandung.

Perempuan itu memberikan tepung tangan paling lama di antara orang-orang yang duduk sejajar dengannya. Sesekali ia meminta untuk membawakan lagu yang ingin ia dengarkan, bersahutan dengan suara penonton lainnya yang juga sama meminta. Lalu petik gitar Mukti perlahan meraba ingatannya kembali, lagi-lagi matanya basah, suara riuh penonton melemah dan perempuan itu kembali termenung.

Tiba-tiba di tengah pertunjukkan seorang pembajak menginterupsi. Dedi Warsana, berkostum ala Jack Sparrow menuruni tangga diiringi Ensemble Tikoro yang melantangkan suara manasuka bersahutan. Perempuan itu seketika tertawa sebagaimana penonton lainnya dan matanya berbinar menyaksikan aksi teatrikal tersebut.

Konser Mukti-Mukti sore itu dapat saya bilang sebagai konser yang paling tertib dibandingkan konser-konser yang pernah saya tonton. Bukan hanya karena musiknya yang kalem tapi perilaku penonton yang tak sungkan untuk merapihkan sendiri sampah-sampah yang dibawanya. Terlebih, penonton hari itu berasal dari hampir semua lapisan usia, anak-anak dan orang dewasa. Sehingga, konser Mukti memberikan wajah yang segar bagi penyelenggaraan konser yang ramah, intim, dan dapat dinikmati oleh semua kalangan.

Konser Mukti tidak sekadar menjadi titik renung, namun juga menjadi titik temu dari handai taulan yang lama tak bertegur sapa. Kiranya konser itu tidak hanya menjadi pemersatu orang-orang yang kangen dengan lagu-lagu Mukti, namun, menjadi pengingat, di atas segala panggung kehidupan, kemanusiaan adalah yang utama seperti yang diutarakan Herry Dim sebagai pengantar romantisme atas perjalan bermusik Mukti yang diselingi oleh cerita politik Indonesia belakangan ini yang memanas. Herry Dim, dengan mata berkaca dan suara yang memberat, berkata, kematian satu orang di tempat mana pun di Indonesia adalah mara.

Hingga kini, Mukti-Mukti memilih menyanyi di tepian, mungkin ia hanya ditonton beberapa puluh atau ratusan pasang mata saja, sebuah kesederhanaan yang langka. Konser 31 tahun perjalanan Mukti-Mukti ditutup dengan lagu “Titik Renung” ketika gelap dan dingin menanjak pelan menuju Selasar. Orang-orang memberi tepuk tangan panjang tapi tidak dengan perempuan itu yang sedari awal pertunjukkan bermurah air mata. Ia hanya terpaku dan sesekali mengusap matanya yang sembap. Mungkin ia belum selesai dengan kerinduannya pada syair Mukti atau mungkin ia merasa kesepian di tengah riuh penonton atau mungkin ia lelah? 31 tahun bukan perjalanan yang mudah, semoga Mukti-Mukti tidak segera lelah.[]

Edi Sutardi

Edi Sutardi

Penulis lepas. Tertarik pada kajian musik, seni, dan perkotaan. Tinggal di Bandung.

All stories by:Edi Sutardi
Leave a Reply

Edi Sutardi

Edi Sutardi

Penulis lepas. Tertarik pada kajian musik, seni, dan perkotaan. Tinggal di Bandung.

All stories by:Edi Sutardi
Privacy Preferences

When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in the form of cookies. Here you can change your Privacy preferences. It is worth noting that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we are able to offer.

Click to enable/disable Google Analytics tracking code.
Click to enable/disable Google Fonts.
Click to enable/disable Google Maps.
Click to enable/disable video embeds.
Our website uses cookies, mainly from 3rd party services. Define your Privacy Preferences and/or agree to our use of cookies.